VIRUS CORONA DI INGGRIS

Tak Hasilkan Manfaat, Inggris Hentikan Uji Coba Obat Anti Malaria Kepada Pasien Covid-19

Uji coba terkait Covid-19 dilakukan Inggris, termasuk dengan melibatkan obat anti-malaria atau hidroksiklorokuin. Namun kini uji cobanya dihentikan.

Kolase reddit.com dan hellosehat.com
ILUSTRASI - para ilmuwan di China temukan obat untuk virus Corona. Obat sejenis dengan itu di Indonesia sendiri digunakan untuk antimalaria. 

TRIBUNBATAM.id, LONDON - Inggris merupakan salah satu negara yang menggelar penelitian untuk menemukan obat atau vaksin virus Corona.

Berbagai uji coba terkait Covid-19 dilakukan Inggris, termasuk dengan melibatkan obat anti-malaria atau hidroksiklorokuin.

Namun kini, Inggris mengumumkan akan menghentikan uji cobanya kepada pasien Covid-19.

Dilansir dari CNN, Jumat (5/6/2020), para peneliti mengumumkan bahwa percobaan pemulihan yang mereka lakukan dengan memasukkan hidroksiklorokuin dalam penelitiannya dinilai tidak menghasilkan manfaat yang diharapkan selama ini.

Adapun percobaan pemulihan yang dimaksudkan adalah percobaan besar yang berbasis di Inggris dengan menyelidiki potensi perawatan virus Corona.

Sementara itu, dalam uji coba lain yang mendaftarkan lebih dari 11.000 pasien dari 175 rumah sakit di Inggris pun akan menghentikan studi ini.

Sejarah Teknologi Layar Sentuh, Ternyata Telah Ditemukan Sejak 1965, Insinyur Asal Inggris Penemunya

"Kami meninjau data dan menyimpulkan bahwa tidak ada bukti efek yang mengutungkan dari hidroksiklorokuin pada pasien yang dirawat di rumah sakit dengan Covid-19 dan memutuskan untuk berhenti mendaftarkan pasien dengan hidroksiklorokuin, dengan efek langsung, dan yang telah ditindaklanjuti pagi ini," ujar Wakil Kepala Penyelidik Persidangan sekaligus profesor di Universitas Oxford, Martin Landray dalam konferensi pers, Jumat (5/6/2020).

Sebagai bagian dari percobaan, 1.542 pasien Covid-19 dipilih secara acak untuk menerima hidroksiklorokuin sebagai pengobatan dibandingkan dengan 3.132 pasien yang menerima perawatan standar yang biasa.

Data menunjukkan bahwa setelah sekitar 28 hari, sebanyak 25,7 persen dari pasien yang menerima hidroksiklorokuin telah meninggal dibandingkan dengan 23,5 persen dari pasien yang menerima perawatan biasa saja.

Landray mengungkapkan, hal tersebut tidak signifikan secara statistik, namun angka tersebut menunjukkan bahwa pemberian hidroksiklorokuin benar-benar tidak ada bukti manfaatnya.

Halaman
1234
Editor: Putri Larasati Anggiawan
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved