ASET BP BATAM

Langkah-langkah BP Batam dalam Mengatasi Masalah Pencemaran Air di Waduk Duriangkang

Diharapkan bisa memenuhi kebutuhan air bagi warga Batam, namun ketersediaan air baku di waduk Duriangkang terancam berbagai pencemaran air.

TRIBUNBATAM.ID/ROMA ULY SIANTURI
Badan Pengusahaan (BP) Batam bersama Pemerintah Kota Batam melaksanakan pembersihan eceng gondok di daerah tangkapan air waduk Duriangkang, Kamis (28/11/2019) pagi. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Waduk Duriangkang adalah salah satu dari tujuh waduk yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan air baku di Kota Batam.

Waduk ini merupakan salah satu yang terbesar dengan kapasitas tampungan air 101,2 juta m³ pada tahun 2014.

Meski diharapkan dapat memenuhi kebutuhan air bagi masyarakat Batam dalam jangka panjang, namun ketersediaan air baku di waduk Duriangkang terancam berbagai persoalan pencemaran air.

Mulai dari kontaminasi limbah organik rumah tangga, waduk Duriangkang juga terancam mengalami sedimentasi akibat aktivitas penambangan pasir ilegal di sekitar waduk, serta perusakan area tangkapan air, yakni kebakaran hutan.

Guna mengatasi permasalahan tersebut, BP Batam telah mengadakan beberapa rencana pembangunan dan pengadaan.

Pertama, untuk mengatasi air waduk bercampur dengan lumpur, maka telah dipasang pengendap sedimen (sediment trap) yang berfungsi mengumpulkan dan memindahkan partikel-partikel pasir dan lumpur.

Kedua, pemasangan trash rack juga berguna sebagai penyaring air dari sampah atau puing-puing yang terbawa aliran menunu waduk.

STTR ini telah dipasang di drainase yang berlokasi di depan Kepri Mal dan Perumahan Duta Mas.

Ketiga, saat ini tengah dikembangkan teknologi Ecotech Garden (EGA), yakni penanaman tanaman air seperti melati air dan lotus yang dapat berfungsi mengikat polutan (BOD, COD, N, P, K Deterjen) yang terkandung dalam air.

Keempat, guna menahan puing-puing dan sampah mengambang di area waduk, juga dipasang floating barrier.

Sebagai salah satu benda mengapung di atas air, keberadaan eceng gondok juga menjadi salah satu yang menganggu.

Untuk itu, telah dipersiapkan mesin harvester yang berguna membersihkan gulma eceng gondok yang tersebar di sekitar waduk Duriangkang.

Menurut Direktur Badan Fasilitas dan Lingkungan BP Batam, Binsar Tambunan, gulma eceng gondok yang tumbuh subur di area perairan waduk mengindikasikan tingkat pencemaran air di dalam waduk tersebut cukup tinggi.

"Eceng gondok ini sebenarnya membantu mengikat polutan dan kandungan logam berat di air, jadi kalau waduk banyak ditumbuhi eceng gondok, maka itu berarti airnya sudah tercemar," ujar Binsar.

Selain pemasangan berbagai teknologi STTR, floating barrier, dan mesin harvester tersebut, pihak pengamanan fasilitas dan lingkungan BP Batam juga telah melaksanakan kegiatan pengendalian dan penertiban bangunan/aktivitas ilegal di daerah tangkapan air (catchment area). (adv)

Editor: Tri Indaryani
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved