Rabu, 3 Juni 2026

Kesulitan Proyek Hujan Buatan di Batam, Bersamaan Musim Hujan dan Area Sempit

Namun karena kurang akurat dan bersamaan transisi musim, hujan buatan itu bukan tercurah di area resapan waduk Mukakuning dan Sei Ladi, melainkan di

Tayang:
Editor: Eko Setiawan
TRIBUNBATAM.id/BERES LUMBANTOBING
Setelah diguyur hujan, Jumat (25/4/2020) jalanan di Sagulung Batam terendam air dan membuat pengendara yang lewat harus berhati-hati. 
TRIBUNBATAM.id, BATAM - Curah hujan skala sedang memicu Banjir, dan tanah longsor parsial di Pulau Batam, sepekan terakhir.
Warga menduga, hujan di awal musim kemarau ini, dipicu teknologi hujan buatan "salah sasaran."
Spot hujan dengan teknologi modifikasi cuaca ini sejatinya di areal waduk.
Namun karena kurang akurat dan bersamaan  transisi musim, hujan buatan itu bukan tercurah di area resapan waduk Mukakuning dan Sei Ladi, melainkan di pemukiman urban.
Pihak BP Batam, selaku pengorder hujan, akhir pekan lalu sudah membantah "hujan salah sasaran" itu.
Bagaimana proyek itu. 
Berikut penjelasan terpisah dari Pelaksana Harian Kepala BBTMC, Jon Arifian  dan Koordinator TMC-BPPT Posko Batam Budi Harsoyo yang dirangkum Tribun.
Proyek hujan buatan atau teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Kota Batam ini adalah inisiatif Badan Pengelolaan Batam. 
Sementara pelaksana teknis proyek berdurasi sebulan ini adalah BPPT. 
Sebelumnya, proyek serupa juga dilaksanakan BPPT di Provinsi Riau dan sebagian wilayah Sumatera, Sumsel, Jambi dan sebagian utara Sumatera. 
Proyek 2019 ini untuk menangani dampak kebakaran hutan dan lahan (kahutla). 
Di Batam, inilah kali pertama TMC diterapkan. Dengan wilayah pulau yang luas, dan bersamaan transisi musim hujan, proyek ini kian menantang.
Berdasarkan hasil analisis data curah hujan Tropical Rainfall Measuring Mission (TRRM) yang dihitung oleh Tim Posko TMC selama tujuh hari operasi berlangsung, total volume air hujan yang jatuh di dalam wilayah tangkapan Waduk Duriangkang capai 32,1 juta meter kubik.
Posko TMC pantau Waduk Duriangkang dan Waduk Sei Ladi telah mengalami kenaikan elevasi TMA, masing-masing setinggi 8 cm dan 3 cm.
Sesuai kontrak, pelaksanaan TMC di Pulau Batam direncanakan berlangsung selama 30 hari, mulai 10 Juni hingga 11 Juli 2020.
Di sisa waktu ke depan, masih terdapat potensi cuaca yang dapat dioptimalkan untuk menambah ketersediaan air waduk-waduk lainnya di Pulau Batam.
Koordinator TMC-BPPT Posko Batam Budi Harsoyo mengatakan operasi TMC di daerah tangkapan air di Batam ini merupakan operasi tersulit.
Catchment' area Waduk Duriangkang yang menjadi target utama operasi TMC di Pulau Batam hanya seluas 75,18 km2, sempit sekali,.
Karenanya, tim harus memanfaatkan 'window of opportunity' yang singkat.
Budi mengaku, pekerjaan ini sangat sulit karena Batam memiliki topografi berupa dataran rendah dengan variasi perbukitan di tengah hingga selatan pulau. Batam juga merupakan pulau kecil sehingga menjatuhkan dengan tepat hujan buatan di atas Batam merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi tim BPPT.
Akurasi waktu jadi penentu. Terlambat 10 menit saja, kami sampai ke awan target yang akan disemai, dengan pesawat dan helikopter hasil hujannya bisa jatuh di luar 'catchment' dan tidak memberikan hasil apa-apa bagi inflow di waduk target.
Untuk proyek ini,tiap hari tim menggelar briefing dan evaluasi. 
Hujan buatan dengan menyemai garam di awan dengan bahan semai berbentuk flare hygroskopic ICE chrystal atau biasa dikenal dengan kembang api.
Bahan semai berbentuk flare dipasang pada bagian sayap ataupun bawah pesawat. 
Partikel bahan semai masuk ke dalam awan jika flare terbakar.
Metode penyemaian dengan flare ini dinilai lebih efektif daripada metode penyemaian dengan tabur garam dari belakang pesawat.
Metode flare lanjutnya, menggunakan garam yang dipercikkan melalui semacam suar yang dipasang pada pesawat. Kemudian, flare dinyalakan di dalam atau di bawah dasar awan.
Flare lebih efektif karena dapat mengangkut lebih banyak garam. 
==
Proyek Hujan Buatan  di Pulau ‘Beriklim Labil’
Karakteristik iklim batam
Berada di dua pulau besar; Sumatera dan Semenanjung Melaka, secara umum iklim dan cuaca Batam labil.  Formasi Tanah Merah (Goungon, aluvium, granit) dan formasi duriangkang.  Jenis yang sulit menyimpan air tanah. Pasokan air baku amat tergantung sumber air permukaan (hujan, dam, dan aliran sungai kecil)
Musim Hujan:  November - April 
Musim Kemarau:  Mei - Oktober
Wilayah tropis suhu rerata 24 -  35 o Celcius 
Kelembaban: 73% hingga 96%. 
Rata-rata curah hujan tahunan: + 2.600 mm/tahun .
====
Nama Resmi: Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC)
Inisiator: Badan Pengusahaan (BP) Batam
Pelaksana Teknis: Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) 
Durasi Kontrak: 30 Hari (10 Juni hingga 11 Juli 2020
Tujuan: Atasi krisis air Batam dan menaikkan debit air baku konsumsi 1,1 juta warga Batam
Target:  Waduk Duriangkang dan Waduk Sei Ladi
Cathcing Area: 75,18 km2
Progres: 2 pekan pertama: 
+ Volume hujan ke kota Batam 32,1 juta m3 di area tangkapan 
+ Dam Duriangkang naik 8,2 cm dan Waduk Sei Ladi naik 3 cm
#Hujan buatan dengan menyemai garam di awan dengan bahan semai berbentuk flare hygroskopic ICE chrystal atau biasa dikenal dengan kembang api.
Bahan semai berbentuk flare dipasang pada bagian sayap ataupun bawah pesawat. 
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved