BATAM TERKINI

Penyidik Dittipidsiber Polda Kepri Serahkan 'Otak' Kasus Pencurian Data PT Hi Test ke Kejati Kepri

Slamat diduga terlibat tindak pidana turut serta atau bekerja sama mentransfer dokumen perusahaan PT Hi Test Batam Centre.

TribunBatam.id/Zabur Anjasfianto
PELIMPAHAN - Penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri, menyerahkan tersangka Slamat Santoso alias Andreas Lambono (kemeja biru) beserta barang bukti ke JPU Kejati Kepri di Kantor Kejari Batam, Senin (28/6/2020). 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Ditreskrimsus Polda Kepri menyerahkan tersangka Slamat Santoso alias Andreas Lambono beserta barang bukti ke Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi ( Kejati) Kepri di Kantor Kejaksaan Negeri ( Kejari) Batam.

Slamat diduga terlibat tindak pidana turut serta atau bekerja sama mentransfer dokumen perusahaan PT Hi Test Batam Centre.

Ia merupakan kasus yang dipisahkan (split) yang sudah diputuskan Pengadilan Negeri (PN) Batam dengan terdakwa Mulya Dwi Wulandari.

Penyerahan tersangka dan barang bukti diserahkan penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri ini diterima oleh Zulkarnaen dan rekannya dari JPU Kejati Kepri.

PN Batam telah menvonis terdakwa Mulya Dwi Wulandari, mantan karyawan PT Hi Test, Batam Centre dengan hukuman 9 bulan serta denda Rp 1 Miliar subsider 1 bulan kurungan penjara dipotong masa tahanan.

Seperti diketahui, majelis hakim terdiri Ketua Majelis Hakim Jasael, hakim anggota Muhammad Chandra, dan hakim anggota Efrida Yanti menyatakan perbuatan terdakwa Mulya Dwi Wulandari terbukti dengan sengaja tanpa hak atau melawan hukum dengan cara apapun memindahkan atau mentransfer, informasi elektronik dan, atau dokumen elektronik kepada sistem elektronik orang lain yang tidak berhak.

"Karena tempat perkaranya di Batam, Kejati Kepri melimpahkan ke Kejari Batam. Karena sudah P-21 dan sudah dilimpahkan, tugas kami selesai. Selanjutnya kewenangan Kejari," ujar penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri, Senin (28/6/2020).

Dalam dakwaan JPU, pada kurun waktu Oktober sampai November 2018, Slamat Santoso alias Andreas Lambono mengajak terdakwa Mulya Dwi Wulandari bertemu di kantor Slamat di Palm Spring, Kota Batam dan meminta terdakwa untuk membawa Curiculum Vitae (CV) dan sertifikat dengan tujuan merekrut terdakwa sebagai karyawan di perusahaan Slamat.

Selanjutnya terdakwa dan Slamat intensif melakukan percakapan menggunakan handphone masing-masing.

Lalu Slamat meminta agar terdakwa mengirimkan daftar peralatan PT Hi-Test.

Lion Air Kurangi Karyawan, Tak Perpanjang Kontrak Pekerja Habis Masa Kerja, Bantah ada PHK

Rencana Penyelenggaraan Liga 3 November 2020, Asprov PSSI Kepri Tunggu Surat Resmi PSSI Pusat

Terdakwa mengambil foto-foto peralatan laboratorium milik PT Hi-Test dan memindahkan file atau dokumen dari komputer laboratorium PT Hi-Test ke handphone terdakwa.

Selanjutnya, terdakwa mengirimkan ke handphone Slamat melalui aplikasi WhatsApp (WA).

Perbuatan terdakwa terbukti melanggar pasal 48 Ayat (2) Jo 32 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Jo Pasal 55 Ayat (1) Ke-1 KUHPidana.

Sesuai petunjuk P-21 jaksa, ungkap penyidik Dittipidsiber Ditreskrimsus Polda Kepri, Slamet diduga memenuhi Pasal 55 ayat (1) KUHP mengatur tentang penyertaan dalam tindak pidana.

Pelaku tindak pidana bukan saja orang yang benar-benar melakukan, tetapi juga mereka yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan pidana.(TribunBatam.id/Zabur Anjasfianto)

Penulis: Zabur Anjasfianto
Editor: Septyan Mulia Rohman
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved