Selasa, 19 Mei 2026

TRIBUN WIKI

Sejarah Pengobatan Kemoterapi, Jadi Cara Andalan Obati Kanker

Kemoterapi yang berkembang pada awal abad ke 20 mulanya tidak dilakukan untuk mengobati penyakit kanker.

Tayang: | Diperbarui:
Kompas.com
Ilustrasi pengobatan kemoterapi - Mengenal sejarah pengobatan kemoterapi. 

TRIBUNBATAM.id - Salah satu jenis pengobatan yang paling penting untuk menangani penyakit kanker adalah kemoterapi.

Metode pengobatan ini dilakukan dengan cara memasukkan obat-obatan ke dalam tubuh untuk membunuh sel kanker.

Dengan kemoterapi, pengobatan untuk penyakit kanker tidak perlu dilakukan dengan proses pembedahan atau operasi.

Itulah sebabnya, tak sedikit penderita kanker yang memilih melakukan kemoterapi ketimbang operasi untuk menghindari risiko pembedahan.

Kendati demikian, banyak kasus kanker di mana penderita tetap harus melakukan kemoterapi meski sel kanker tersebut telah diangkat melalui operasi.

Hal ini dilakukan untuk memastikan supaya sel kanker betul-betul terangkat dan bersih dari dalam tubuh.

Sejarah pengobatan kemoterapi

Metode ini berkembang pada awal abad ke 20.

Pada awal pengembangannya, kemoterapi tidak dilakukan untuk mengobati kanker, melainkan untuk  menghentikan pertumbuhan sel-sel darah putih yang membelah dengan cepat.

Melansir News Medical Life Science, selama Perang Dunia II, orang-orang yang terkena nitrogen mustard, sel-sel darah putih dalam tubuhnya berkurang secara signifikan.

Selanjutnya, temuan ini mengarahkan para peneliti untuk menyelidiki apakah agen mustard ini dapat digunakan untuk menghentikan pertumbuhan sel yang membelah dengan cepat, seperti kanker.

Pada tahun 1940-an, dua ahli farmakologi dari Yale, Alfred Gilman dan Louis Goodman meneliti efek terapi agen mustard ini dalam mengobati limfoma, yakni kanker yang disebabkan mutasi pada DNA sel-sel limfosit atau sel darah putih.

Uji coba dilakukan pertama-tama dengan memberi limfoma pada tikus dan menunjukkan bahwa agen tumor dapat diobati dengan agen mustard.

Selanjutnya, bersama ahli bedah toraks yakni Gustav Lingkog, Gilman dan Goodman menyuntikkan gas mustard yang tidak mudah menguap yang disebut mustine (nitrogen mustard) ke pasien yang menderita limfoma non-hodgkin.

Para ilmuwan kemudian menemukan bahwa massa tumor pasien berkurang secara signifikan, selama beberapa minggu setelah perawatan ini.

Mengenal 3 Jenis Nyamuk Penyebar Mosquito borne Disease

Warga Dengar Suara Benturan Keras, Laka Tunggal di Depan Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah Batam

Kendati pasien tersebut harus kembali menerima lebih banyak kemoterapi, namun ini menandai awal penggunaan agen sitotoksik untuk pengobatan kanker.

Studi awal dilakukan pada tahun 1943 dan hasilnya dipublikasikan pada tahun 1946.

Istilah kemoterapi diberikan kimiawan Jerman

Penggunaan istilah kemoterapi, seperti dikutip dari jurnal American Association for Cancer Research (AACR), pertama kali diciptakan oleh Paul Ehrlich, seorang ahli kimia yang terkenal asal Jerman pada awal 1990-an.

Kontribusi Ehrlich terhadap bidang sains medis telah menjadi dasar berbagai penemuan dan teknologi yang berkembang saat ini.

Istilah kemoterapi didefinisikan Ehrlich sebagai penggunaan bahan kimia untuk mengobati penyakit.

Bahkan, dia juga yang pertama kalinya mendokumentasikan keefektifan dalam menyaring serangkaian bahan kimia untuk melawan penyakit menggunakan model hewan.

Sebuah prestasi yang memiliki konsekuensi besar bagi pengembangan obat kanker.

Kendati demikian, pembedahan dan radioterapi mulai mendominasi bidang terapi kanker hingga tahun 1960-an.

Terapi ini kemudian mendorong berkembangnya pengobatan lokal radikal, karena adanya mikrometastasis yang sebelumnya tidak dihargai.

Namun, seiring dengan perkembangan sains medis dalam upaya pengobatan kanker, kombinasi kemoterapi ternyata memberi harapan besar akan peluang kesembuhan pasien kanker.(Tribunbatam.id/Widi Wahyuning Tyas) (Kompas.com)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penemuan yang Mengubah Dunia: Bukan Sebagai Pengobatan Kanker, Kemoterapi Dulu untuk ini...". 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved