Kamis, 14 Mei 2026

Solusi Masalah Kekeringan dan Banjir di Batam, Rahma Dewi Kenalkan Konsep Sponge City

Menurut Dewi, diperlukan sebuah sistem yang dapat memaksimalkan penampungan air di Batam di saat hujan datang.

Tayang:
Editor: Dewi Haryati
TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA
Rahma Dewi, praktisi di bidang pengolahan air atau water spesialist. Dewi mengenalkan konsep Sponge City 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Permasalahan banjir sudah tidak asing lagi di Indonesia. Beberapa kota besar seperti DKI Jakarta, Bekasi, Tangerang, Mojokerto, Brebes, Muara Enim, Lampung selalu menjadi langganan banjir di kala musim hujan datang. Buruknya tata letak kota serta sistem drainase di kota tersebut menjadi salah satu penyebabnya.

Bagaimana dengan Batam? Beberapa minggu lalu kota yang dikenal dengan kota sejuta ruko ini juga mengalami hal yang sama. Tingginya curah hujan menyebabkan sistem drainase di beberapa titik tidak dapat menampung jutaan galon air yang jatuh, ditambah daerah resapan air yang mulai berkurang menyebabkan banjir di beberapa perumahan warga serta jalan raya.

Hal ini menjadi perhatian serius dari Rahma Dewi, seorang praktisi di bidang pengolahan air atau water spesialist. Dengan adanya aturan larangan sumur bor di Batam menyebabkan sumber air bersih saat ini bergantung dari air hujan. Makanya menurut Dewi, diperlukan sebuah sistem yang dapat memaksimalkan penampungan air di saat hujan datang.

“Aturannya sudah tepat mengingat Batam hanya pulau Kecil,“ ujar Dewi.

Sebagai pemilik dan juga karyawan di PT. Piwar Teknologi Indonesia, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan air limbah, membuat Dewi paham benar dengan tantangan yang akan dihadapi Batam kedepan. Menurutnya, konsep Sponge City dapat dijadikan solusi dalam penanganan masalah kekeringan dan banjir di Batam.

Dewi mengungkapkan bahwa konsep Sponge City saat ini menjadi tren di berbagai kota besar di dunia dalam menyelesaikan masalah banjir, seperti Kota Wuhan, Chongqing dan Xiamen adalah kota besar yang masuk dalam 16 kabupaten di China yang menjadi pilot project konsep Sponge City atau yang biasa mereka sebut dengan istilah Low Impact Development (LID).

Sponge City artinya menahan air untuk tidak terbuang percuma dan dapat digunakan kembali.

"Mengapa kita mengambil contoh ke China? Karena China melakukan konsep ini saat negara meraka masih sebagai negara berkembang. Konsep LID atau sponge city ini pada awalnya hanya mencakup bagaimana mengelola air hujan dalam skala kecil yang hanya dilakukan di lokasi hujan atau daerah tangkapan hujan.

Namun pada tahun 1980 di Prince Gorge’s County, Maryland diperkenalkan pengembangan konsep Bioretensi yang kemudian dikembangkan dan menjadi bagian dari sistem LID," ujarnya.

Teknologi LID di dalam mengelola air hujan ialah mempertahankan kondisi hidrologi suatu daerah yang dikembangkan sama dengan kondisi hidrologi awal daerah tersebut pada saat sebelum dikembangkan. Usaha yang perlu dilakukan adalah mempertahankan dan meningkatkan intensitas infiltrasi, penyaringan, penampungan, penguapan serta tahanan limpasan permukaan.

Di Indonesia, penelitian pemanfaatan teknologi LID juga sedang dilakukan di Balai Sungai BALITBANG PU untuk mengkaji efektifitas aplikasi LID di suatu pembangunan komplek perumahan. Konsep hidrologi yang diterapkan dalam teknologi LID adalah penggunaan retensi dan detensi air hujan, mengurangi luas daerah kedap, dan memperpanjang alur pengaliran dan waktu pengaliran.

Selanjutnya Dalam perjalanan panjang akhirnya LID di kemas dalam bentuk 5 elemen yaitu;

1. Konservasi hutan
2. Kontrol air pada skala kecil
3. Perancangan sesuai lokasi
4. Perbaikan sistem aliran air hujan ke lahan basah (wetland)
5. Pemeliharan yang meliputi peran masyarakat

Penerapan lima eleman diatas akan menjadi tantangan saat berhadapan dengan kondisi sosial lingkungan perkotaan, pertambahan jumlah penduduk, sistem peruntukan lahan, dan ketegasan pemerintan, namun semua konsep ini akan sangat mudah dilakukan jika diikuti peran serta dukungan dari masyarkat dan tentunya good government.

Untuk Batam, Dewi menyarankan untuk memperbaiki sistem drainase serta tata letak kota terlebih dahulu. Karena dua poin tersebut dapat dijadikan tahap awal dalam mengimplementasikan konsep Sponge City.

Dewi juga berharap agar rumah tapak (Landed House) dihentikan saja agar terdapat ruang/tempat untuk penampungan/resapan air. (*)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved