TRIBUN WIKI
Dikembangkan untuk Hadapi Wabah Tahun 1910, Simak Sejarah Penemuan Hazmat
Alat pelindung diri (APD) adalah benda penting yang harus dikenakan petugas medis dalam menangani pasien Covid-19, termasuk hazmat.
TRIBUNBATAM.id - Alat pelindung diri (APD) adalah benda penting yang harus dikenakan petugas medis dalam menangani pasien Covid-19.
APD akan melindungi pemakainya dari paparan virus menular.
Salah satu pakaian yang termasuk bagian dari APD adalah hazmat.
Mungkin banyak dari kita yang baru mengenal hazmat sejak virus corona merebak.
Lantas, dari mana sebenarnya setelan pakaian hazmat ini?
Sejarah penemuan hazmat
Sebelum ada pakaian hazmat, ada kulit minyak dan pomanders berbau harum yang dijadikan bahan untuk pembuatan topeng dari kain muslin.
Pada awal tahun 1600-an, sebuah lukisan menunjukkan penggali kubur mendekati mayat yang terkena wabah dengan menutup mulut dan hidungnya dengan saputangan.
Praktek-praktek ini tidak selalu untuk melawan penularan seperti yang kita pahami.
Sebab, saat itu diyakini penyakit berasal dari tanah dalam bentuk gas.
Dokter-dokter di Venesia di abad ke-17, menggunakan kostum yang ikonik di masa itu, lengkap dengan topeng paruh.
Ini diyakini menjadi upaya paling awal yang dilakukan oleh tenaga medis untuk melindungi diri mereka selama wabah pes di masa itu.
Seorang dokter Perancis, Charles de Lorme yang menampilkan mantel kulit panjang dengan paruh berisi bawang putih dan rue.
Selanjutnya, pakaian itu dikenal sebagai setelan hazmat permanen dan sayangnya itu mungkin memperburuk keadaan.
Setelan hazmat permanen tanpa protokol pembersihan dan desinfektan akan menjadi vektor penyakit.
Ilmuwan Rusia kemudian merancang prototipe hazmat untuk menangani wabah yang berkembang di Volga pada tahun 1870-an.
Pakaian yang dirancang itu bertujuan mencegah gas imajiner mencapai hidung.
Ada sejarah panjang dari alat pelindung diri (APD), tetapi bukan dari wabah atau penyakit dari bakteri.
Hazmat modern di tengah wabah ebola
Asal usul hazmat modern dikembangkan saat wabah Manchuria merebak di tahun 1910.
Saat itu, dokter Wu Lien-teh, memiliki teori bahwa wabah itu menyebar di udara seperti flu.
Dr Wu Lien-teh bersikeras agar semua dokter, perawat dan staf pemakaman memakai topeng kasa sederhana yang dirancangnya.
Awalnya, dokter Wu diejek oleh rekan-rekannya, tetapi ketika seorang dokter Perancis yang terkenal mengoperasi tanpa topeng untuk membuktikan pendapatnya salah, dokter tersebut akhirnya meninggal beberapa hari kemudian.
Setelah itu, anggapan tentang masker kasa rancangannya berubah dan Wu telah menyelamatkan hidup yang tak terhitung.
Pandemi flu Spanyol di tahun 1918, masker adalah hal biasa.
Memasuki abad ke-20, sektor kimia dan nuklir mengembangkan pakaian hazmat modern, dengan versi medis yang mulai digunakan secara luas selama wabah ebola pada tahun 1990-an.
Sejak itu, pakaian hazmat kian populer, bahkan menjadi plot penting dalam setiap produksi film yang menampilkan penyebaran wabah penyakit.
Ahli epidemiologi adalah pahlawan budaya yang menarik.
Mereka bagian dari detektif, berusaha menemukan pasien atau hewan dan mencari dari mana penyakit berasal.
Tetapi mereka juga seseorang yang berjanji untuk memulihkan masyarakat.
Pada tahun 2015, para peneliti di Johns Hopkins University mendesain ulang setelan hazmat agar pakaian ini dapat lebih mudah dan aman saat dipindahkan.
Selain menyederhanakan ritsleting dan meningkatkan sistem pendingin, mereka menciptakan lebih banyak transparansi di sekitar wajah.
Kendati demikian, pakaian ini belum digunakan secara luas.
Para peneliti menilai dengan mengurangi transparansi pada wajah akan memberi manfaat lain, saat petugas medis merawat pasiennya.
Pada tingkat dasar, peneliti mengatakan seorang pekerja medis yang wajahnya dikaburkan dapat memiliki efek dehumanisasi.
Pasien menyadari bahwa mereka bukan lagi hanya manusia, tetapu suatu vektor penyakit.
Kini, setelah pakaian hazmat menjadi alat penting untuk mempersenjatai para petugas medis maupun staf pemakaman dalam melawan wabah Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona baru yang kini telah menginfeksi jutaan orang di dunia.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Penemuan yang Mengubah Dunia: Hazmat dari Kostum Paruh hingga Pelindung dari Ebola dan Corona".
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/13-2-2020-virus-corona.jpg)