Breaking News:

Inggris, Kanada dan Amerika Serikat Tuding Rusia Retas Informasi Vaksin Covid-19

Inggris, Amerika Serikat dan Kanada melaporkan usaha pencurian informasi vaksin Covid-19 oleh Rusia. Berikut penjelasan dari para pejabat negaranya.

Istimewa
ILUSTRASI - Amerika Serikat hingga Inggris ramai-ramai tuduh Rusia retas data vaksin Covid-19. 

Dikutip dari CNN, Selasa (14/7/2020) dalam penelitian itu menunjukkan respon Antibodi dapat menurun setelah gejala Covid-19.

Antibodi adalah protein yang dibuat oleh tubuh untuk melawan infeksi.

"Kami menunjukkan respons pengikatan IgM dan IgA menurun setelah 20-30 hari," tulis peneliti dari berbagai lembaga penelitian di Inggris.

Peneliti juga mengungkapkan telah menemukan bahwa keparahan gejala Covid-19 dapat menentukan besarnya respons Antibodi.

Studi baru tersebut menganalisis sampel yang dikumpulkan dari 65 pasien Covid-19 yang dikonfirmasi hingga 94 hari setelah mulai menunjukkan gejala.

Selain itu, sebanyak 31 petugas kesehatan dengan tes Antibodi setiap satu hingga dua minggu, antara Maret dan Juni.

Secara umum, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, setidaknya dibutuhkan satu hingga tiga minggu setelah infeksi bagi tubuh dapat membuat Antibodi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah sejak awal pandemi, memperingatkan orang yang pernah terinfeksi Covid-19, belum tentu akan kebal dan tidak akan terkena virus lagi.

Dampaknya pada vaksin Covid-19

Kendati demikian, studi baru memiliki beberapa keterbatasan, termasuk penelitian lebih lanjut yang diperlukan untuk menentukan hasil yang sama dari penelitian sebelumnya.

"Studi ini memiliki implikasi penting, saat mempertimbangkan perlindungan terhadap infeksi ulang SARS-CoV-2 dan daya tahan perlindungan vaksin yang dibuat," jelas para penulis penelitian ini.

Stephen Griffins, asisten profesor di University of Leeds School of Medicine, Inggris mengatakan penelitian sangat penting, kendati belum ditinjau oleh rekan sejawat.

Griffins yang tidak terlibat dalam penelitian ini mengatakan pekerjaan tersebut menegaskan respons Antibodi pelindung pada pasien yang terinfeksi SARS-CoV-2, tampak berkurang dengan cepat.

"Sementara lebih lama bertahan pada mereka yang memiliki penyakit lebih parah, ini masih hitungan bulan," kata Griffins dalam pernyataannya yang didistribusikan oleh Science Media Centre yang berbasis di Inggris.

Pengembangan vaksin, kata dia, perlu menghasilkan perlindungan yang lebih kuar dan lebih tahan lama dibandingkan dengan infeksi alam.

Hingga Senin (13/7/2020), WHO melaporkan ada 23 kandidat vaksin Covid-19 yang sedang dalam tahap evaluasi klinis secara global.

Dr. Mala Maini, profesor imunologi virus dan dokter konsultan di University College London di Inggris menambahkan sel B menghasilkan Antibodi untuk menetralkan mikroba infeksius, seperti virus.

Sedangkan sel T menyerang infeksi secara langsung dan membantu mengendalikan respons imun.

Ketika seseorang sebelumnya telah terinfeksi, sel-sel itu mungkin mengingat infeksi dan meningkatkan respon imun, yang mengarah pada infeksi ulang yang mungkin tidak parah daripada yang lain.

"Penelitian ini memperkuat pesan bahwa kita tidak dapat berasumsi seseorang yang telah memiliki Covid-19 tidak bisa mendapatkannya lagi hanya karena mereka awalnya menjadi Antibodi positif," kata Maini, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

(*)

Hasil Liga Inggris - West Ham Bungkam Watford 3-1, Poin Penting Jauhi Zona Degradasi

Jadwal Liga Inggris Pekan 37 - Liverpool vs Chelsea, Tottenham Hotspur vs Leicester City

Dampak Covid-19, Dua Perusahaan Media di Inggris Umumkan PHK 250 Karyawan

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "AS, Inggris, Kanada Ramai-ramai Tuduh Rusia Retas Data Vaksin Covid-19".

Editor:
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved