Selasa, 9 Juni 2026

Minus 5,3 Persen, Benarkah Indonesia Resesi Ekonomi? Begini Pandangan Pakar

Badan Pusat Statistik ( BPS ) mencatat ekonomi Indonesia kuartal II-2020 minus 5,3 persen. Benarkah masuk resesi?

Tayang:
Foto: DOK HUMAS BPS)
Kepala BPS Suhariyanto dalam pengumuman inflasi Juni 2020, Rabu (1/7) di Gedung BPS Pusat Pasar Baru. Berdasarkan perhitungan BPS, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2020 tercatat negatif 5,32% yoy.. 

Editor: Agus Tri Harsanto

TRIBUNBATAM.id - Badan Pusat Statistik ( BPS ) mencatat ekonomi Indonesia kuartal II-2020 minus 5,3 persen. Benarkah masuk resesi?

Dibandingkan kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 juga terkontraksi alias minus 4,19%.

Pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia masih berhasil tumbuh positif 2,97% yoy.

Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I 2020 terkontraksi 1,26% year on year.

"ini karena dampak Covid-19 yang begitu dahsyatnya sehingga ekonomi Indonesia terkontraksi pada kuartal II-2020," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/8).

Suhariyanto menjelaskan, Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku tercatat sebesar Rp 3.687,7 triliun.

Sementara PDB berdasarkan harga konstan tahun dasar 2010 sebesar Rp 2.589,6 triliun. 

HARGA EMAS ANTAM HARI INI - Naik Rp 19.000 Menjadi Rp 1.048.000 per Gram

Sementara itu, bila dibandingkan dengan kuartal I-2020, perekonomian pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi 4,19% secara qtq.

 "Pergerakan kontraksi memang cukup dalam karena adanya pandemi Covid-19 yang luar biasa buruknya," kata Kepala BPS Suhariyanto, Rabu (5/8) via video conference. 

Suhariyanto kembali menegaskan, kalau Covid-19 ini bagai badai yang memberikan efek domino.

Awalnya, memang pandemi ini menyerang masalah kesehatan, akan tetapi ini juga menimbulkan masalah sosial, lalu merembet ke masalah ekonomi, dan dampaknya menghantam seluruh lapisan masyarakat. 

"Mulai dari rumah tangga, lalu ke UMKM, dan bahkan hingga tingkat korporasi," tambahnya. 

Dampak Covid-19

Suhariyanto juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi ini juga tak lepas dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19 seperti lockdown dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). 

Akan tetapi, pemerintah dan otoritas terkait juga telah memberikan stimulus dan berupaya mati-matian untuk mempertahankan agar denyut ekonomi berjalan dan pemulihan baik dari sisi kesehatan dan ekonomi bisa berjalan seimbang walau memang tidak mudah. 

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved