Minus 5,3 Persen, Benarkah Indonesia Resesi Ekonomi? Begini Pandangan Pakar
Badan Pusat Statistik ( BPS ) mencatat ekonomi Indonesia kuartal II-2020 minus 5,3 persen. Benarkah masuk resesi?
Editor: Agus Tri Harsanto
TRIBUNBATAM.id - Badan Pusat Statistik ( BPS ) mencatat ekonomi Indonesia kuartal II-2020 minus 5,3 persen. Benarkah masuk resesi?
Dibandingkan kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi di kuartal II 2020 juga terkontraksi alias minus 4,19%.
Pada kuartal I-2020, ekonomi Indonesia masih berhasil tumbuh positif 2,97% yoy.
Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi Indonesia di semester I 2020 terkontraksi 1,26% year on year.
"ini karena dampak Covid-19 yang begitu dahsyatnya sehingga ekonomi Indonesia terkontraksi pada kuartal II-2020," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (5/8).
Suhariyanto menjelaskan, Produk Domestik Bruto (PDB) berdasarkan harga berlaku tercatat sebesar Rp 3.687,7 triliun.
Sementara PDB berdasarkan harga konstan tahun dasar 2010 sebesar Rp 2.589,6 triliun.
• HARGA EMAS ANTAM HARI INI - Naik Rp 19.000 Menjadi Rp 1.048.000 per Gram
Sementara itu, bila dibandingkan dengan kuartal I-2020, perekonomian pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi 4,19% secara qtq.
"Pergerakan kontraksi memang cukup dalam karena adanya pandemi Covid-19 yang luar biasa buruknya," kata Kepala BPS Suhariyanto, Rabu (5/8) via video conference.
Suhariyanto kembali menegaskan, kalau Covid-19 ini bagai badai yang memberikan efek domino.
Awalnya, memang pandemi ini menyerang masalah kesehatan, akan tetapi ini juga menimbulkan masalah sosial, lalu merembet ke masalah ekonomi, dan dampaknya menghantam seluruh lapisan masyarakat.
"Mulai dari rumah tangga, lalu ke UMKM, dan bahkan hingga tingkat korporasi," tambahnya.
Dampak Covid-19
Suhariyanto juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi ini juga tak lepas dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai Covid-19 seperti lockdown dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Akan tetapi, pemerintah dan otoritas terkait juga telah memberikan stimulus dan berupaya mati-matian untuk mempertahankan agar denyut ekonomi berjalan dan pemulihan baik dari sisi kesehatan dan ekonomi bisa berjalan seimbang walau memang tidak mudah.
Dengan perkembangan tersebut, BPS juga mencatat kalau pertumbuhan ekonomi Indonesia di sepanjang semester I-2020, mengalami pertumbuhan minus 1,26%.
Benarkah resesi?
Kendati pertumbuhan ekonomi Indonesia terkontraksi dalam di kuartal II-2020, namun bukan berarti sudah memasuki resesi. Sebab, resesi terjadi jika pertumbuhan ekonomi negatif di dua kuartal berturut-turut.
Pada kuartal I-2020 ekonomi Indonesia tercatat tumbuh positif sebesar 2,97 persen, meski melambat bila dibandingkan kuartal IV-2019 yang tumbuh 4,97 persen.
"Walaupun mengalami pertumbuhan minus pada kuartal II-2020, tetapi kita secara formal belum disebut resesi. Definisi resesi terjadi ketika pertumbuhan ekonomi negatif dua kuartal berturut-turut," ungkap Direktur Riset Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah kepada Kompas.com, Rabu (5/8/2020).
Ia menekankan, Indonesia akan resmi masuk jurang resesi jika pertumbuhan ekonomi kembali negatif di kuartal III-2020. Saat ini, CORE sendiri memperkirakan ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh negatif 3-4 persen di kuartal III-2020,
"Jadi kita baru disebut mengalami resesi, nanti apabila pada bulan Oktober 2020, ternyata BPS kembali merilis angka pertumbuhan kuartal III yang negatif," katanya.
Piter menjelaskan, dampak dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus sebenarnya sudah dirasakan oleh masyarakat sepanjang April-Juni 2020. Periode di mana pemerintah memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) untuk menekan penyebaran Covid-19.
"Sehingga kontraksi tersebut adalah dampak dari wabah Covid-19 yang membatasi aktivitas ekonomi," ujarnya.
Menurutnya, wabah Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini, maka masih ada potensi ekonomi Indonesia kembali tumbuh negatif di kuartal selanjutnya. Meski, kontraksi tidak akan sedalam kuartal II-2020.
"Pada kuartal III, dengan masih adanya wabah, perekonomian masih akan terkontraksi. Tetapi dengan pelonggaran PSBB, kontraksi ekonomi yang terjadi akan lebih mild (ringan), tidak akan sedalam kuartal II," pungkas Piter.(km)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Ekonom: Indonesia Belum Masuk Resesi, Meski Ekonomi Tumbuh Negatif 5,32 Persen
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/0508_kepala-bps-suhariyanto.jpg)