Breaking News:

CEO Xiaomi Puji Perjuangan Wanita Batak, Sebut Nama Ellyana Pasaribu Karyawati Sat Nusapersada Batam

Lei Jun mencontohkan bagaimana kehadiran Xiaomi bisa mengubah nasib seseorang, lewat kisah hidup Ellyana.

(Lulu Cinantya/Kompas.com)
Ellyana Pasaribu (36), pekerja fasilitas perakitan Xiaomi di Sat Nusapersada, Batam. 

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Nama Ellyana Pasaribu mendadak terkenal di industri perangkat seluler.

Wanita Batak ini jadi perbicangan khususnya untuk produsen Xiaomi.

Bukan karena ia mampu menciptakan teknologi terbaru.

CEO Xiaomi, Lei Jun mengenalkan Xiaomi Redmi 5A di hadapan jurnalis di Jakarta, Rabu (20/12/2017).
CEO Xiaomi, Lei Jun mengenalkan Xiaomi Redmi 5A di hadapan jurnalis di Jakarta, Rabu (20/12/2017). ((Oik Yusuf/KOMPAS.com))

Namanya dan perjalanan  hidup Ellyana Pasaribu (36) menarik perhatian  CEO Xiaomi Lei Jun.

Lei Jun mencontohkan bagaimana kehadiran Xiaomi bisa mengubah nasib seseorang, lewat kisah hidup Ellyana.

Saat Xiaomi membuka fasilitas perakitan di Batam pada 2017, Ellyana pun melihat kesempatan dan mengajukan lamaran pekerjaan.

Lei Jun menyebut nama karyawati  PT Sat Nusapersada dalam pidato menyambut ulang tahun Xiaomi ke-10.

Ellyana Pasaribu harus membesarkan tiga orang anaknya sendirian sejak suaminya meninggal Juni 2018 lalu.

"Ellyana, ibu tiga anak tinggal di Batam, Indonesia.

Kehilangan satu-satunya sumber pendapatan keluarga setelah suaminya meninggal beberapa tahun lalu," kata Jun.

"Setelah Xiaomi membuka lini produksi lokal tiga tahun lalu, Ia mendapatkan pekerjaan yang mengubah hidupnya.

Ia jadi mengenal banyak teman di tempat kerja dan melihat dunia lebih luas," lanjut Jun.

Ellyana pernah diwawancarai oleh KompasTekno saat melakukan peliputan di pabrik perakitan ponsel Xiaomi di Batam, Januari 2019 lalu.

Di rumahnya yang berada di kampung Tiban Lama, Batam, Ellyana bercerita suaminya meninggal pada Juni 2018.

Anak pertamanya sudah SMA, yang kedua SMP, dan si bungsu masih tiga tahun.

Saat Xiaomi membuka fasilitas perakitan di Batam pada 2017, Ellyana pun melihat kesempatan dan mengajukan lamaran pekerjaan.

"Dulu aku sudah pernah kerja di Satnusa, lalu keluar karena vendor-nya sudah nggak ada lagi.

Baru-baru ini aku minta kerja lagi ke superintendent aku yang lama, ternyata ada lowongan di fasilitas Xiaomi," ia menjelaskan.

Kini, sudah lebih dari dua tahun Ellyana bekerja sebagai petugas kebersihan di fasilitas perakitan Xiaomi di PT Satnusa Persada.

Ia bertanggung jawab atas kesterilan alat dan ruangan perakitan ponsel itu.

"Kalau aku bilang, untuk ibu-ibu rumah tangga yang belum terlalu tua, (adanya fasilitas Xiaomi di Satnusa) cukup membantulah.

Kalau bisa lebih bayak lagi penerimaan," Ellyana berharap.

Sosok Ellyana Pasaribu

Menjadi orang tua tunggal (single parent) untuk tiga anak lelaki bukan hal mudah.

Ellyana Pasaribu (36) adalah salah satu yang menjalani peran tersebut, pasca suaminya meninggal pada Juni 2018 lalu.

Anak pertamanya sudah SMA, yang kedua SMP, dan si bungsu masih tiga tahun.

Beberapa saat lalu, tim KompasTekno berkunjung dan mengobrol dengan Ellyana, di rumahnya, kampung Tiban Lama, Batam.  

Meski mengaku jarang beres-beres, rumah Ellyana tampak rapi dan bersih.

Kami duduk di ruang tengah dengan disuguhi minuman kemasan, sembari Ellyana meninabobokan anak bungsunya di atas ayunan bayi.

"Ya begini setiap hari, kalau aku masuk shift sore kayak sekarang, masih sempat bikin sarapan untuk anak-anak.

Tapi kalau masuknya pagi, ya nggak sempat," ia bercerita.

"Untungnya mereka yang besar-besar sudah bisa bikin nasi goreng atau ceplok telur sendiri.

Palingan ini aja yang paling bungsu aku titip ke tetangga," kata dia.

Shift pagi, sore, dan malam, dijalani Ellyana sebagai pegawai fasilitas perakitan Xiaomi di Satnusa, Batam. Sudah hampir setahun ia bekerja di sana sebagai petugas kebersihan.

Kendati terhitung baru di fasilitas Xiaomi, hubungan Ellyana dan Satnusa sudah terjalin lama.

Ia pernah menjadi operator perakitan untuk produk elektronik rumah tangga beberapa tahun lalu.

"Dulu aku sudah pernah kerja di Satnusa, lalu keluar karena vendornya sudah nggak ada lagi.

Baru-baru ini aku minta kerja lagi ke superintendent aku yang lama, ternyata ada lowongan di fasilitas Xiaomi," ia menjelaskan.

Xiaomi membuka fasilitas perakitan di Satnusa pada 2017 lalu, sebagai bagian dari pemenuhan aturan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang dicanangkan pemerintah.

Aturan itu mengharuskan pabrikan asing yang hendak menjual perangkat 4G di Indonesia untuk menyisipkan elemen lokal ke produknya.

Sejauh ini, sudah ribuan tenaga kerja lokal yang terserap berkat berdirinya fasilitas perakitan Xiaomi.

"Kalau aku bilang, untuk ibu-ibu rumah tangga yang belum terlalu tua, (adanya fasilitas Xiaomi di Satnusa) cukup membantulah.

Kalau bisa lebih bayak lagi penerimaan," Ellyana berharap.

Banyak-sedikitnya tenaga kerja lokal di fasilitas perakitan Satnusa tentu bergantung pada banyaknya permintaan dari para pembeli smartphone resmi.

Sayangnya, hingga kini masih marak beredar ponsel ilegal (black market), yang merugikan negara, konsumen, hingga Ellyana dkk. 

Klaim 90 persen karyawan di pabrik adalah perempuan

Lei Jun mengklaim bahwa 90 persen dari karyawan di pabrik perakitan Xiaomi adalah kaum perempuan. Bisnis Xiaomi pun diklaim Lei Jun telah meningkatkan taraf hidup, menambah keterampilan, dan memperluas wawasan mereka serta mendatangkan harapan.

Selain menyinggung Ellyana, Lei Jun juga menceritakan kembali perjalanan 10 tahun Xiaomi yang memulai dari awal yang sederhana hingga tumbuh menjadi perusahaan yang masuk dalam daftar Fortune Global 500.

Perjalanan Xiaomi memulai kiprah dengan meluncurkan custom UI sistem operasi Android yang dinamai MIUI pada 16 Agustus 2010, smartphone pertamanya, yakni Mi 1, baru diperkenalkan pada tanggal 16 Agustus 2011.

"Jika kami dapat menggabungkan perangkat lunak, perangkat keras, dan layanan internet, kami akan merintis jalan kami sendiri menuju kesuksesan, dan memunculkan tantangan yang disruptif, kata Lei Jun.

Xiaomi mengawali rencana untuk membangun industri ekosistem pada tahun 2014.

Enam tahun berlalu, Xiaomi kini sudah menjadi inkubator bagi 100 perusahaan ekosistem dan memasarkan lebih dari 1.000 produk yang diminati konsumen.

Sebagai perusahaan muda yang tumbuh, Xiaomi pada tahun 2013 mencatatkan pendapatan pendapatan sebanyak 20 miliar Yuan (setara dengan Rp 42,4 triliun).

Pada tahun finansial 2018 pendapatannya tercatat mencapai 174,9 miliar Yuan (setara dengan Rp 371,2 triliun) atau naik 800 persen dalam kurun waktu lima tahun.

Bagian akhir dari pidato Lei Jun berisi strategi Xiaomi di masa mendatang. Pertama adalah belajar dari semangat Xiaomi saat masih menjadi perusahaan rintisan dengan memprioritaskan karyawan dan memanfaatkan setiap peluang.

Berikutnya, memanfaatkan internet untuk memberdayakan proses produksi dengan teknologi tinggi dan otomatisasi. Poin terakhir adalah bijak dalam berstrategi dengan evaluasi rutin setiap 10 tahun.

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Pidato Ulang Tahun, CEO Xiaomi Sebut Nama Karyawati Pabrik di Batam dan Kisah Ellyana, Pekerja di Pabrik Xiaomi Batam

Editor: Irfan Azmi Silalahi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved