TRIBUN WIKI
Sejarah Sambal Khas Nusantara, Ada Sejak Abad ke-10 hingga Digemari Orang Belanda
Pada zaman kolonial Belanda di Indonesia, pembantu rumah tangga yang mahir membuat sambal akan mendapatkan tempat khusus karena membuat majikan senang
Pada sebuah acara, dihidangkan menu rijsttafel dan salah satu menunya adalah spaanse peper atau cabai rawit.
Di sana dirinya melihat banyak noni-noni Belanda yang menjadi tamu jamuan memiliki wajah yang memerah di pipinya dan matanya berair seperti akan menangis.
Salah satu jurnalis Belanda, Augusta Wit juga memiliki pengalaman yang sama ketika menyantap sambal pada kunjungannya di Batavia.
Bahkan dirinya mengatakan bahwa pengalamannya mencicipi sambal menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Di mana dia merasakan bibirnya gemetar kepedasan, lehernya seperti terbakar dan air mata bercucuran.
Dibawa ke Belanda
Pada zaman kolonial Belanda di Indonesia, para pembantu rumah tangga yang mahir membuat sambal akan mendapatkan tempat khusus karena membuat majikan senang.
Sehingga para pembantu rumah tangga yang pintar membuat sambal akan memiliki harga pasaran yang cukup tinggi saat itu.
Karena saking sukanya, banyak orang Belanda yang akan membawa pembantu rumah tangganya ikut kembali ke Belanda.
Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan keahlian membuat sambal, banyak para pembantu itu membuka rumah makan indies di Belanda.
Tradisi makan sambal
Pernahkah kalian mengambil sambal tapi hanya ditaruh di pinggir piring dan tidak dicampur dengan nasi?
Tradisi tersebut ternyata pertama kali dilontarkan oleh Louis Couperus.
Dalam bukunya Oostwaarts (1992), dirinya mengingatkan para turis yang belum pernah mencicipi sambal ulek untuk tidak mencapurnya di nasi.
Melainkan meletakkan sambal tersebut di pinggir piring.