Breaking News:

BATAM TERKINI

Kebanyakan dari Vietnam, sudah 23 Kapal Ikan Asing Diamankan PSDKP Batam Sepanjang 2020

Kepala PSDKP Batam, Salman bilang, rata-rata kapal ikan asing itu dari Vietnam dan diamankan di perairan Natuna

Penulis: | Editor: Dewi Haryati
TRIBUNBATAM.ID/ALAMUDIN
KAPAL IKAN ASING - Kepala Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kota Batam, Salman Mokoginta saat ditemui di kantor PSDKP Batam pada Senin (21/9/2020). Sepanjang tahun 2020, sudah 23 kapal ikan asing diamankan PSDKP Batam 

Editor: Dewi Haryati

TRIBUNBATAM.id, BATAM - Pangkalan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Kota Batam mengamankan 23 kapal ikan asing di perairan Kepulauan Riau sepanjang Januari-September 2020.

Hal ini disampaikan Kepala PSDKP Batam, Salman Mokoginta saat ditemui di kantor PSDKP Batam.

"Puluhan kapal yang diamankan itu rata-rata kapal ikan dari Vietnam," ujarnya, Senin (21/9/2020).

Kebanyakan kapal Vietnam ini diamankan di perairan Natuna, yang secara geografis, Kepri berbatasan langsung dengan Vietnam.

"Perairan Natuna memiliki sumber daya alam bahari yang sangat melimpah. Hal ini yang menyebabkan banyak kapal asing berukuran 100 GT lebih melakukan illegal fishing di lokasi tersebut," sebutnya.

Kronologi KRI Tjiptadi 381 Sergap Kapal Vietnam di Perairan Natuna, Sempat Lakukan Manuver

Terkait hal ini, Salman mengatakan, pihaknya terus melakukan peningkatan pengawasan di beberapa titik di Kepri seperti di Anambas, Natuna dan Bintan.

"Permintaan dari masyarakat nelayan setempat dan dari Dinas Perikanan karena sering ada beberapa kapal asing yang masuk ke wilayah-wilayah itu," ujarnya.

Untuk menunjang pengawasan, saat ini pihaknya tengah menyiapkan dua kapal patroli besar tambahan.

"Pembuatan 2 unit kapal besar di Kota Batam untuk pangkalan PSDKP Batam dan PSDKP Belawan. Kalau sebelumnya itu kami punya 3 kapal ukuran 28-32 meter dan terbuat dari fiber," kata Salman.

Menurut Salman, kapal yang saat ini dimiliki PSDKP Batam membuat pihaknya tidak terlalu leluasa melakukan penindakan di laut lepas.

"Penindakan di laut lepas masih di-cover kapal pusat. Jadi sampai perbatasan sudah tidak kuat karena yang ditakuti pelaku illegal fishing ini melakukan perlawanan dengan menabrakkan kapal. Kalau kapal yang sedang dibangun ini terbuat dari aluminium yang bagian bawahnya dilapisi besi baja," tegasnya.

Dengan keterbatasan yang ada, baik dari sisi fasilitas dan anggaran, pihaknya mengoptimalkan pengawasan dengan pihak terkait seperti TNI AL, Bakamla, Polairud.

"Pemda pun di masing-masing daerah harus pro aktif dengan langkah melakukan MoU pengawasan. Dengan keterbatasan pos anggaran yang ada untuk gelar operasi, dapat tertutup dengan penganggaran dalam memperkuat pengawasan di laut," ujarnya.

(TRIBUNBATAM.id/ALAMUDIN)

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved