Breaking News:

Berita Terkini Batam

219 Hari Wabah COVID-19 di Batam, Ini 5 Profesi Paling Rentan Terpapar, Tukang Urut 1 Kasus

Pandemi di Batam, kembali mencuat sejak awal pekan ini, setelah diumumkannya karyawan dari dua pabrik (PT) kawasan industri

gugus-covid-19-batam
COVID di BATAM - Kasus positif corona di Batam per 23/9/2020 berdasarkan 43 profesi. 

Data dari Gugus COVID-19 Batam, menyebutkan sebanyak 70 kasus berasal dari Dormitori atau mess pekerja dari sejumlah industri di kawasan Mukakuning.

Pasien terbaru bernomor 1.239 sampai1.357, berasal dari hasil temuan baru dan tracing contact erat dengan kasus sebelumnya.

Dari jumlah itu, sebanyak 105 pasien dibawa ke Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Pulau Galang. 

Sisanya tersebar di beberapa rumah sakit, seperti RS Awal Bros, RS Elisabeth Batam, RS UD Embung Fatimah, dan RS Soedarsono Darmosoewito. 

Seperti diberitakan, sehari sebelumnya, sebanyak 130 pekerja di dua perusahaan di Kawasan Industri Batamindo Mukakuning positif Covid-19

Rinciannya, di PT Infenion Technologies Batam ada 63 pekerjanya yang terkonfirmasi positif, sedangkan di PT Philips Industries, ada 67 kasus positif.

Agar tak meluas, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batam Didi Kusumarjadi, Selasa (22/9/2020), merekomendasikan  dua perusahaan itu di-lockdown selama 14 hari.

Dia beralasan, di kawasan industri tersebut ada puluhan perusahan dengan jumlah puluhan ribu tenaga kerja.

Menurut Didi, lockdown sementara ini harus dilakukan Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Batam untuk memutus penyebaran virus di kawasan industri tersebut.

"Saya sudah kirim surat rekomendasi (kepada Gugus Tugas) agar kedua perusahaan itu di-lockdown sementara," kata Didi kepada Tribun Batam, Selasa (22/8).

Meledaknya kasus di kawasan industri Mukakuning ini sudah dikhawatirkan sebelumnya,

Dalam laporan Tribun Batam pada Kamis (17/9) lalu, ada temuan delapan kasus terkonfirmasi positif di kalangan pekerja yang tinggal di dormitori atau mess pekerja Mukakuning dan 60 kontak erat dikarantina.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Rudi Syakyakirti kepada Tribun mengakui bahwa ada dua perusahaan yang saat ini menjadi perhatian karena ada beberapa pekerjanya yang positif.

TERPAPAR CORONA-Sejumlah santri di Ponpes Darus Ilmi Toapaya, Bintan terpapar Corona. Foto: Suasana saat Camat Toapaya Nepy Purwanto bersama jajarannya mendatangi Ponpes Darus Ilmi Toapaya.
TERPAPAR CORONA-Sejumlah santri di Ponpes Darus Ilmi Toapaya, Bintan terpapar Corona. Foto: Suasana saat Camat Toapaya Nepy Purwanto bersama jajarannya mendatangi Ponpes Darus Ilmi Toapaya. (TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA)

Berbagai upaya, kata Rudi , sudah dilakukan seperti penyemprotan disinfektan ke dormitori dan pabrik secara rutin serta rapid test terhadap kontak erat kasus positif.

Sehari kemudian, jumlah karyawan yang dikarantina bertambah menjadi 153 orang dan 66 orang menjalani tes swab.

Terbaru, dalam laporan kemarin, jumlah kasus yang kemudian diketahui merupakan pekerja dua perusahaan asing itu terus bertambah.

Hingga Selasa kemarin, dua perusahaan itu masih beraktifitas. PT Infineon yang berasal dari Jerman itu masih beroperasi.

Juru bicara perusahaan, Yulis, mengatakan, dari hasil rapid test massal yang diikuti dengan tes swab (PCR), tidak ada karyawan di tim produksi yang positif sehingga perusahaan beroperasi seperti biasa.

Sementara itu, dari pihak PT Philips, belum diperoleh konfirmasi terkait karyawannya yang terpapar.

Pantauan Tribun, di parkiran PT Infenion, puluhan sepeda motor milik karyawan terparkir rapi. Di halaman perusahaan juga terlihat tenda putih. 

Saat pergantian jam kerja, puluhan pekerja yang terlihat mengenakan masker medis, berseragam hijau tua dan jaket biru, terlihat berjalan beriringan keluar dari pabrik.

Seorang karyawan ketika ditanya Tribun mengaku tertekan oleh penularan virus yang terjadi di perusahaannya.

Namun karyawan yang tidak disebutkan namanya itu mengatakan, penularan yang terjadi saat ini bukan di pabrik tempat ia bekerja. 

“Infineon itu ada empat pabrik. Di tempat saya tidak ada,” katanya.

Seluruh karyawan Infineon sudah menjalani rapid test dua hari lalu. Menurut dia, karyawan yang terkena virus hanya dari satu pabrik saja. “Tempat saya negatif senua,” katanya.

Kadinkes Didi mengatakan, rapid test massal tersebut wewenang penuh internal perusahaan. "Perusahaan melakukannya sendiri," ujar Didi yang mengaku tidak mengetahui perkembangan hasil rapid test tersebut. “Kita belum mendapat laporan.”

Kepala Dinas tenaga Kerja Rudi Syakyakirti mengatakan, kasus di dua pabrik itu memang dilema. Sebab, perusahaan memiliki target produksi yang harus mereka jalankan.

Sementara di sisi lain, virus juga tidak bisa dipandang enteng karena ribuan karyawan itu bekerja di ruangan tertutup selama delapan jam.

Bahkan, jika tidak bisa diputus, wabah tersebut bisa menular ke sejumlah karyawan perusahaan lainnya karena mereka umumnya tinggal berkelompok, di dormitori, rumah susun atau tempat kos di sekitar Mukakuning, Tanjungpiayu dan Batuaji.

Menurut Rudi, ada sejumlah opsi yang bisa dilakukan perusahaan. Jika tidak bisa di-lockdown seluruh pabrik, bisa di-lockdown sebagian. “Jika mereka pempunyai empat pabrik, dua pabrik dulu yang ditutup dan dua pabrik beroperasi,” katanya.

Namun yang penting, kata Rudi, seluruh karyawan harus di-rapid test atau tes swab. Selain itu, mendisiplinkan seluruh karyawan untuk menghindari kontak dengan orang lain saat di luar perusahaan.

“Kita tak perlu berdebat dari mana asal virus itu, dari dalam atau luar kawasan. Yang penting, saat ini, seluruh karyawan harus diwanti-wanti betul untuk menghindari kontak di luar pabrik,” katanya.

Penulis: Filemon Halawa
Editor: thamzil thahir
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved