Breaking News:

Rakyat Geram Lihat Pemerintah Thailand, Raja Maha Vajiralongkorn: Harus Cinta Negara dan Monarki

Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mengatakan negaranya butuhkan orang-orang yang mencintai negara dan mencintai monarki terkait aksi demo di Bangkok.

Penulis: | Editor:
AFP PHOTO / PORNCHAI KITTIWONGSAKUL
DEMO - Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mengatakan orang harus mencintai negara dan monarki. 

Editor: Putri Larasati Anggiawan

TRIBUNBATAM.id, BANGKOK - Raja Thailand Maha Vajiralongkorn mengatakan negaranya membutuhkan orang-orang yang mencintai negara dan mencintai monarki.

Pernyataan ini ia sampaikan dalam komentar yang disiarkan di televisi pemerintah pada hari Jumat (16/10/2020) dari sebuah acara sehari sebelumnya.

Raja tidak memberikan komentar langsung atas protes tiga bulan yang menyerukan pembatasan kekuasaannya serta untuk mencopot Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha, mantan penguasa militer.

Raja sedang berbicara kepada sekelompok mantan komunis di Thailand utara.

"Semua pengalaman Anda dan hal-hal yang telah Anda lakukan.

Anda dapat mengajari generasi baru pengalaman Anda. Ini akan sangat berguna," katanya kepada mereka.

Baca juga: Unjuk Rasa Menentang Pemerintah Thailand Terus Berlanjut, Polisi Tembakkan Air Berbahan Kimia

Komentar itu disiarkan ketika ribuan pengunjuk rasa anti-pemerintah berkumpul di ibu kota Thailand untuk hari ketiga berturut-turut setelah Prayut menolak seruan untuk mundur.

Meningkatkan gerakan tiga bulan yang menuntut demokrasi yang lebih besar dan kekuasaan yang lebih sedikit untuk monarki.

Polisi anti huru hara menggunakan meriam air untuk mencoba dan membubarkan demonstran.

Mereka menentang aturan darurat dan larangan pertemuan besar dengan perubahan menit terakhir di tempat protes untuk mengadakan demonstrasi di persimpangan utama dekat pusat perbelanjaan MBK Center di pusat Bangkok.

Flash mob juga digelar dalam unjuk rasa di provinsi Chiang Rai di Thailand utara ketika para pemimpin protes menyerukan demonstrasi di seluruh negeri.

Para pengunjuk rasa menyerukan reformasi monarki serta penulisan ulang Konstitusi, yang dirancang oleh panel yang ditunjuk militer setelah Prayut mengambil alih kekuasaan dalam kudeta 2014.

Piagam itu berperan penting dalam membantu Prayut mempertahankan kekuasaan setelah pemilu 2019.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved