Minggu, 10 Mei 2026

SEKOLAH ONLINE

Pengertian Teknologi Wearable dan Tracking Collar, Digunakan untuk Lacak Satwa dan Peliharaan

Penggunaan Teknologi Wearable untuk satwa hingga hewan peliharaan, penjelasan hingga perangkat Tracking Collar.

Tayang:
ParentMap
Teknologi Wearable untuk Satwa dan hewan peliharaan. 

Editor: Mona Andriani

TRIBUNBATAM.id - Tahukah kamu? teknologi wearable juga biasa digunakan untuk satwa.

Tidak hanya satwa liar, tapi pemilik hewan peliharaan terkadang juga menggunakan teknologi wearable untuk peliharaannya.

Sebelum mengetahui lebih lanjut soal teknologi wearable pada satwa, ada baiknya mengetahui arti dari teknologi wearable itu sendiri.

Teknologi wearable yaitu sensor dan alat yang menempel di tubuh, alat yang biasa dipakai dan dipadukan teknologi elektronik.

Akesoris atau peralatan saat ini sudah banyak yang dipadukan dengan teknologi yang mutakhir, guna memberikan informasi, mendeteksi hingga menganalisis.

Seperti contohnya yang ada pada jam tangan, kacamata, kamera, gelang hingga kalung.

Baca juga: Menunggu Sisa Penghitungan Suara Dibeberapa Negara Bagian, Kubu Joe Biden Masih Optimis Bakal Menang

Jam tangan misalnya, sekarang tidak hanyak bisa untuk melihat waktu saja tapi lebih dari itu.

Jam tangan dengan teknologi atau disebut smart watch ini sekarang memiliki fungsi yang berguna di bidang kesehatan dan kebugaran.

Ada yang bisa mengukur detak jantung, tekanan darah, hingga gerakan dalam hitungan per menitnya.

Bahkan dari jam tangan hingga kacamata sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain termasuk video call.

Berbagai brand elektronik berlomba-lomba untuk mengeluarkan produk yang canggih kepada konsumennya.

Lalu bagaimana penggunaan teknologi wearable pada satwa?

Dikutip dari nationalgeographic.grid.id

Dengan pengembangan teknologi wearable, hewan-hewan langka yang dilindungi bisa dilacaka dan mengurangi tindakan kejahatan pada penagkapan hewan langka yang terancam punah.

“Tidak diragukan lagi, teknologi menjadi salah satu sumber daya terbesar yang membantu kami menangkap orang-orang jahat,” kata Matthew Pritchett dari kelompok pendukung anti perdagangan satwa, Freeland Foundation.

“Para penjahat di balik perdagangan satwa liar masuk ke dalam organisasi besar yang canggih,” tambahnya.

Agar bisa mengimbangi mereka, aktivis pun mengembangkan teknologi yang dulu digunakan untuk memerangi kartel dan kelompok kejahatan.

Sebagai contoh, Wildlife Conservation Society (WCS), yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengatasi kejahatan satwa liar, menggunakan software komputer untuk memetakan jaringan kriminal dan mengekstrak data dari perangkat elektronik yang disita.

Baca juga: Dulu Dipakai Laki-laki Selama Perang, Begini Sejarah Penemuan Pembalut

Melacak jalur perdagangan  

Grup konservasi lingkungan, International Animal Rescue Indonesia (IAR), memeriksa bukti di tempat kejadian perkara (TKP) dengan bantuan barcode DNA – sebuah metode taksonomi yang bergantung pada urutan genetik pendek untuk mengidentifikasi spesies.  

Sampel jaringan dari hewan yang diculik bisa disilang dengan database kode genetik yang tersimpan. Itu bisa membantu membedakan spesies dan subspesies yang tidak terancam punah.

Misalnya, IAR sedang membangun database barcode bagi spesies kukang yang sering diburu untuk dijadikan obat.

“Jika kita memiliki hewan dengan asal usul aslinya, lalu tiba-tiba ia muncul di Jakarta, maka kita bisa membandingkan sampel genetiknya. Selanjutnya, kita bisa melacak titik perburuan dan jalur perdagangan satwanya,” papar Christine Rattel, penasihat program IAR.

Baca juga: Seikat Bunga Sambut Kesembuhan Pasien Covid-19 di Batam

Melapor via aplikasi

Meskipun ada sejumlah undang-undang yang bertujuan melindungi satwa liar Indonesia, tapi polisi dan jagawana masih kekurangan sumber daya dan pengetahuan khusus.

Inilah celah yang ingin Freeland Foundation tutupi dengan mengembangkan aplikasi WildScan.

Aparat penegak hukum dan masyarakat bisa mengklik dan swipe aplikasi melalui pertanyaan dan foto-foto yang menentukan apakah mereka melihat spesies yang dilindungi di dekatnya.

Jika iya, pengguna aplikasi bisa memotret dan melaporkan kepada pihak berwenang di seluruh dunia melalui aplikasi WildScan tersebut.

(Baca juga: Peneliti LIPI Kembangkan Alat Deteksi Kanker seperti "Test Pack")

Pritchett mengatakan, laporan melalui aplikasi – yang memiliki database 700 spesies dan dua ribu foto – membuat pihak berwenang di Thailand dan Indonesia segera mengambil tindakan.

Namun, terlepas dari upaya terbaik para konservasionis dan kemajuan teknologi, banyak ahli percaya bahwa pertempuran masih panjang. Undang-undang yang ketinggalan zaman dan sumber daya yang rendah tetap menjadi tantangan utama dalam menghentikan perdangangan satwa liar.

Selain itu, kurangnya perhatian pemerintah juga menjadi hambatan. “Tanpa niat dari pemerintah, teknologi paling canggih pun tidak akan mengubah apa-apa,” kata Ian Singleton, pemimpin Sumatra Orangutan Conservation Programme (SOCP).

Dilansir dari cakdan.com, penggunaan teknologi wearable in pada Platform Terminal Transmitters (PTTs) dipasang pada bagian karapas (cangkang) penyu hijau.

Transmiter satelit tersebut memancarkan sinyal ke satelit, disiarkan kembali ke stasiun di bumi, untuk lantas diolah menjadi sebuah citra (peta).

Satelit akan mengirimkan sinyal ketika penyu mengambil nafas di permukaan laut (melalui antena yang berada di atas air). Dalam waktu tiga bulan, Satelit Tracking/Sattag tersebut terlepas dengan sendirinya dari tubuh satwa.

Begitulah kira-kira proses yang dilakukan oleh ilmuwan dalam melacak satwa menggunakan tenologi wearable.

Selain itu pengamatan pergerakan satwa liar ataupun hewan peliharaan dengan menggunakan sistem pelacakan yang menggunakan Global Positioning System (GPS).

GPS ini juga ada pada Tracking Collar

Baca juga: Holiday Villa Pantai Indah Lagoi Berikan Nuansa Asri, Cocok Untuk Liburan Keluarga di Masa Pandemi

Apa itu Tracking Collar?

Kerah pelacak atau Tracking Collar adalah kerah yang digunakan sebagai suar radio untuk melacak migrasi hewan untuk penelitian.

Beberapa pemilik hewan peliharaan menggunakan kerah ini untuk pelacakan GPS dan geofencing hewan peliharaan mereka.

Kami telah menguji banyak pelacak hewan peliharaan dan kalung GPS yang dirancang untuk melacak aktivitas hewan peliharaan Anda, lokasi, dan lainnya. Inilah yang harus dicari, bersama dengan favorit kami.

Fungsi Tracking Collar

1. Dapat memberitahukan dimana hewan peliharaan setia saat

2. Menghindari hewan peliharaan hilang

3. Dapat merekam pergerakan hewan peliharaan dalam waktu tiga bulan

4. Bahkan ada beberapa perangkat yang dapat menelepon hewan peliharaan.

(*/MONA ANDRIANI)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved