Rabu, 29 April 2026

BATAM TERKINI

KPPAD Batam Kecam Dugaan Pelecehan Oleh Oknum Pemuka Agama, Minta Polsek Batuaji Usut Tuntas

Ketua KPPAD Batam meminta Polsek Batuaji untuk mensutu tuntas kasus dugaan pelecehan oleh oknum pemuka agama di Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji.

Surya.co.id
Ilustrasi pelecehan - KPPAD Kota Batam mengecam dugaan pelecehan oleh oknum pemuka agama terhadap anak di bawah umur. Mereka meminta Polsek Batuaji untuk mengusut tuntas kasus tersebut. 

Editor: Septyan Mulia Rohman

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Batam mengecam oknum pemuka agama di Tanjunguncang yang diduga terlibat kasus pelecehan terhadap anak di bawah umur.

Mereka meminta aparat kepolisian segera mengusut tuntas kasus tersebut.

Penyidik Polsek Batuaji saat ini sedang menyelidiki laporan kasus dugaan pelecehan oleh oknum pemuka agama.

Polisi sudah meminta keterangan sejumlah saksi termasuk hasil visum dari remaja putri berumur 14 tahun yang diketahui sebagai korban.

"KPPAD Batam bekerja sesuai dengan tugas kami. Jika ada kekerasan apapun bentuknya terhadap anak, kami mengecam hal tersebut," ucap Ketua KPPAD Batam Abdillah, Minggu (8/11/2020).

Ia mengungkapkan, setidaknya terdapat 3 kasus tak senonoh dimana anak di bawah umur menjadi korbannya.

Namun satu kasus di antaranya belum bisa ditangani polisi karena korbannya belum bisa dimintai keterangan.

KPPAD BATAM - Wakil Ketua KPPAD Batam Nina Inggit syok mendengar kabar dugaan pelecehan oleh oknum pemuka agama di Tanjunguncang.
KPPAD BATAM - Wakil Ketua KPPAD Batam Nina Inggit syok mendengar kabar dugaan pelecehan oleh oknum pemuka agama di Tanjunguncang. (ISTIMEWA)

Abdilllah justru baru mendapat informasi mengenai kasus dugaan pelecehan oleh oknum pemuka agama di Tanjunguncang, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, Provinsi Kepri ini.

Sementara Wakil ketua KPPAD Batam Nina Inggit. G mengaku syok mendengar informasi itu.

Sangat tidak masuk akal menurutnya ada kasus yang seperti itu.

Dimana oknum pemuka agama tersebut seharusnya menjadi contoh serta teladan yang baik bagi jamaahnya.

"Seharusnya harus mengayomi dan melindungi serta mengajarkan hal-hal kebaikan. Ini malah dia sendiri pelakunya," kata Inggit.

KPPAD Kota Batam menurutnya akan segera berkoordinasi dengan Polsek Batuaji untuk memproses pelaku sesuai dengan hukum yang ada di Indonesia.

"Kami juga meminta pihak kepolisian agar mengusut tuntas kasus tersebut.

Ini seorang rohaniawan, kami juga tidak ingin ada korban lain," tegasnya.

Atensi Polsek Batuaji

Penyidik Polsek Batuaji sedang menyelidiki kasus dugaan pelecehan oleh oknum pemuka agama berinisial NPS di Tanjunguncang, Kota Batam, Provinsi Kepri.

Mereka sudah memanggil dan memeriksa sejumlah saksi, setelah menerima laporan dari seorang warga.

Selain memeriksa sejumlah saksi, mereka juga mengantongi hasil visum dari rumah sakit terhadap remaja putri 14 tahun yang diduga menjadi korban pelecehan itu.

"Kasusnya sedang kami tangani. Kami juga sudah meminta keterangan dari pihak keluarga," ucap Kapolsek Batuaji melalui Kanit Reskrim Polsek Batuaji, Iptu Thetio, Minggu (8/11/2020).

Laporan polisi itu berawal ketika orang tua remaja putri sebut saja Bunga tidak terima dengan perlakuan keluarga oknum pemuka agama tersebut.

Orangtua Bunga, HS mengaku malah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari perwakilan keluarga oknum pemuka agama ketika hendak terjadi perdamaian.

Baca juga: Kasus Dugaan Prostitusi Online di Batam, Polsek Batuaji Tetapkan Sejumlah Tersangka

Baca juga: Kasus Pencabulan Anak di Anambas Tinggi, Tapi KPPAD Belum Punya Call Center, Mengapa?

Ia mengaku tidak pernah ada niat untuk melaporkan orang yang seharusnya menjadi teladan bagi umatnya itu.

"Saat mau proses perdamaian, ada ungkapan mereka bahwa anak saya yang selaku memeluk dia (oknum pemuka agama) setiap bertemu.

Karena adanya kata kata itu . Istri saya akhirnya tidak mau berdamai dan meminta untuk membuat laporan ke polisi," kata Hs.

Ia menceritakan, perdamaian sesuai saran dari Kumpulan Serikat Tolong Menolong (STM) tempat mereka tinggal.

Itu setelah mereka memutuskan untuk pindah lokasi untuk beribadah dari tempat ibadah sebelumnya.

Hs, menceritakan kronologis kejadian, dimana sekitar enam bulan lalu ketika anaknya aktif dalam berbagai kegiatan di rumah ibadah.

Namun seiring berjalannya waktu, anaknya merasa tidak nyaman saat pergi ke rumah ibadah.

"Saat itulah kami mencoba mencari tahu apa masalahnya. Setelah kami tanya, setiap ketemu Beliau, anak kami mengaku selalu dicium dan dipeluk," ungkap Hs.

Meski demikian Hs, tidak mempermasalahkan hal tersebut, karena seorang pemuka agama pasti dicintai oleh jemaatnya.

Ilustrasi pelecehan
Ilustrasi pelecehan (Kompas.com)

Namun semakin hari hal tersebut semakin membuat anaknya semakin bertambah trauma.

Keluarga pun akhirnya mencoba menyelidikinya.

Mereka kemudian mendapati oknum pemuka agama di rumah ibadah tersebut sudah di luar batas.

Upaya diskusi secara kekeluargaan pun coba dilakukan.

Hal itu sudah diklarifikasi oleh oknum pemuka agama tersebut.

"Kami juga dari keluarga sudah memaafkan apa yang dilakukan Beliau itu.

Karena kami juga beribadah di sana.

Cukuplah semua permasalahan kami selesaikan secara kekeluargaan," kata Hs.

Namun seiring berjalannya waktu, istri oknum pemuka agama itu malah menjelek-jelekkan keluarganya.

"Kebetulan sempat kami tidak datang beribadah. Istri Beliau datang ke rumah, untuk mengajak agar beribadah lagi," kata Hs.

Masalah kembali datang setelah ada pembagian sembako di tempat mereka beribadah.

Saat itu istri HS memberikan sembako kepada orang yang tidak masuk dalam daftar.

Hal tersebut membuat istri oknum pemuka agama tersebut marah besar, dan kembali menjelek-jelekkan keluarga Hs.

"Karena keluarga kami di jelek-jelekkan, kami memutuskan pindah lokasi untuk beribadah.

"Setelah kami pindah tempat beribadah, istri Beliau itu semakin menjadi-jadi.

Sempat akan dilaksanakan perdamaian. Namun keluarga pendeta tersebut terkesan menyalahkan keluarga Hs," ujarnya.

Dari laporan ke Polsek Batuaji, mereka diarahkan untuk membuat visum ke RSUD Embung Fatimah.

Mereka syok ketika keluarga Bunga mendapat keterangan dari dokter jika terdapat luka pada alat vital anaknya.

"Kami sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa, orang yang selama ini kami anggap sebagai orang baik, tega merusak masa depan anak kami.

Harapan kami semoga kasus ini segera terungkap tuntas," kata Hs.(TribunBatam.id/Ian Sitanggang)

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved