ANAMBAS TERKINI
HEBOH Ekskavator Proyek SP II Rusak Terumbu Karang, Bola Panas di Perusahaan & Pemkab Anambas
Ekskavator untuk membantu pengerjaan proyek SP II di Anambas itu, turun ke laut dan merusak sejumlah terumbu karang.
ANAMBAS, TRIBUNBATAM.id - Terumbu karang dekat proyek Selayang Pandang atau SP II jadi sorotan.
Itu setelah ekskavator yang nekat masuk ke laut dan merusak terumbu karang di Pulau Siantan itu.
Turunnya ekskavator ke laut itu, jelas membuat geram masyarakat. Setidaknya warga di Kecamatan Siantan.
Bola panas mengenai izin ekskavator yang beroperasi hingga merusak terumbu karang itu pun kini bergulir.
General Superintendent PT Ganesha Bangun Riau Sarana, Ardi Lafiza kepada wartawan mengaku jika kegiatan mereka sudah sesuai dengan standar operasional prosedur yang ada.
Mereka mengklaim telah berkoordinasi ke Dinas Pekerjaan Umum, termasuk mengikuti izin Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau amdal.
"Kami sudah berkoordinasi. Sebab ada lokasi yang diberi toleransi sepanjang 10 meter pada sisi kiri dan kanan," ucapnya, Kamis (3/12/2020).

Pihak perusahaan akan meminta usulan para nelayan terkait terumbu karang yang dikeruk tersebut.
Berbeda dengan penuturan perwakilan perusahaan yang mengerjakan proyek jalan di atas laut itu.
Kepala Bidang Marga pada Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat (DPUPR) Kepulauan Anambas, Isa Hendra menyebutkan jika pihaknya belum ada memberikan izin untuk mengeruk terumbu karang.
Menurut Isa, seharusnya pihak Ganesha Bangun Riau Sarana melakukan koordinasi terlebih dahulu sesuai dengan dokumen Amdal.
Dengan melihat luas karang, tentunya dengan adanya pengerukan ini dapat merusak terumbu karang.
"Kami maunya mereka ini koordinasi dulu buat surat ke kita sebelum memasukkan ekskavator ke laut," ujar Isa.
Sebagian Material dari Luar Anambas
Pemancangan tiang dan pemasangan penyatu tiang pancang (pilecap) jadi prioritas kontraktor pelaksana pada pembangunan proyek SP II di 2020 ini.
Menggelontorkan anggaran hingga Rp 72 Miliar, pengerjaan proyek ini baru mencapai 40 persen.
General Superintendent proyek tersebut, Ardi Lafiza mengatakan, cuaca menjadi kendala dalam merealisasikan pembangunan jalan di atas laut ini.
Baca juga: BMKG Keluarkan Peringatan Dini Kondisi Cuaca Batam, Tinggi Gelombang Anambas Tembus 4 Meter
Baca juga: Kunjungan Pjs Gubernur Kepri ke Anambas, Minta 2 Hal ini ke KPU & Bawaslu saat Pilkada Anambas

Material untuk mendukung proyek tersebut mulai dari pasir didatangkan dari Dabo, Kabupaten Lingga. Sementara material lainnya seperti batu didatangkan dari Tanjungpinang.
“Bahan pasir pengadaannya sesuai dengan mutu, jadi kalau melihat pasir lokal itu tidak sesuai dengan kategori mutu tinggi. Jadi kita datangkan pasir ini dari luar daerah, di Dabo sesuai dengan rekomendasi PT WIKA,” ucapnya kepada sejumlah awak media, Kamis (20/8/2020).
Sedangkan pencairan yang terserap sekitar 30 persen dari total anggaran, progress pekerjaan sudah mencapai 40 persen mulai dari pekerjaan tanah, struktur pengadaan tiang, pemancangan tiang dan bahan material lainnya.
Ardi mengatakan, pemasangan lantai rencananya menjadi agenda pada 2021 mendatang.
Ia juga menuturkan telah melaksanakan pekerjaan abudmen satu dan saat ini pemasangan tengah pemasangan pilecap.(TribunBatam.id/Rahma Tika)
Baca juga berita lainnya di Google