Breaking News:

SRIWIJAYA AIR HILANG KONTAK

Demi Mencari Sriwijaya Air SJ 182, Penyelam Relawan Ini Rela Meninggalkan Anak Istri

Kisah seorang penyelam dari Makassar, yang rela meninggalkan anak dan istri untuk mencari korban Sriwijaya Air SJ 182.

Editor: Mona Andriani
Istimewa
Tim penyelam gabungan dari Ditpolairud, Polda Metro Jaya, Polda Banten dan Pas Pelopor Korps Brimob Polri membantu proses pencarian korban dan tubuh pesawat Sriwijaya Air SJ182 di sekitar Pulau Laki, Kepulauan Seribu, Minggu (10/1/2021). 

TRIBUNBATAM.id,JAKARTA - Cerita relawan penyelam yang rela meninggalkan anak dan istrinya sementara.

Rela tinggalkan anak dan istri di Makassar demi membantu mencari korban Sriwijaya Air SJ 182.

Diketahui pesawat Sriwijaya Ari SJ 182 jatuh di Perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1/2021) lalu.

Jajaran Tim SAR melibatkan Basarnas, TNI, Polri, Kementerian Perhubungan, Bakamla, KPLP, KNKT dan BMKG dan yang tak ketinggalan para penyelam relawan.

Seluruh stakeholder yang terlibat ingin membantu mengevakuasi korban dan puing-puing pesawat serta black box yang hingga kini masih belum ditemukan.

Seperti salah satu penyelam relawan dari Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI), Makmur Ajie Panangean, misalnya.

Baca juga: Beda Cockpit Voice Recorder dengan Flight Data Recorder, Perangkat Utama Black Box

Pria berusia 54 tahun ini langsung bertolak dari Makassar ke Jakarta, meninggalkan anak istrinya begitu mendengar peristiwa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air.

"Saya dari Makassar. Jadi begitu kami mendengar kabar ini, kami sudah siap, karena memang kami sudah tim, kejadian kemarin-kemarin saya selalu hadir untuk mewakafkan untuk membantu," kata Ajie saat diwawancara di JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (12/1/2021).

"Anak dan istri sudah memberi izin untuk support. Jadi kami pamit kepada mereka semua bahwa kami terpanggil untuk ini," sambunhnya.

Ajie merupakan instruktur penyelam profesional dengan pengalaman 12 tahun. Dia merasa terpanggil untuk menggunakan kemampuannya menyelam demi misi kemanusiaan.

"Itu (menyelam) jiwa kami, daripada untuk senang-senang saja, lebih baik skill ini kami pakai supaya bisa berguna buat sesama. Motivasinya untuk memanfaatkan ilmu yang ada pada kita untuk kemanusiaan," ucap Ajie.

Tak hanya itu, Ajie mengaku bahwa biaya yang dia butuhkan selama di Jakarta, termasuk tiket pesawat, ia tanggung dengan menggunakan uang pribadi.

Baca juga: Pesawat di Indonesia Sering Jatuh! Media Asing Ulas Kenapa Sriwijaya Air SJ 182 Terjatuh

"Itu biaya sendiri, karena kami di POSSI memang relawan yang tidak membutuhkan menunggu proposal misalnya, enggak. Memang ini sudah panggilan meskipun tidak sedikit biayanya," tutur Ajie.

"Sebagai penyelam komersial, kami ada hasil, dari ngajar, dari bawa orang diving, kami kan ada tabungan," sambungnya.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved