Breaking News:

VIRAL Tagihan Listrik Bengkak Rp 68 Juta, Merasa 'Dikerjai' PLN ! Ini Rentetan Kronologinya

Media sosial ramai dengan unggahan seorang pelanggan PLN yang mendadak dapat tagihan mencapai Rp 68 juta

Editor: Irfan Azmi Silalahi
TRIBUNJAKARTA.COM/DWI PUTRA KESUMA
VIRAL Tagihan Listrik Bengkak Rp 68 Juta, Merasa 'Dikerjai' PLN ! Ini Rentetan Kronologinya. Foto ilustrasi sejumlah warga menggeruduk Kantor PLN Sukmajaya di Jalan Sentosa, Sukmajaya, Kota Depok, Jumat (5/6/2020) 

Denda Rp 68 Juta

M mengatakan setelah itu mereka langsung diberi denda sebanyak Rp 68 juta itu, karena PLN menyebut mereka telah melanggar tingkat 2 P2TL.

Namun yang membuat dia tidak terima adalah karena dari uji lab hanya error 10-15 persen.

Dia dan suaminya juga sudah menjelaskan bahwa rumah tersebut masih atas nama kakak dari suami.

Keduanya ingin menanyakan terkait adanya kabel hitam itu.

Baca juga: Waspada ! Jangan Tertipu Penjualan Aksesoris Kelistrikan Atas Nama PLN Batam

Plt Gubernur Kepri, Isdianto saat meninjau salah satu meteran pelanggan PLN beberapa waktu lalu. Isdianto mengingatkan komitmen PLN untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan
Plt Gubernur Kepri, Isdianto saat meninjau salah satu meteran pelanggan PLN beberapa waktu lalu. Isdianto mengingatkan komitmen PLN untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan (TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA)

Namun mereka mengaku tidak diizinkan dan harus membayar denda saat itu juga atau diputus listriknya.

"Kami mau konfirmasi boleh nggak 1-3 hari gitu.

Jawabannya apa? Nggak boleh.

Bayar hari ini atau sebelum jam 5 listrik bapak diputus," kata dia.

Dia mengatakan ketentuan tersebut tidak bisa dinego.

Padahal menurut aturan yang dia baca ada waktu 3 hari.

Baca juga: Jadwal Pemadaman Listrik di Tanjungpinang, PLN Sebut Pemeliharaan Jaringan Listrik

Karena tidak ada uang sebanyak itu, pihak petugas memutuskan boleh membayar sebesar 30 persen lebih dulu atau sekitar Rp 20,4 juta.

"Tapi saya benar-benar merasa saya diancam dan dipaksa oleh PLN untuk membayar hal yang tidak kami lakukan.

Kami bahkan bersedia diinvestigasi polisi dan disidik jari kalau memang bersalah,

tapi mereka bilang mereka nggak mau tahu dan harus bayar hari ini juga atau listrik mati," katanya.

M juga merasa bahwa tindakan PLN tidak adil,

karena tidak menjelaskan opsi lain bahwa keluarga yang bersangkutan juga bisa mengajukan keberatan.

Petugas bright PLN Batam sedang memeriksa meteran listrik
Petugas bright PLN Batam sedang memeriksa meteran listrik (TRIBUNBATAM.ID/ISTIMEWA dok Bright PLN Batam)

Dia berharap sisa denda bisa dinegosiasikan.

"Kalau katanya kami sudah tanda tangan menerima kenyataan itu, ya karena dipaksa bayar atau diputus.

Kalau tanda tangan ya bersedia membayar.

Jadi ini pemaksaan juga.

Kalau saya memang terima, saya gak akan bikin thread," jelas M.

Klarifikasi PLN

Terkait kejadian itu, SRM General Affairs PLN UID Jakarta Raya, Emir Muhaimin mengatakan, di lokasi pelanggan telah dilakukan P2TL (Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik).

Hasilnya ditemukan indikasi ketidaksesuaian yang akhirnya ditetapkan adanya pelanggaran kategori P2 dengan besaran tagihan susulan (TS) sesuai aturan sebesar yang di-twit oleh pelanggan.

Dia juga mengatakan pelanggan telah membayar uang muka sebesar 30 persen dan sisanya dicicil.

Namun dia mengatakan pihak PLN Kebon Jeruk terbuka, sehingga pelanggan bisa menyampaikan keluhan secara langsung.

Petugas PLN sambungkan aliran listrik
Petugas PLN sambungkan aliran listrik (tribunnews batam / istimewa)

"Saat ini pihak PLN Kebon Jeruk terus berkomunikasi dengan pihak pelanggan dan menurut kami pintu komunikasi dengan PLN selalu terbuka dan tidak pernah kami tutup.

Jadi jika ada keluhan silakan disampaikan kepada PLN secara langsung," katanya, Ahad (17/1/2021).

Sementara Manajer UP3 Kebon Jeruk Yondri Nelwan dalam keterangan tertulisnya juga menjelaskan kronologinya menurut pihak mereka.

Dalam keterangan tertulis tersebut, pada 14 Januari 2021 petugas PLN sudah mendatangi keluarga yang bersangkutan untuk melakukan Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) dan disaksikan pemilik rumah.

"Ditemukan kejanggalan pada kWh meter yaitu pada angka meter dan segel.

PLN membawa kWh meter tersebut untuk dilakukan pengujian," tulis PLN UP3 Kebon Jeruk.

Lalu bersamaan dengan itu, kWh meter di rumah pelanggan diganti dengan yang baru.

Pada 15 Januari 2021, PLN melakukan pengujian terhadap kWh meter tersebut di Laboratorium Tera PLN, disaksikan pihak keluarga dan pihak kepolisian.

"Dari hasil pengujian, ditemukan kawat jumper pada kWh meter yang memengaruhi penghitungan pemakaian tenaga listrik.

Pelanggaran tersebut masuk ke golongan pelanggaran P2, yaitu memengaruhi pengukuran energi dan dikenakan tagihan susulan (TS) sebesar Rp 68.051.521," tulis PLN juga.

Menurut pihak PLN pihak keluarga itu sudah menerima penjelasan dari PLN dan bersedia membayar tagihan susulan tersebut dengan uang muka sebesar 30 persen.

Sisanya dibayar secara angsuran.

PLN Kebon Jeruk mengimbau kepada masyarakat untuk tidak mengutak-atik kWh meter yang dapat memengaruhi pemakaian energi listrik.

Selain itu juga mengimbau sebelum melakukan jual beli/sewa rumah agar melakukan cek kelistrikan (seperti Rekening, kWh) ke PLN agar tidak timbul permasalahan di kemudian hari.

Baca juga: Raffi Ahmad Kalah, Tagihan Listrik Ibu Rumah Tangga Ini Capai Rp 68 Juta, Protes ke PLN

Baca juga: Listrik Belum Masuk di 12 Desa di Anambas, PLN: Tinggal Penyambungan Saja

Baca juga: Hujan di Tanjungpinang, PLN Pemadaman Listrik Darurat, BMKG: Waspada Gelombang Tinggi

.

.

.

Baca berita menarik TRIBUNBATAM.id lainnya di Google

SUMBER: KOMPAS TV

(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved