Breaking News:

AHY Diminta Jangan Cengeng Terkait Isu Pengambilan Paksa Partai Demokrat Oleh Orang Dekat Jokowi

Marzukie Alie meminta AHY tidak cengeng terkait isu yang berkembang terkait pengambilan paksa partai Demokrat yang dilakukan oleh orang dekat

Editor: Eko Setiawan
KOMPAS
Marzuki Alie 

"Kita tidak menginginkan perubahan pucuk pimpinan partai Demokrat saat ini, karena urusan saya saat ini banyak. Urusan aku ni banyak urusan kampus saja berapa ribu mahasiswa yang diurus.

Rahmad Darmawan menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhyono (AHY)
Rahmad Darmawan menerima Kartu Tanda Anggota (KTA) Partai Demokrat dari Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhyono (AHY) (istimewa)

Ini saja baru dari Surabaya menyerahkan bantuan untuk Kalimantan Selatan berupa semabako, dan terimasuk di Jatim, dan banyak urusan aku diluar partai. Sudahlah, jabatan aku sudah tertinggi di partai sebagai ketua DPR RI mau apa lagi, kalau disebut- sebut biasalah," tuturnya.

Marzuki pun mengingatkan kepada pengurus partai Demokrat yang ada, untuk bisa mengatasinya dan tidak berpikiran pendek menyikapinya.

"Tapi yang jelas di politik ini biasalah, jangan risih, dan cengenglah," tukasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono menyebutkan saat ini partainya sedang diincar untuk diambil alih secara paksa oleh orang di lingkaran kekuasaan Jokowi

Agus menjelaskan kronologis dan sosok yang ikut bergabung dalam rencana ini.

"Sepuluh hari lalu, kami menerima laporan dan aduan dari banyak pimpinan dan kader Partai Demokrat; baik pusat, daerah maupun cabang tentang adanya gerakan

dan manuver politik oleh segelintir kader dan mantan kader Demokrat, serta melibatkan pihak luar atau eksternal partai, yang dilakukan secara sistematis," kata Agus yang biasa disapa AHY ini, dalam konperensi pers yang digelar Senin (1/2/2021).

Agus pun membeberkan sosok yang dianggap akan merebut paksa partainya.

Marzuki Alie
Marzuki Alie (KOMPAS)

"Gabungan dari pelaku gerakan ini ada 5 orang terdiri dari 1 kader Demokrat aktif, 1 kader yang sudah 6 tahun tidak aktif, 1 mantan kader yang sudah 9 tahun diberhentikan dengan tidak hormat dari partai, karena menjalani hukuman akibat korupsi, dan 1 mantan kader yang telah keluar dari partai 3 tahun yang lalu, " tambahnya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved