SAHAM 2021
IHSG Melemah, Inilah 10 Saham yang Dilego Investor Asing
Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) turun 0,03% atau terpangkas 1,72 poin ke level 6.065,81 pada perdagangan sesi I Selasa (2/2/2021).
TRIBUNBATAM.id - Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG) turun 0,03% atau terpangkas 1,72 poin ke level 6.065,81 pada perdagangan sesi I Selasa (2/2/2021).
Mengutip data RTI, IHSG melanjutkan penguatan pada awal perdagangan setelah menguat signifikan kemarin.
Namun IHSG berbalik arah dan sempat masuk ke zona merah sebelum memperkecil penurunan di akhir sesi I.
Enam dari 10 sektor memerah di sesi I. Sektor tambang, konstruksi, infrastruktur, industri dasar, keuangan dan aneka industri tercatat merosot.
Masing-masing turun 2,14%, 1,38%, 017%, 0,15%, 0,08% dan 0,07%.
Sementara sektor yang menghijau adalah barang-barang konsumsi, manufaktur, perdagangan dan perkebunan masing-masing naik 1,40%, 0,59%, 0,48% dan 0,25%.
Baca juga: Prediksi Saham, IHSG Menguat 3,50 %, Ini Rekomendasi Saham Selasa 2 Februari 2021
Total volume perdagangan pada sesi I di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai 17,63 miliar saham dengan nilai transaksi Rp 12,24 triliun.
Sebanyak 212 saham turun, 239 saham naik dan 154 saham nilainya tidak berubah.
Investor asing membukukan net sell atau jual bersih di seluruh pasar sebesar Rp 477,72 miliar.
Asing paling banyak melepas saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp 72,5 miliar.
Saham BMRI turun 3,36% ke RP 6.475 per saham.
Volume perdagangan saham BMRI mencapai 39,8 juta dengan nilai transaksi Rp 263,6 miliar.
Saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga dilepas asing sebesar Rp 26,2 miliar. Saham INCO juga turun 4,40% ke level Rp 5.975 per saham.
Volume perdagangan saham INCO mencapai 34,4 miliar dengan nilai transaksi RP 210,8 miliar.
Saham PT Aneke Gas Industri Tbk (AGII) juga dilego asing sebesar Rp 24,9 miliar. Saham AGII anjlok 6,77% ke Rp 1.515 per saham.
Volume perdagangan saham AGII mencapai 50,5 juta dengan nilai transaksi RP 80,3 miliar.
Berikut 10 saham net sell asing pada perdagangan sesi I Selasa:
1. BMRI Rp 72,5 miliar
2. INCO Rp 26,2 miliar
3. AGII Rp 24,9 miliar
4. UNTR RP 21,5 miliar
5. ASII Rp 17,1 miliar
6. INDF Rp 16,9 miliar
7. ICBP Rp 16,8 miliar
8. BBTN RP 16,7 miliar
9. INKP RP 14,8 miliar
10. BBNI Rp 11,0 miliar
Saham atraktif
Saham berbasis komoditas dinilai masih atraktif pekan ini seiring naiknya harga komoditas terkait.
Jenis komoditas yang atraktif pekan ini diantaranya komoditas energi, salah satunya minyak mentah.
Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan memperkirakan bahwa produksi minyak harian Amerika Serikat (AS) untuk periode 29 Januari akan menurun dibandingkan pekan sebelumnya.
Sementara itu, input kilang minyak AS untuk 29 Januari juga diperkirakan flat dibandingkan angka pekan lalu.
Komoditas energi lainnya, yakni batubara juga diperkirakan bakal memiliki harga yang solid pekan ini.
Menurut berita terbaru, China mengimpor total 124,5 juta ton batubara termal (termasuk jenis batubara bituminus dan sub-bituminus, tetapi tidak termasuk lignit) pada tahun 2020. Realisasi ini menunjukkan kenaikan 7,9% secara tahunan.
Hasil ini menunjukkan bahwa permintaan batubara China tetap solid di tengah efek pandemi Covid-19 yang melanda Negeri Tirai Bambu pada awal tahun 2020.
Lebih lanjut, Mirae Asset masih meyakini bahwa ekspor batubara Australia ke China akan tetap dalam tren menurun seiring masalah geopolitik antara kedua negara.
Di sisi lain, Mirae Asset memperkirakan ekspor batubara Indonesia ke China akan meningkat dalam waktu dekat.
Dus, saham PT Medco Energi Tbk (MEDC), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta saham lainnya yang terkait minyak serta batubara akan menarik pekan ini.
Sejumlah komoditas logam juga diperdagangkan dengan harga yang atraktif pekan ini. Mirae Asset mencatat bahwa secara kumulatif, produksi baja tahan karat (stainless steel) China setahun penuh tahun lalu meningkat menjadi 1,05 miliar ton atau naik 5,9% secara tahunan.
Secara bulanan, produksi stainless steel bulan Desember di China juga meningkat menjadi 91.3 juta ton (naik 4.1% secara bulanan dan 7.7% secara tahunan).
Secara keseluruhan, harga nikel global akan diperdagangkan lebih tinggi pekan ini dengan adanya beberapa katalis positif.
Pun demikian dengan harga nikel yang diperkirakan akan memiliki harga yang atraktif pekan ini.
Pekan lalu, persediaan timah di bursa London Metal Exchange (LME) turun menjadi 1.020 ton dari sebelumnya 1.635 ton. Selain itu, persediaan timah di LME diperkirakan lebih rendah dibandingkan pekan lalu. Hal ini kemungkinan akan menimbulkan risiko kenaikan harga timah dunia untuk pekan ini.
Sementara emas akan diperdagangkan secara bervariasi pekan ini. Konsensus memperkirakan tingkat pengangguran AS di Desember2020 akan cenderung datar di level 6,7%, dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Sementara itu, konsensus memperkirakan bahwa klaim pengangguran awal AS untuk 30 Januari akan turun menjadi 830.000 orang, dari pekan sebelumnya di 847.000 orang.
Alhasil, Mirae Asset memperkirakan harga emas global akan diperdagangkan mixed pekan ini, mengingat perkiraan adanya peningkatan daya beli AS.
Di sektor pertambangan logam, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Timah Tbk (TINS) serta saham yang terkait nikel dan timah akan menarik pekan ini.
Di sektor perkebunan, fenomena La Nina yang moderat tahun ini akan menjadi risiko kenaikan harga minyak sawit mentah atau CPO global untuk pekan ini.
Menurut survei terbaru yang dilakukan oleh Intertrek Testing Services, ekspor CPO Malaysia pada 1-25 Januari turun 36,1% menjadi 851.730 ton dari angka pada periode sebelumnya.
Namun, perkiraan yang lebih tinggi untuk harga kedelai (soybean) global akan menjadi risiko kenaikan harga CPO pekan ini. Secara keseluruhan, harga CPO akan diperdagangkan dua arah pekan ini, mengingat adanya sejumlah katalis campuran.
baca berita terbaru lainnya di google news
Sumber: Kontan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/13012021bursa-efek-ihsg.jpg)