Breaking News:

Berita Populer Batam, Penjual Bandrek Meninggal saat Berdzikir di Masjid Bengkong

Berita Populer Batam mulai dari penjual bandrek meninggal usia menjadi imam sholat hingga anak di bawah umur memperkosa janda

ISTIMEWA
Hasan Basri bin Tandayong meninggal dunia usai mengimami sholat dzuhur di Masjid Al-Muttaqin, Jalan Bengkong Harapan II, Bengkong Laut, Bengkong. 

Kejadian itu sempat viral di media sosial serta menjadi topik pembicaraan di kalangan Imam yang ada di Batam.

"MasyaAllah mas, sungguh beruntung beliau (Hasan) wafat dalam keadaan baik, tepat setelah usai melaksanakan sholat dzuhur di masjid ini, waktu itu beliau yang menjadi imam dan kini menjadi pembicaraan para Imam masjid Batam di dalam grup WhatsApp, bahkan ada yang bilang mereka ingin wafat dengan cara yang sama yang dilalui Hasan, saya juga termasuk salah satunya," kata Jamal Ghofar (35), Imam Masjid Al-Muttaqin.

Hasan sebenarnya seorang Muadzin dan baru sekitar hampir 10 bulan aktif di Masjid Al-Muttaqin.

"Sebelum wafat, beliau sering belajar doa sama saya bang, beliau itu orang baik, dalam kesehariannya beliau jarang berkomunikasi kalau tidak penting," ujarnya.

Sebelumnya, Hasan belum pernah menjadi imam.  Karena sebenarnya Imam Masjid itu adalah Jamal.

Mengenang Sosok Syekh Ali Jaber, Pendakwah Asal Madinah, Sudah Jadi Imam Masjid Sejak Usia 13 Tahun

"Namun saat itu saya tidak bisa menjadi imam sebab istri saya sedang masak dan saya sendiri sedang menggendong anak saya paling kecil yang masih bayi, sambil menggendong saya memperhatikan CCTv, tak lama setelah sholat dzuhur selesai beliau tumbang dan wafat," katanya.

Diketahui Hasan adalah seorang penjual bandrek dan pisang keju di kawasan Taman Jodoh.

Evi (54), istri Hasan mengatakan, mereka sehari-hari bekerja sebagai penjual bandrek dan pisang keju.

"Setiap hari saya dan almarhum bapak (Hasan) menjual bandrek dan pisang keju di Taman Jodoh," kata Evi di kediamannya, RT 04 RW 07, blok N, nomor 69, Kelurahan Bengkong Indah, Kecamatan Bengkong, Batam, Rabu (3/2/2021)

Saat mengetahui suaminya meninggal, Evi sangat kaget dan terpukul.

"Awalnya dia bilang ke saya, mau ke masjid, mau sholat dzuhur, terus tak lama saya dapat kabar dari tetangga katanya bapak pingsan di masjid, jadi pas saya datang ke masjid, bapak sudah tidak ada," kata Evi sambil menangis.

Wanita itu mengaku perasaannya campur aduk antara kesedihan, kebanggaan dan juga keikhlasan dirinya.

"Saya enggak tau perasaan saya sekarang bagaimana, saya bersedih karena suami saya meninggal, saya bangga karena suamiku wafat dalam keadaan baik (husnul khatimah) dan juga saya harus ikhlas dengan kepergiannya, setidaknya kewajiban dia sebagai oran tua sudah terpenuhi, dia telah menikahkan anak perempuannya," ujarnya.

Hasan diketahui memiliki 3 orang anak, dua di antaranya perempuan dan satu laki-laki.

Di lokasi sama, Nora (28) anak kedua Hasan mengatakan, ayahnya adalah seorang muadzin (pengumandang suara azan) di Masjid Al-Muttaqin.

"Sebelum Ayah wafat, beliau bahkan masih belajar agama bang, Ayah belajar doa untuk dibaca setelah sholat, bahkan sedang jualan pun ayah membaca doa itu, karena ayah memang belum hafal doa itu, bahkan doa itu ia tulis dalam secarik kertas dengan bahasa Indonesia," kata Nora dengan mata yang berkaca-kaca.

Pantauan Tribunbatam.id, di rumah duka, terlihat tenda duka masih berdiri di depan rumah, tampak keheningan sesaat terjadi saat Ibu Evi dan Nora anaknya menceritakan almarhum Hasan.

3. Suami Bunuh Istri di Batam Gegara Sepatu, Tetangga Kenal Supriadi Sosok Tak Banyak Bicara

Warga Kaveling Pandawa Mandiri, Kelurahan Sei Binti, Kecamatan Sagulung, Batam tak habis pikir, Supriadi (32) tega membunuh istrinya, Nurvita Sari (26), Selasa (2/2/2021).

Menurut cerita yang didapat warga, peristiwa pembunuhan itu berawal dari masalah sepele. Suami minta dibelikan sepatu kerja, tetapi istri menolak dengan alasan tidak punya uang.

Diketahui, Supriadi membunuh Vita dengan cara mencekik lehernya, lalu membenamkan kepala Vita ke dalam ember berisi air hingga perempuan itu meregang nyawa di tangan suaminya sendiri.

Kejadian berlangsung di rumah yang ditempati Supriadi dan Vita di Kaveling Pandawa Mandiri, Blok F No. 187 RT02/RW16, Kelurahan Sei Binti, Kecamatan Sagulung, Batam.

Menurut seorang warga Junjungan, selama ini ia tak pernah mendengar pasangan suami istri itu ribut.

"Selama ini tidak pernah terdengar mereka ribut," kata Junjungan, Rabu (3/2/2021).

Di lingkungan tempat tinggalnya, Supriadi dikenal sebagai orang yang tidak banyak bicara.

"Yang kita tahu mereka sudah delapan tahun menikah, tapi tidak memiliki anak," ujarnya.

Ia mengatakan, sebelum kejadian pelaku sempat meminta agar dibelikan sepatu kerja. Namun istrinya mengatakan tidak ada uang.

"Kita tidak tahulah kebenarannya, karena selama ini pelaku kerja di galangan kapal," kata Junjungan.

Ia melanjutkan, saat polisi datang korban, Vita sudah terbujur kaku di ruang tamu.

"Kemarin di ruang tamu, itu tidak ada bercak darah. Pelaku membunuh istrinya dengan cara dicekik dan dimasukkan ke dalam air," ujarnya.

Saat itu tidak satu orang pun tetangga korban yang mendengar ada teriakan dari dalam rumah pelaku.

"Padahal rumah di sana rapat. Ya, namanya juga kaveling ukuran rumah pun tidak besar," katanya.

Warga Heboh

Diberitakan, warga Kaveling Pandawa Mandiri, Kelurahan Sei Binti, Kecamatan Sagulung, Batam, seketika heboh.

Pasalnya Tim Identifikasi Polresta Barelang dan Polsek Sagulung tiba-tiba datang ke sebuah rumah di Blok F No. 187 RT02/RW16 di kawasan itu, Selasa (2/2/2021) sore.

Dari dalam rumah, polisi menemukan seorang perempuan tergeletak tak berdaya, dalam kondisi meninggal dunia di ruang tamu rumahnya.

Perempuan itu diketahui bernama Vita.

Dari informasi, tidak ada warga sekitar yang mengetahui kejadian tersebut. Warga baru mengetahui ada pembunuhan setelah Tim Identifikasi Polresta Barelang tiba di lokasi kejadian.

"Kita tahunya setelah polisi datang. Infonya pelaku suami korban bernama Supriadi sudah menyerahkan diri,” ujar Ketua RT02/RW16, Yeni di lokasi kejadian.

Menurut tetangga korban, dia masih melihat korban dan pelaku sarapan pagi bersama pada pukul 07.00 WIB, Selasa.

Kemudian sekitar pukul 10.30 WIB, keponakan korban mendatangi kediamannya.

“Korban ini menjaga keponakan. Pas keponakannya ke rumah saya, kami tanya mana mana bibi. Katanya lagi tidur,” ucapnya.

Yeni melanjutkan, korban dan pelaku baru dua tahun tinggal di Kaveling Pandawa Mandiri dan belum dikaruniai seorang anak. 

Hingga saat ini belum diketahui pasti apa motif pembunuhan itu. Hanya saja, suami korban, Supriadi sudah menyerahkan diri ke Polresta Barelang.

“Korban akan dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Kepri guna pemeriksaan lebih lanjut. Pelaku sudah menyerahkan diri ke Polresta Barelang.

Dugaan motif karena ekonomi,” kata Wakasat Reskrim Polresta Barelang AKP Juwita Oktaviani di lokasi kejadian.

Mengaku emosi

Pembunuhan sadis dilakukan oleh seorang suami kepada istrinya di Kavling Pandawa Mandiri Blok F No 187 Sagulung Baru, Kota Batam.

Pelaku pembunuhan bernama Supriadi (32) sedangkan istrinya bernama Nurvita Sari (26).

Pelaku Nekat menghabisi nyawa istrinya dengan kedua tangannya sendiri karena korban mengambil kembali uang yang diambil oleh pelaku dari dalam lemari.

Usai melakukan pembunuhan sadis kepada istrinya, Selasa (2/2/2021) Supriadi akhirnya menyerahkan diri ke Kantor Polisi karena merasa bersalah dan sangat menyesal dengan perbuatannya tersebut.

Supriadi yang ditemui di Polresta Barelang mengatakan, awalnya kejadian ini karena dirinya emosi melihat istrinya tersebut.

Terlebih belakangan ini, pasangan suami istri tersebut terus berbeda pendapat dan sering terjadi cekcok dirumah itu.

Sebelum melakukan pembunuhan, Korban ingin meminta dibelikan sebuh sepatu oleh istrinya.

Supriadi yang belakangan ini tidak bekerja merasa senang awalnya ketika memberikan kabar kepada sang istri kalau dia diterima kerja untuk menjadi pengawas sebuah Proyek.

Rencananya, untuk bekerja ia harus membeli sepatu lantara sepatunya sudah jelek dan tidak layak pakai untuk bekerja.

Disana Supriadi mencoba meminta uang kepada Istrinya agar dibelikan sepatu baru untuk kebutuhan bekerja.

"Saya mau kerja jadi pengawas, dimasukan teman bekerja. Jadi minta dibelikan sepatu," sebut Supriadi.

Sang istri kemudian menolak permintaan suaminya tersebut dengan alasan tidak ada duit.

Jangankan untuk membeli sepatu baru, untuk makan sehari-hari saja ia harus menghemat pengeluaran.

Marah tidak dibelikan sepatu, Supriadi kemudian masuk kedalam kamar dan mencari uang di dalam lemari baju.

Disana ia marah dan mulai mengeluarkan makian kepada istrinya. Hingga ia mengatakan kalau istrinya tersebut pelit.

"Ini duit apa, emang kau pelit. Besok aku kerja makanya beli sepatu," sebut Supriadi.

Sari yang tidak terima dengan cacian tersebut membantah omongan suaminya.

Akhirnya mereka terlibat adu mulut. "Ini kan uang bersama, saya pakai untuk beli sepatu dulu," sebut Supriadi lagi.

Langsung istrinya menjawab ocehan suaminya "Sepatu mu itu masih bagus, masih bisa digunakan," celotehnya sambil merebut uang dari tangan suaminya itu.

Pelaku yang marah karena uangnya diambil akhirnya gelap mata. Terlebih setiap omongannya selalu dijawab sang istri.

Iapun mencekik leher istrinya dengan sekuat tenaga hingga istrinya lemas tidak berdaya.

Sempat terjadi perlawanan saat itu, namun karena sang istri kalah kuat, akhirnya istrinya tidak bisa melawan suami yang seolah kemasukan setan.

Karena tidak bisa bernafas lagi, korban terjatuh dan pingsan.

Namun ketika itu menurut pengakuan Supriadi, ia masih bernyawa. 

Karena masih mendengar dengkuran dari mulut suaminya.

"Nafasnya masih ada, saya masih mendengar seperti orang ngorok," lanjutnya.

Emosi Supriadi masih memuncak saat itu, karena istrinya masih bernyawa dirinya menyeret istrinya ke bagian dapur.

Dia disana melihat sebuah ember yang berisi air sirih untuk pengobatan sang istri.

Disana ia membenamkan kepala sang istri hingga korban benar-benar tidak bernyawa.

"Usai membunuh istri saya, kemudian saya telepone ayuk saya di kampung, saya bilang sedang ribut dengan istri," sambungnya.

Namun sayang, penyesalan datang belakangan. Pelaku akhirnya menyerahkan diri ke Polresta Barelang dan mengakui perbuatannya tersebut kepada petugas Jaga disana.(Tribunbatam.id/ Ian Sitanggang/Muhammad Ilham/koe)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved