Breaking News:

HUMAN INTEREST

Pedagang Otak-otak di Bintan Sabar Hadapi Pandemi, Omzet Andalkan Kunjungan Wisatawan

Pedagang otak-otak di Bintan biasa melayani pembeli dari kunjungan wisatawan asal Singapura dan Malaysia. Pandemi Covid-19 merubah hal itu.

TribunBatam.id/Alfandi Simamora
Pedagang Otak-otak di Bintan Sabar Hadapi Pandemi, Omzet Andalkan Kunjungan Wisatawan. Foto pedagang otak-otak di Bintan, Robiyah di Desa Teluk Bakau, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri. 

Lanjutnya, untuk bahan pembuatan otak-otak langsung di pesan dari nelayan dan nelayan yang langsung menggilingnya.

Harga kedua bahan ini pun berbeda, seperti sotong biasa membeli bahan sotong dari nelayanan Rp 100 ribu/kg, sedang bahan ikan Rp 85 ribu/kg.

Sementara itu untuk cara pengelolahanya dengan cara dipanggang, ikan dan sotong yang dicincang dan digiling hingga halus lalu di campur dengan bahan lainya dan dibungkus dengan daun kelapa.

"Untuk usaha ini, Alhamdulilah hasilnya cukup lumayan untuk membatu ekonomi keluarga.

Walau kondisi pandemi Covid-19 saat ini pembeli sedikit berkurang.

Rosiana, pedagang lemper dan otak-otak ikan. Ia sudah 5 bulan berjualan di lokasi seberang Taman Bermadah, Kecamatan Siantan, Anambas
Rosiana, pedagang lemper dan otak-otak ikan. Ia sudah 5 bulan berjualan di lokasi seberang Taman Bermadah, Kecamatan Siantan, Anambas (TRIBUNBATAM.ID/RAHMA TIKA)

Tapi kita juga terkadang menerima permintaan dari konsumen yang memesan otak-otak dan mengantarkanya," terangnya.

Robiyah memberitahu, dirinya mulai berdagang otak-otak mulai dari pukul 07.00 WIB sampai 17.00 WIB.

"Tapi di hari libur seperti Sabtu dan Minggu biasanya dari pukul 07.00 WIB sampai pukul 06.00 WIB," ungkapnya.

Robiyah memiliki dua orang anak, yakni satu orang kini sudah bekerja dan membantu keluarga.

Sedangkan anak terakhir masih berumur 12 tahun.

"Kalau suami ibu baru bekerja di Puskesmas sebagai honor, dulu kerja serabutan dan beruntung kami ada jualan otak-otak ini.

Setidaknya bisa membantu perekonomian keluarga," sebutnya.

Perlu diketahui, dari informasi yang di dapatkan Tribun masyarakat disini berawal mula menyebut makanan ini sebagai otak-otak karena makanan ini memiliki tekstur dan warna yang mirip dengan organ otak manusia.

Namun walau disebut dengan nama otak-otak, namun makanan ini tidak menggunakan bahan dasar otak sama sekali.

Melainkan menggunakan bahan ikan dan sotong yang menjadi salah satu makanan yang sehat.(TribunBatam.id/Alfandi Simamora)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Penulis: Alfandi Simamora
Editor: Septyan Mulia Rohman
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved