Breaking News:

BATAM TERKINI

DBD di Batam, Dinas Kesehatan Catat 145 Kasus Sepanjang 2021, Setiap Tahun Meningkat

Dinas Kesehatan Batam mencatat, pada Januari 2021 ada 87 kasus DBD, sedangkan pada Februari sebanyak 58 kasus. Total 145 kasus

Penulis: Beres Lumbantobing | Editor: Dewi Haryati
TribunBatam.id/Bereslumbantobing
Foto Kadinkes Batam, Didi Kusmarjadi. DBD di Batam, Dinas Kesehatan Catat 145 Kasus Sepanjang 2021, Setiap Tahun Meningkat 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - DBD di Batam, Dinas Kesehatan Catat 145 Kasus Sepanjang 2021, Setiap Tahun Meningkat.

Ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) masih mengintai warga Batam dan perlu mendapat perhatian serius.

Apalagi penyakit DBD ini kerap menjadi momok menakutkan, lantaran bisa menyerang siapa pun. Bahkan bisa sampai mengakibatkan kematian.

Di Batam, kasus DBD tergolong cukup tinggi. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Batam, sepanjang tahun 2021 ini ada 145 kasus DBD.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yakni 113 kasus.

Baca juga: 6 Cara Cegah Penyakit DBD Saat Musim Hujan, Coba Pasang Ini di Sekitar Rumah

Baca juga: Cegah DBD, Warga Tanjung Sengkuang Gotong Royong, Pak Lurah Juga Ikutan Lho

"Hingga 23 Februari 2021 ini tercatat ada 145 kasus DBD di Batam," kata Kepala Dinkes Batam Didi Kusmarjadi, Rabu (24/2/2021).

Kasus DBD tersebut tersebar hampir di seluruh kecamatan di Batam. Didi merinci, sepanjang Januari 2021 ada 87 kasus. Sementara bulan Februari ada 58 kasus.

Jika melihat data Dinkes Batam, jumlah kasus DBD di Batam meningkat setiap tahunnya. Jika di tahun 2017 ada 593 kasus, naik menjadi 639 kasus DBD di tahun 2018. Kemudian naik menjadi 728 kasus di tahun 2019 dan naik lagi 746 kasus di tahun 2020.

Bila melihat data penyebaran di tahun 2020 lalu, Kecamatan Batam Kota menjadi daerah penyumbang DBD tertinggi yakni 66 kasus. Disusul Kecamatan Batuaji 49 kasus dan Kecamatan Sagulung dengan 36 kasus.

Upaya penanganan DBD terus dilakukan, salah satunya dengan rutin melakukan fogging di tingkat lingkungan masyarakat, kemudian melakukan pemberantasan sarang nyamuk.

Gerakan serentak kegiatan kerja bakti atau PSN di rumah masing-masing dan sekitarnya. Fokus titik sasaran, air yang tidak berhubungan langsung dengan tanah, tempat penampungan air, air jebakan semut (kaki meja), air pembuangan kulkas, tempat minum burung yang jarang diganti, pot bunga, dispenser air minum dan barang bekas sekitar rumah.

"Semisal ban, kaleng, bathok atau tempurung kelapa, botol, gelas air mineral, potongan bambu, semua tempat yang bisa menampung air," jelas Didi.

Selain itu ia mengimbau masyarakat untuk memastikan tidak ada jentik nyamuk di rumah. Sebab satu jentik betina dalam 12 sampai 14 hari akan berubah menjadi nyamuk dewasa.

Satu nyamuk betina dewasa dalam sekali bertelur bisa mencapai 100-150 butir telur.

"Ada jentik berarti kita terancam Demam Berdarah. Jam kerja nyamuk Aedes Agypti dan Aedes Albopictus pagi 09.00 - 10.00 WIB dan sore 15.00 - 16.00 WIB," jelasnya.

(Tribunbatam.id/bereslumbantobing)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved