Breaking News:

Jaksa Peneliti Kurang Cermat, Kasus 4 Pria Petugas Forensik Mandikan Jenazah Wanita Dihentikan

Kejari Pematangsiantar hentikan penuntutan perkara empat pria petugas forensik yang memandikan jenazah wanita, akui tidak cermat jaksa peneliti

Tribun-Medan.com/Alija Magribi
Kepala Kejaksaan Negeri Pematangsiantar Agustinus Dososeputro menggelar konferensi pers terkait penghentian kasus pemandian jenazah non syariat Islam, di PTSP Kejari Siantar, Rabu (24/2/2021). 

Jenazah wanita asal Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara itu dimandikan empat orang pria petugas forensik RSUD Djasamen Saragih.

Keempat orang pria tersebut berinisial DAAY, ESPS, RS, dan REP. Dua di antaranya berstatus sebagai perawat.

Laporan dilakukan, karena Fauzi Munthe tak terima ketika jenazah istrinya, Zakiah (50) dimandikan oleh 4 pria petugas forensik.

Para petugas forensik tersebut dianggap melakukan penistaan agama karena memandikan jenazah wanita yang bukan muhrimnya.

Prosedur penanganan jenazah Zakiah dianggap tak sesuai dengan syariat Islam fardu kifayah. Yakni jenazah wanita dimandikan pria yang bukan muhrim di ruang instalasi jenazah forensik RSUD Djasemen Saragih.

Selain itu, pada 24 Juni 2020, telah diatur prosedur penanganan jenazah Covid-19 khususnya untuk umat Islam yang telah disepakati oleh MUI Kota Pematangsiantar, pihak RSUD Djasamen Saragih, dan Satgas Covid-19.

2. Terjadi aksi unjuk rasa

Setelah kasus ini sedang bergulir, sekitar seribu massa aksi bela Islam menggelar demonstrasi di Kota Pematangsiantar terkait pemandian jenazah perempuan tersebut.

Sejak pagi massa aksi terlihat berkumpul di Lapangan Haji Adam Malik, Kota Pematangsiantar pada Senin (5/10/2020).

Massa terdiri dari anak santri, kaum ibu, dan para kiai sembari membawa spanduk bertuliskan pencopotan Direktur RSUD dr Djasamen Saragih, dr Ronald Saragih dan juga menuntut pihak Polres Siantar menuntaskan kasus tersebut.

Pemimpin aksi bela umat Islam Kota Pematangsiantar, Syahban Siregar dalam orasinya mengatakan tindakan yang dilakukan bilal mayit oleh empat orang pria telah mencederai hak azasi manusia dan bertentangan dengan syariat Islam.

Bahkan, aksi unjuk rasa ini digelar lebih dari satu kali hingga mendatangi Mapolres Siantar.

Kapolres Pematangsiantar menerima kunjungan MUI dan sejumlah santri dari Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, Rabu (23/9/2020) lalu. Kedatangan ini terkait kasus pemandian jenazah wanita oleh empat pria petugas forensik RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar.
Kapolres Pematangsiantar menerima kunjungan MUI dan sejumlah santri dari Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, Rabu (23/9/2020) lalu. Kedatangan ini terkait kasus pemandian jenazah wanita oleh empat pria petugas forensik RSUD Djasamen Saragih Pematangsiantar. (Tribun-Medan.com/Alija Magribi)

3. Polres Siantra minta keterangan MUI

Sementara itu Kasat Reskrim Polres Pematangsiantar AKP Edi Sukamto mengatakan saat penyelidikan, polisi meminta keterangan pengurus MUI Pematangsiantar, Direktur RSUD Djasamen Saragih, dan mendatangkan saksi ahli.

“Itu keterangan saksi ahli dan keterangan MUI yang kita pegang.

Sudah kita panggil MUI, bahwasanya MUI menerangkan perbuatan mengenai penistaan agama,” kata Sukamto saat dihubungi lewat sambungan telepon, Jumat (19/2/2021).

Tersangka penistaan disematkan saat empat pria tersebut memandikan jenazah wanita.

Ia menjelaskan kasus tersebut telah diserahkan ke Kejaksaan Negeri Siantar setelah berkas dinyatakan lengkap oleh jaksa.

Kasus tersebut akan dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan.

“Kita hanya mengajukan, jadi itu semua petunjuk jaksa. Ya sudah kita sampaikan,” ucapnya.

4. Minta para perawat tetap tenang dan bekerja profesional

Sementara itu Ketua DPW PPNI Sumut, Mahsur Al Hazkiyani mengimbau perawat di Kota Pematangsiantar tetap bekerja profesional untuk membaktikan diri tanpa membeda bedakan suku agama, golongan dan jenis kelamin.

Ia menyebut ada 1817 perawat di Kota Pematangsiantar dan 750 orang di Kabupaten Simalungun.

“Kami minta perawatan untuk tetap tenang jangan terprovokasi, tetap bekerja profesional dan tetap menjaga kerukunan umat beragama,” pungkasnya.

Empat petugas forensik di RSUD Djasemen Saragih Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, ditetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama.

Hal itu gara-gara mereka memandikan jenazah Zakiah (50) seorang pasien wanita suspek Covid-19.

Zakiah meninggal pada Minggu (20/9/2020) lalu setelah mendapatkan perawatan.

Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah Noor bersama Kapolres Siantar, AKBP Boy Sutan Binanga Siregar saat menampung aspirasi pengunjuk rasa, Senin (5/10/2020) di Lapangan Adam Malik Pematangsiantar.
Wali Kota Pematangsiantar Hefriansyah Noor bersama Kapolres Siantar, AKBP Boy Sutan Binanga Siregar saat menampung aspirasi pengunjuk rasa aksi bela Islam terkait pemandian jeazah perempuan oleh 4 petugas forensik RSUD Djasamen, Senin (5/10/2020) di Lapangan Adam Malik Pematangsiantar. (Tribun-Medan.com/Alija Magribi)

Empat pria petugas forensik tersebut adalah inisial DAAY, ESPS, RS, dan REP. Dua di antara mereka berstatus sebagai perawat.

Mereka ditetapkan sebagai tahanan kota sejak Kamis (18/2/2021). Namun petugas tidak melakukan penahanan karena tenaga empat pria tersebut dibutuhkan di ruang instalasi jenazah forensik.

Kasi Pidum Kejari Siantar, M Chadafi mengatakan, para tersangka adalah tenaga khusus untuk menangani jenazah di masa pandemi Covid-19.

"Kita khawatir kalau dilakukan penahanan di rumah tahanan akan mengganggu proses berjalannya kegiatan forensik. Di antaranya memandikan jenazah dan sebagainya."

"Kita gak mau gara-gara ini kegiatan itu terhenti apalagi sekarang kondisi pandemi," kata Chadafi di kantor Kejari Pematangsiantar.

Sementara itu pengurus puluhan anggota Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) turut hadir mendampingi para tersangka sebagai bentuk solidaritas.

PPNI juga memberikan pendampingan hukum kepada para tersangka selama proses hukum berjalan.

"Kami sebagai kuasa hukum PPNI siap memberikan bantuan hukum hingga proses persidangan," kata Pengacara dari Badan Bantuan Hukum PPNI, Muhammad Siban.

Pematangsiantar, Kamis (18/2/2021), memberikan bantuan hukum kepada 4 petugas forensik yang dijerat pasal penistaan agama karena memandikan jenazah wanita. " />

Puluhan anggota dan pengurus PPNI dan pengacara dari Badan Bantuan Hukum PPNI Muhammad Siban di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Pematangsiantar, Kamis (18/2/2021), memberikan bantuan hukum kepada 4 petugas forensik yang dijerat pasal penistaan agama karena memandikan jenazah wanita. (KOMPAS.com/TEGUH PRIBADI)

5. Petisi Bebaskan 4 Nakes Penodaan agama tembus 17000 tanda tangan 

Kasus pemandian jenazah yang tidak dilaksanakan dengan syariat Islam ini memunculkan gerakan perlawanan.

Adalah Gerakan Merawat Akal Sehat mengumpulkan petisi mendukung 4 Nakes yang dijerat pasal penodaan agama.

Gerakan yang dipelopori sejumlah influencer Denny Siregar, Dara Nasution dan Ade Armando itu hingga Rabu (24/2/2022) Pukul 13.30 WIB sudah menyentuh angka 17.675 tanda tangan. 

Dalam keterangannya, Gerakan Merawat Akal Sehat menuntut 5 hal yakni, negara membebaskan 4 Nakes dari segala tuntutan.

Karena menurut mereka, penodaan agama itu merupakan pendapat MUI. Sementara MUI bukan otoritas hukum di Indonesia. 

Kemudian, jika kasus sampai pada peradilan, negara harus menyiapkan pengacara terbaik untuk membebaskan mereka.

Selanjutnya mereka meminta pemerintah harus melindungi petugas medis dari kasus serupa. 

Tim Satgas COVID-19 harus ikut bertanggung jawab atas kasus tersebut dan tidak boleh lepas tangan. Dan terakhir, aparat hukum jangan gegabah menggunakan pasal penistaan agama.(tribumedan/kompas)

Editor: Agus Tri Harsanto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved