Viral Sosok Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo, Ternyata Anak Eks Panglima TNI dan Wakil Presiden RI

Sosok Kunto Arief Wibowo kini berpangkat Brigadir Jenderal TNI yang ternyata anak mantan panglima TNI dan Wakil Presiden RI

Istimewa/Dok.Penrem 032 Wirabraja
Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo dan istri 

TRIBUNBATAM.id - Bagi generasi kelahiran 1980-an dan 1990-an tentu tidak asing lagi mendengar nama Try Sutrisno.

Try Sutrisno adalah mantan Wakil Presiden RI di era Soeharto yang berasal dari kalangan militer.  

Jabatan terakhir Try Sutrisno sebelum menjadi Wakil Presiden RI adalah Panglima ABRI (Sekarang TNI).

Kabar terbaru dari Try Sutrisno, putranya yang bernama Kunto Arief Wibowo baru saja naik pangkat menjadi Brigjen TNI

Lantas, siapa Brigjen Kunto Arief Wibowo? 

Bagaimana perjalanan karir Brigjen Kunto? 

Ia adalah seorang perwira tinggi TNI AD yang mulai tanggal 9 April 2020 memegang jabatan sebagai Kepala Staf Komando Daerah Militer III/Siliwangi.

Kunto, lulusan Akmil 1992 ini dari kecabangan Infanteri.

Sebelumnya, jenderal bintang satu ini menduduki jabatan sebagai Komandan Korem 032/Wirabraja.

Riwayat Jabatan:

- Danton Yonif Linud 502/Ujwala Yudha

- Danton Yonif Linud 412/Bharata Eka Sakti

- Kasi-2/Ops Korem 083/Baladhika Jaya (2007-2008)

- Danyonif 500/Raider (2008-2009)

- Dansatdik Sussarcab Pusdikif Pussenif (2009-2010)

- Kasbrigif 13/Galuh (2010—2012)

- Danbrigif 6/Trisakti Baladaya (2012—2013)

- Kadep Teknik Akmil (2013—2014)

- Asops Kasdam IX/Udayana (2014—2015)

- Danrem 044/Garuda Dempo (2016—2018)

- Danpuslatpur Kodiklatad (2018—2019)

- Danrem 032/Wirabraja (2019—2020)

- Kasdam III/Siliwangi (2020—Sekarang)

Biodata Try Sutrisno

Sama seperti sang anak, Jenderal (Purn) Try Sutrisno juga memulai karir militernya setelah menyelesaikan penddikan di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD).

Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 15 November 1935.

Ayahnya, Subandi adalah seorang sopir ambulans, sedangkan ibunya, Mardiyah adalah seorang ibu rumah tangga.

Seperti dilansir dari Tribunnews Wiki dalam artikel 'Try Sutrisno'

Try Surtrisno menamatkan pendidikan dasar dan menengahnya di Surabaya. Setelah tamat dari SMP 2 Surabaya, ia kemudian melanjutkan ke SMA 2 Surabaya.

Pada usia 13 tahun, ketika Belanda kembali dan melakukan agresi militer, ia ingin bergabung dengan Batalyon Poncowati untuk ikut berperang.

Namun karena tidak ada yang menganggap keinginan Try serius, maka ia hanya dipekerjakan sebagai kurir.

Tugasnya adalah mencari informasi ke daerah-daerah yang diduduki oleh tentara Belanda serta mengambil obat untuk Angkatan Darat Indonesia. Hingga pada 1949, Belanda akhirnya dapat dipukul mundur.

Setelah sebelumnya harus pindah ke Mojokerto karena serangan Belanda itu, setelah mundurnya Belanda Try dan keluarganya akhirnya kembali ke Surabaya. Di sana Try melanjutkan sekolahnya dan berhasil tamat dari SMA di usianya yang ke-21.

Lulus dari SMA, Try Sutrisno kemudian melanjutkan Pendidikan ke Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Pendidikan militernya di Atekad selesai pada tahun 1959.

Riwayat Karier:

- Ajudan Presiden Suharto (1974)

- Kepala Staf KODAM XVI/Udayana (1978)

- Panglima KODAM IV/Sriwijaya (1979)

- Panglima KODAM V/Jaya (1982)

- Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (1985)

- Kepala Staf Angkatan Darat (1986)

- Panglima ABRI (1988)

- Wakil Presiden (1993-1998)

Pengalaman militer pertama Try Sutrisno adalah ketika ia ditugaskan dalam peperangan melawan pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1957.

PRRI sendiri merupakan sebuah kelompok sparatis yang berbasis di Sumatera, dimana mereka ingin membentuk pemerintahan alternatif di luar pemerintahan Soekarno.

Ia kemudian dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada tahun 1972. Kemudian pada 1974, ia terpilih menjadi ajudan Presiden Suharto. Sejak saat itulah kariernya di militer terus meroket (1).

Pada 1978, Try diangkat sebagai Kepala Staf KODAM XVI/Udayana. Setahun beselang, Try kemudian menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya.

Sebagai Pangdam, Try Sutriso aktif menekan tingkat kejahatan serta menghentikan penyelundupan timah. Ia juga aktif di kampanye lingkungan untuk mengembalikan Gajah Sumatera ke habitat asli mereka.

Pada 1982, Try kemudian dipindahkan ke Jakarta, ia diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya.

Masa-masa ketika ia menjadi Pangdam V/Jaya menjadi salah satu masa kelam dalam hidupnya. Try Sutrisno bersama Panglima ABRI saat itu, Benny Moerdani adalah tokoh utama dalam tragedi Tanjung Priok 1984.

Sampai saat ini belum ada data pasti terkait jumlah korban dalam tragedi tersebut. Pemerintah mengklaim ada 28 orang yang tewas dalam kerusuhan tersebut, namun dari pihak korban tetap bersikeras bahwa jumlah korban yang tewas ada 700 orang (2).

Kendati demikian, kariernya terus berkembang. Pada 1985, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Hanya berselang setahun, pada 1986, ia diangkat sebagai KSAD.

Try menjabat sebagai KSAD selama dua tahun.

Setelah lengser, pada 1988 ia kemudian diangkat menjadi Panglima ABRI. Jabatan ini merupakan puncak kariernya di militer.

Masa jabatannya sebagai Panglima ABRI berakhir pada 1993.

Kendati demikian, bukan berarti kariernya berhenti sepenuhnya. Di tahun yang sma, pada 1993 ia justru diangkat menjadi wakil presiden mendampingi Soeharto.

Sebagai wakil presiden yang ke-6, Tri mendampingi Suharto sampai 1998 sebelum posisinya digantikan oleh B. J. Habibie menjelang reformasi.

Setelah jabatannya sebagai wakil presiden selesai, Try tidak serta merta melepaskan perhatiannya terhadap keadaan bangsa. Ia tetap aktif menyoroti kinerja pemerintahan.(*)

LIHAT VIDEONYA DI TRIBUN BATAM:

BACA BERITA LAIN TRIBUN BATAM DI GOOGLE NEWS

TONTON YOUTUBE__TRIBUN BATAM.ID :

 

Artikel ini telah tayang di surya.co.id dengan judul Biodata Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo Putra Mantan Panglima ABRI Try Sutrisno, Jadi Jenderal TNI AD.

Sumber: Surya
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved