Senin, 20 April 2026

HUMAN INTEREST

Kadis Rasa Teman Curhat, Kisah Ardiwinata Mengabdi di Pemko Batam, Kini Jadi Kadisbudpar

Dalam bekerja, Kadisbudpar Batam Ardiwinata tidak hanya memposisikan diri sebagai atasan. Ia juga mampu jadi teman diskusi dan curhat bagi bawahannya

Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/istimewa
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam Ardiwinata. Kadis Rasa Teman Curhat, Kisah Ardiwinata Mengabdi di Pemko Batam, Kini Jadi Kadisbudpar 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Pria kelahiran Selat Panjang, Riau, 29 Juni 1969 ini, berjalan memasuki Gedung DPRD Batam. Sambil menenteng ponsel dan power bank-nya, ia memasuki Gedung Serbaguna DPRD Batam untuk mengikuti rapat dengan sejumlah tokoh pariwisata.

"Kita rapat terkait keluar masuknya wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara yang akan masuk ke Batam," ujar pria yang pernah menjabat sebagai Kabag Humas Pemko Batam, Ardiwinata, belum lama ini.

Ya, di kalangan wartawan di Batam sosok Ardiwinata memang cukup familiar dan diterima. Sewaktu menjabat sebagai Kabag Humas Pemko Batam setiap malam, sekitar pukul 23.00 WIB, Ardi selalu mengirim jadwal agenda Wali Kota Batam, Ahmad Dahlan dan Wakil Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

Menariknya, setiap kegiatan kepala daerah yang digelar di luar Batam Centre, ia selalu mengupayakan wartawan untuk berangkat bersama menggunakan mobil Humas.

Sosok Ardi dekat dengan wartawan karena komunikasi antara Humas Pemko Batam sebagai 'jembatan' kepala daerah dengan media.

Baca juga: Disbudpar Batam Gelar Live Painting bersama Komunitas Seni di Batam

Baca juga: Batam Punya Pabrik Batu Bata Tertua, Kini Ditelusuri Disbudpar Batam

Ia mampu memposisikan diri sebagai fasilitator. Komunikasi dengan media ia bangun secara langsung dan bukan melalui personel Humas Pemko Batam yang lainnya.

Selain dengan wartawan, komunikasi dengan para stafnya di Humas Pemko Batam dulu, juga mampu dibangun dengan baik. Ardi tidak hanya menjadi atasan yang mampu mengarahkan pegawai untuk menjalankan tugas dengan baik.

Namun menjadi teman diskusi dan curhat bagi bawahannya. Pantauan Tribunbatam.id hubungan antara Ardi dan anggotanya berjalan seperti teman.

"Atasan yang baik, harus menjadi teman yang baik bagi bawahan. Sehingga, tahu apa yang diinginkan anak buah dan anak buah lebih bersemangat dan bertanggungjawab menjalankan tugas yang diberikan," kata Ardi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata (posisi di tengah) sedang menyantap makan khas Melayu berupa lendot, yang akan menjadi menu baru Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam pada Maret mendatang, di Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam, Jalan Duyung, Sei Jodoh, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (8/2/2021)
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata (posisi di tengah) sedang menyantap makan khas Melayu berupa lendot, yang akan menjadi menu baru Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam pada Maret mendatang, di Swiss-Belhotel Harbour Bay Batam, Jalan Duyung, Sei Jodoh, Kecamatan Batu Ampar, Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (8/2/2021) (ISTIMEWA)

Ia mengakui, membangun komunikasi dengan bawahan, atasan, wartawan dan mitra Pemko Batam bukan hal baru baginya. Pasalnya, sebelum menjalani tugas di Humas, ia juga sempat beberapa tahun bertugas sebagai Kabag di Dinas Pariwisata Batam.

Tidak berbeda jauh dengan aktivitasnya saat ini, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam ini berhubungan dengan mitra Disbudpar, seperti pihak perhotelan, tempat hiburan dan lainnya. Membangun hubungan dengan mitra di luar pemerintahan Batam, bukan hal baru bagi Ardi.

"Intinya kita tidak hanya bicara kepentingan kita. Tapi bagaimana kita bisa bekerja sama dengan membuka diri untuk orientasi yang baik untuk Batam," sambung pria yang dikenal mudah bergaul ini.

Sebelum bertugas di Dispar dan Humas, Ardi juga lama menjalani tugasnya sebagai pegawai di Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Diakui, setiap posisi yang diembannya selalu dinikmati.

"Tapi di Humas, lebih banyak kita tahu. Semua bidang harus kita pelajari dan perlu untuk kita ketahui. Jadi kalau ditanya pak Wali atau Wawako, kita bisa kasih gambaran," imbuh Ardi.

Penyerahan empat jam dinding Simpang Jam kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ardiwinata, untuk mengisi koleksi Museum Batam Raja Ali Haji, Kamis (29/10/2020).
Penyerahan empat jam dinding Simpang Jam kepada Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Ardiwinata, untuk mengisi koleksi Museum Batam Raja Ali Haji, Kamis (29/10/2020). (TRIBUNBATAM.id/HENING SEKAR UTAMI)

Selain itu, saat ditanya terkait kesehariannya dalam menjalankan tugasnya, Ardi mengaku hanya ingin melakukan tugas yang diembankan secara maksimal.

"Kadang ngantuk juga kalau sampai jam 12 malam ikut acara, kemudian pagi harus ke kantor lagi. Tapi saya bersyukur, jarang sakit dan keluarga mendukung," kata Ardi.

Istri Ardi sendiri merupakan PNS di lingkungan Pemko Batam. Jadi sedikit banyak tahu tugas yang diemban suaminya.

"Saya beruntung mendapat istri yang memahami tugas suami. Demikian juga dengan anak-anak saya. Tapi saat tidak ada kegiatan pak Wali atau pak Wawako, waktuku full untuk anak.

Kecuali malam, ada teman-teman wartawan ngajak nongkrong," ujar Ardi.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dusbudpar) Kota Batam, Ardiwinata saat berkunjung ke Kampung Seni di Perumahan Bida Kharisma, Batam Center, Kota Batam, Provinsi Kepri.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Dusbudpar) Kota Batam, Ardiwinata saat berkunjung ke Kampung Seni di Perumahan Bida Kharisma, Batam Center, Kota Batam, Provinsi Kepri. (TribunBatam.id/Istimewa)

Ardi merupakan anak pulau yang mengecap pendidikan formal dari SD hingga SMA di kampung halamannya Selat Panjang. Sebelum menjadi PNS, Ardi terlebih dulu mencicipi pendidikan di APDN Pekanbaru, sekitar tahun 1989. Kemudian lanjut di Institut Ilmu Pemerintahan di Jakarta.

Selepas menamatkan pendidikannya, Ardi bertugas di Kantor Lurah Saban, Indragiri Hilir. Kemudian ditempatkan di Kantor Camat Madah dan Kantor Bupati Indragiri Hilir, Tembilahan Provinsi Riau.

Setelah Batam berpisah dari Provinsi Riau, sekitar tahun 2000, Ardi kemudian pindah ke Batam. Pertama kali menjalani kegiatan di Batam, ia ditugaskan di BKD, sebelum masuk Dinas Pariwisata Batam.

Di Humas, Ardi menggantikan Salim, yang diangkat menjadi Kepala Badan Komunikasi dan Informatika Pemko Batam saat itu.

Ditanya keinginan ke depan, Ardi hanya mengungkapkan harapan, ingin terlibat dalam meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat. Namun ia enggan berkomentar lebih jauh, persoalan yang perlu mendapat penanganan lebih serius.

Sekarang, pria yang memiliki 2 orang anak ini sudah menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam. Sama seperti tugas-tugas sebelumnya, Ardi bilang tugasnya saat ini juga punya tantangan.

Pekerjaan rumahnya yakni mengembalikan kembali kunjungan wisman ataupun wisnus yang datang ke Batam seperti sediakala di tengah pandemi Covid-19.

"Pandemi Covid-19 ini memang membuat kunjungan wisatawan kita menurun drastis," katanya.

Kendati demikian, ia tetap berupaya untuk membangkitkan kembali tempat-tempat wisata di Batam pada era new normal ini. Pastinya dengan adanya penerapan CHSE. Hal ini sebagai jaminan nantinya, apabila pintu gerbang wisata dibuka kembali, Batam siap menerima kunjungan wisman tanpa adanya rasa takut dan khawatir.

Selain itu, Ardi juga ketat menjalankan protokol kesehatan seperti tempat lainnnya. Misalnya hotel, restoran, dan beberapa tempat lainnya.

Bahkan terakhir, ia memanggil 20 pelaku Wedding Organizer se Kota Batam. Pemanggilan ini terkait ditemukannya penerapan protokol kesehatan yang mulai kendor pada saat berlangsungnya suatu acara.

Dalam pertemuan yang berlangsung di ruang rapat Disbudpar tersebut, Ardi mengevaluasi penyelenggaraan kegiatan yang dilaksanakan pelaku wedding organizer.

“Saya temukan sendiri wedding organizer ada yang mulai lalai dengan protokol kesehatan,” tegasnya.

Ardi menekankan untuk senantiasa menerapkan protokol kesehatan dalam penyelenggaraan kegiatan yang diadakan, seperti pernikahan, khitanan, dan sebagainya. Protokol kesehatan yang harus diterapkan itu diantaranya memakai masker, mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan menjaga jarak.

“Dalam pelaksanaanya, wedding organizer harus menyiapkan masker, hand sanitizer, tanda jaga jarak, menyediakan pengecek suhu tubuh, dan pelaku wedding organizer menggunakan sarung tangan. Protokol kesehatan wajib dilaksanakan, bila perlu satu orang ditugaskan khusus untuk mengingatkan pelaksanaan protkes kepada tamu. Setiap dua jam acara pelaku wedding organizer wajib mengganti sarung tangan," ingatnya.

Dikatakannya, protokol kesehatan ini adalah salah satu cara untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Kota Batam. Pemerintah Kota (Pemko) Batam berjibaku menyelesaikan Covid-19 di Batam.

“Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) terhitung 15 Juni 2020 telah memberlakukan new normal dengan syarat harus menerapkan protokol kesehatan," katanya.

Oleh karena itu sebelum pelaksanaan kegiatan, wedding organizer juga wajib membuat surat pernyataan bertanda tangan diatas materai kesediaan menerapkan protokol kesehatan dan menyerahkan kepada Pemko Batam melalui Disbudpar Kota Batam. Ardi berharap protokol kesehatan dilaksanakan dengan benar dan sesuai anjuran pemerintah.

(tribunbatam.id / Roma Uly Sianturi)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved