HUMAN INTEREST
CURHAT PSK di Batam saat Pandemi Covid-19, 'Cari Rp 500 Ribu Aja Sekarang Susah'
Pandemi covid-19 juga dirasakan oleh PSK di Batam. Bagaimana kisah mereka untuk bertahan hidup di kota industri ini?
BATAM, TRIBUNBATAM.id – Kota Batam di Provinsi Kepri tak hanya dikenal dengan sektor industri saja.
Gemerlap dunia hiburan malam, kadung dikenal banyak orang.
Apalagi letak kota yang bertetangga dengan Negara tetangga, Singapura dan Malaysia.
Begitu dengan sejak pandemi Covid-19 melanda Batam.
Tak hanya sektor industri yang harus tungkus lumus.
Dunia hiburan pun jelas ikut terkena imbasnya.
Sektor ini seolah kehilangan daya magisnya.
Kondisi ini dirasakan betul oleh Caca, bukan nama sebenarnya, seorang pekerja seks di Batam.
Setahun lamanya, terhitung sejak virus corona di Batam, pendapatannya menurun drastis.
Aturan social distancing dan tertutupnya pintu masuk bagi wisatawan mancanegara (wisman) menjadi alasannya.
“Biasanya, satu malam itu bisa Rp 5 juta atau lebih. Sekarang, nyari Rp 500 ribu saja susah,” ujar Caca kepada TribunBatam.id, Sabtu (27/3/2021) malam.
Lanjut Caca, uang sebesar Rp 5 juta itu bisa didapatkannya setelah melayani 5 hingga 10 pelanggan.
Namun kini, mencari 2 hingga 3 pelanggan saja dirinya kesulitan.
“Siapa sih bang yang mau hidup dengan cara ini terus? Saya ini harus menyekolahkan anak,” katanya lagi.
Sambil memainkan ponsel pintar (smartphone) miliknya, Caca bercerita jika pekerjaan ini baru ditekuninya sejak beberapa waktu lalu.
Sebelum pandemi Covid-19 masuk ke Batam, dirinya adalah seorang pemandu lagu (ladies escort) di salah satu pub Kota Batam.
Baca juga: Peras Mucikari dan PSK, Kompol AS tak Berkutik saat Diciduk Anggota Resmob Polda Metro Jaya
Baca juga: Masih SMP Sudah Berani Jual Diri, PSK Belia 7 Kali Open BO, Tarifnya Murah Sekali !
Saat itu, tugas Caca hanya menemani tamu-tamu pub berkaraoke.
Bayaran untuknya pun tergantung dari banyaknya tamu dalam satu malam.
“Lumayan bang pendapatannya. Tapi karena pandemi, tempat saya bekerja itu tentu tak sanggup bayar kami.
Untuk operasional saja sudah berat dengan kondisi sekarang ini,” sedihnya.
Ia pun memilih untuk menjajakan diri ke pria hidung belang demi bertahan hidup di Batam.
Cara yang dipilihnya pun dengan berjualan di salah satu aplikasi media sosial.
Diyakininya, cara ini sedikit lebih ampuh untuk menarik para penikmat jasanya.
Sebab, ia tak perlu menunggu calon pelanggan di jalan-jalan atau lorong-lorong terpencil hingga larut malam.
“Kadang ada juga yang PHP. Tapi bagaimana lagi, harus pandai-pandai cari pelanggan yang jelas,” ungkap dia.
Senada dengan Caca, PSK di Batam lainnya, Riris (bukan nama sebenarnya) juga mengatakan demikian.
Di tengah sulitnya perekonomian warga akibat pandemi, ia pun harus bekerja ekstra untuk menarik minat pelanggan.
Jika tidak begitu, kebutuhan sehari-harinya pun ikut terancam.
“Anak saya mau makan apa? Memang dia sedang di kampung sama neneknya.
Tapi saya tetap harus tanggung jawab,” kata Riris.
Sebetulnya, Riris tak ingin menjalani profesi ini. Tapi mau bagaimana, tingginya biaya hidup membuatnya mengambil jalan pintas.
“Saya pun malu kalau keluarga tahu. Makanya foto di aplikasi tak saya pasang foto utuh, hanya tampak badan,” tambah dia lagi.
Riris nekat untuk menjadi seorang pekerja seks di Batam setelah bercerai dengan suaminya beberapa waktu lalu.
“Lagi pula, pendidikan saya juga tak memadai. Jadi ya begini,” sesalnya.
Ia pun berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir. “Semoga semua membaik seperti sedia kala,” harapnya.(TribunBatam.id/Ichwan Nur Fadillah)
Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google
Berita Tentang Batam