Selasa, 5 Mei 2026

TRIBUN WIKI

Sosok Johny Indo, Perampok yang Dicintai Rakyat Miskin, Insaf hingga Jadi Pendakwah

Inilah sosok Johny Indo, perampok yang dicintai rakyat miskin, buronan ABRI hingga jadi Dai.

Tayang: | Diperbarui:
ISTIMEWA
SOSOK - Inilah sosok Johny Indo, perampok yang dicintai rakyat miskin, buronan ABRI hingga jadi Dai. FOTO: JOHNY INDO 

TRIBUNBATAM.id - Inilah sosok Jhony Indo, perampok yang dicintai rakyat miskin, buronan ABRI hingga jadi Dai.

Kisah penjahat baik hati yang membantu rakyat miskin tak hanya cerita fiktif belaka.

Sebab, sosok seperti itu betul-betul ada di dunia nyata, bahkan di Indonesia.

Adalah Johny Indo, perampok kelas kakap yang justru dicintai oleh rakyat miskin.

Bukan tanpa alasan, Johny Indo memang tak seperti penjahat kebanyakan.

Dia selalu membagikan hasil rampokannya pada rakyat miskin.

Sosoknya amat dicintai, bahkan hingga akhir hayatnya

Kisah Hidup Johny Indo, Perampok Kelas Kakap yang Membantu Rakyat Miskin Hingga Berhasil Kabur dari Nusakambangan, Akhir Hidupnya Tak Terduga.(Kolase | tribunnews / intisari online )

Sosok Johny Indo sangat menggerkan Indonesia di era 70 hingga 80-an.

Dia adalah perampok ulung kelas kakap yang amat licin.

Sosoknya bahkan menjadi target utama ABRI kala itu.

Johny pernah mendekam di lapas Nusakambangan namun berhasil kabur.

Kisahnya bahkan sempat diangkat ke layar lebar.

Lantas, siapa gerangan Johny Indo?

Baca juga: Sosok Memes Prameswari yang Dikabarkan dengan Billy Syahputra, Geser Amanda Manopo?

Baca juga: Cantiknya Sosok Ibunda Ariel NOAH, Disebut Mirip Sarah Amalia, Ini Penampilannya Plesiran ke Jepang

Baca juga: Profil Aura Kharisma, Wakil Indonesia Raih Runner Up 3 di Miss Grand International

Profil dan sosok Johny Indo

Johny Indo memiliki nama lengkap Yohanes Herbertus Eijkenboom.
Sosoknya dikenal sebagai perampok legendaris di Jakarta.

Mereka sempat membuat geger karena kerap melakukan aksi perampokan terhadap orang-orang kaya asing di Indonesia.

"Saat itu yang menjadi target rampok saya adalah orang-orang kaya asing di Indonesia,

" katanya dalam sebuah acara yang digelar Kementerian Sosial RI di Lembaga Pemasyarakatan di Bengkulu, Rabu (3/9/2014).

"Mereka juga banyak mengambil harta dari Indonesia, makanya saya rampokin dan uangnya saya bagi-bagikan ke masyarakat miskin."

Selama melangsungkan aksinya merampok emas pada akhir tahun 1970 hingga awal 1980, dia telah mengumpulkan 129 kilogram emas.

Namun jumlah yang sangat banyak tersebut justru dibagikan kepada masyarakat miskin.

Kehadiran Jhony Indo dan gangster Pachinko itu tentu saja menjadi target dari kepolisian yang saat itu masih bersatu dengan ABRI.

Ia harus beberapa kali masuk-keluar penjara.

Terakhir, di Nusakambangan, ia sempat melarikan diri bersama anak buahnya dari pengamanan superketat penjara dan menyerah setelah 11 hari bertahan hidup di tengah hutan.

Kisah kelam tersebut terurai dengan lancar dan polos oleh Jhony yang saat ini berganti nama menjadi Ki Umar Billah Al-Jhon Indo.

Beberapa cerita yang bersifat pribadi tetapi menggugah pun turut disampaikannya di hadapan 30 mantan warga binaan di Kota Bengkulu.

Selain menyampaikan kisah kelam pada masa muda,

Johny juga mengisahkan perjalanan hidup yang mengarahkannya menjadi seorang pendakwah dari kampung ke kampung.

Selain itu dia juga menjadi pengusaha batu akik di kawasan Pasar Poncol, Jakarta.

Perjalanan hidup masuk-keluar penjaralah yang mengenalkan ia pada kedekatan hidup spiritual dan selalu mengingat Tuhan.

"Saya berprinsip, hidup saat ini mencari makan halal saja. Walau itu kecil, asal berkah," ujarnya.

Johny juga menceritakan, dari usaha kecilnya, dia bisa menjadikan anaknya seorang dokter dan ahli IT di Hongkong.

"Masa anak preman bisa jadi dokter? Bisa, asal dijalankan mengharap ridho dari Allah," ungkapnya.

Komitmennya terhadap masyarakat kecil masih melekat hingga kini.

Pernah sekali waktu, lanjutnya, dia diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk mengisi ceramah di Istana Negara.

Namun, dia menolak, mengingat, pada waktu yang sama, ia telah lebih dahulu memiliki janji mengisi ceramah untuk masyarakat miskin di kawasan Blok M, Jakarta.

"Bukan saya tidak menghormati Presiden, tetapi saya sudah duluan berjanji dengan masyarakat miskin," tekannya.

Baca juga: Profil Mikhavita Wijaya, Istri Bams Samsons sekaligus Pebisnis, Pernah Terjerat Kasus Hukum

Baca juga: Profil Hotma Sitompul, Pengacara Kondang Rival Hotman Paris, Pernah Urus Kasus di Batam

Baca juga: Profil Desiree Tarigan, Ibunda Bams Samsons yang Awet Muda, 24 Tahun Setia ke Suami

Bisa berangkat haji

Di hadapan para mantan warga binaan lapas, Jhony juga membagikan hikmah dari keikhlasan.

Menurut dia, keikhlasan mengantarkan dirinya untuk mampu berangkat haji gratis ke Mekkah.

"Saat itu, saya melihat sampah begitu banyak di selokan kampung saya, tak ada yang mau membersihkannya. Lalu, secara inisiatif, saya bersihkan sampah yang berbau busuk dan menumpuk itu.

Secara tak sengaja, lewatlah pangeran Arab keturunan Raja Fahd.

Dia turun dari mobil dan aneh melihat saya bertato membersihkan sampah," kenangnya.

Saat itu, pangeran Arab tersebut mengomentari tato yang dimilikinya dengan kata haram.

Sempat terjadi perdebatan saat itu.

Namun, pasca-pertemuan itulah pangeran Arab itu menjemputnya dengan jet pribadi agar Jhony berangkat haji dengan layanan super-VVIP.

"Itu hikmah dari kerja ikhlas, buahnya nikmat saya bisa berangkat haji," tambahnya.

Sekali waktu, masih terkait soal ikhlas, dia pernah tak diberi honor saat menjadi penceramah.

Hal ini menyebabkan ia harus pulang berjalan kaki berpuluh kilometer.

Untuk naik angkot pun ia tak punya uang.

Namun, beberapa waktu kemudian, ia mendapatkan tawaran dari pengusaha kaya, untuk mengisi ceramah di perusahaan pengusaha tersebut dengan bayaran jutaan rupiah.

"Saat itu saya terkejut, begitu besarnya uang tersebut," ungkapnya.

Hingga kini, Jhony mengaku memiliki rumah baca di bawah Yayasan Jhon Indo Foundation yang disokong oleh Kementerian dan Dinas Sosial.

Kisah Jhon Indo tersebut merupakan motivasi bagi para mantan warga binaan lapas di Bengkulu agar mereka tetap optimistis menapaki hidup.

Ia juga berharap agar masyarakat umum tak memberikan stigma negatif berkepanjangan bagi para narapidana.

"Pernah dipenjara itu sudah menjadi perjalanan hidup kita, dan ditentukan Tuhan.

Namun, mulai ke depan, kita perbaiki hidup kita, mulai dari diri sendiri, keluarga,

dan seterusnya dalam upaya membangun Indonesia," ujar Johny bersemangat, diiringi riuh tepuk tangan para mantan preman yang menyimak ceramahnya.

Diskusi yang digelar Direktorat Rehabilitasi Sosial Tuna Susila Kementerian Sosial RI

itu bekerja sama dengan LSM Kantong Informasi Masyarakat (KIPAS)

semakin seru saat Kepala Dinas Sosial Provinsi Bengkulu Harnyoto

ikut memandu sebagai moderator dan memiliki pengetahuan cukup lengkap mengenai sepak terjang Jhon Indo pada masa muda.

"Beliau legenda Robin Hood-nya Indonesia. Saat ini, dengan semangatnya, ia bisa menjadi teladan banyak orang," kata Harnyoto.

Sebanyak 30 mantan warga binaan tersebut juga mendapatkan pendidikan berwirausaha

dari pemerintah serta bantuan modal agar dapat membangun hidup lebih baik,

diterima, dan bermanfaat bagi masyarakat.

12 Hari Menembus Hutan Perawan

Tanggal 20 Mei 1982, Johnny Indo, bersama 34 narapidana lain kabur dari Lembaga Pemasyarakatan Permisan di ujung barat Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Setelah bertarung 12 hari menembus hutan perawan, penuh jurang dan binatang buas, dia pun menyerah.

Kisah pelarian tersebut tertuang dalam buku Johny Indo: Tobat dan Harapan (1990).

Kisah narapidana (napi) itu mengukuhkan pulau ini sebagai penjara ”Alcatraz” di Indonesia.

Alcatraz adalah pulau penjara dengan tingkat keamanan maksimal di Teluk San Francisco, Amerika Serikat, yang ditutup tahun 1963.

Tak berlebihan membandingkan Nusakambangan dengan Alcatraz.

Terpisah selat yang dalam dengan daratan Pulau Jawa, alam Nusakambangan kian sangar dikurung belantara hutan tropis.

Pulau itu juga menjadi habitat hewan buas, seperti macan tutul dan ular berbisa.

Oleh sebab itu, hingga kini, Nusakambangan menjadi rujukan bagi napi kelas kakap, mulai dari kasus pembunuhan, perampokan, terorisme, hingga korupsi.

Selain Johny Indo, beberapa figur menonjol yang pernah menghuni Nusakambangan adalah Kusni Kasdut,

Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto), M Bob Hasan, Fabianus Tibo (terpidana kasus pembunuhan di Poso, Sulawesi Tengah),

serta napi kasus terorisme, seperti Amrozi, Imam Samudra, dan Mukhlas.

Tahun 1965-1970, Nusakambangan pernah menjadi tempat pembuangan sementara hampir 10.000 orang

yang diduga terlibat dalam gerakan komunis dan pemberontakan 30 September 1965, termasuk novelis Pramoedya Ananta Toer.

Selain sebagai penjara, pulau ini juga menjadi lokasi eksekusi bagi terpidana mati.

Salah satu lokasi yang sering menjadi tempat eksekusi adalah Lembah Nirbaya, sebuah dataran luas di tengah pulau.

Menurut beberapa petugas LP di Nusakambangan, area itu dikenal angker.

Penyeberangannya butuh waktu 10 menit dengan kapal khusus milik Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Di Nusakambangan, setiap LP terhubung jalan aspal.

Setiap penjara itu dikelilingi pagar kawat berduri dan dialiri listrik.

Sebagian lahan di Nusakambangan juga dimanfaatkan untuk perkebunan karet dan buah-buahan yang dikelola koperasi pegawai LP.

Beberapa napi ikut berkebun atau beternak. Pengunjung bisa membawa cendera mata berupa batu akik karya napi.

Johny Indo, Sang Robin Hood Indonesia tersebut meninggal dunia di Jakarta pada 26 Januari 2020.

Artikel ini telah tayang di Grid.ID dengan judul Kisah Hidup Johny Indo, Perampok Kelas Kakap yang Membantu Rakyat Miskin Hingga Berhasil Kabur dari Nusakambangan, Akhir Hidupnya Tak Terduga

Berita lain tentang TRIBUN WIKI

Baca berita terbaru lainnya di Google

Sumber: Tribun Manado
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved