Jumat, 24 April 2026

TRIBUN WIKI

Inilah Negara Paling Tidak Religius di Dunia, Sembah Alam hingga Bicara dengan Pohon

Inilah Negara Paling Tidak Religius di Dunia, Sembah Alam hingga Bicara dengan Pohon

ESTONIA
NEGARA - Inilah Negara Paling Tidak Religius di Dunia, Sembah Alam hingga Bicara dengan Pohon. FOTO: ESTONIA 

TRIBUNBATAM.id - Dari sekian banyak negara di dunia, ada satu negara yang ternyata paling tidak religius.

Memang, agama adalah hak dan kebebasan setiap orang.

Agama menjadi kepercayaan yang dipegang seseorang berkaitan dengan hubungannya dengan sang pencipta.

Memiliki agama ataupun tidak mempercayai Tuhan adalah pilihan masing-masing individu.

Agama pun memainkan penting dalam hidup manusia.

Namun, tidak demikian bagi warga negara ini.

Hampir semua orang Estonia berpendapat sebaliknya.

Sedikitnya hanya 20 persen orang Estonia yang sepakat jika agama berperan penting dalam kehidupannya.

Dengan pemikiran itu, Estonia dinobatkan sebagai negara paling tidak religius di dunia.

St. Alexander Nevsky Cathedral

Tempat-tempat ibadah terbilang tidak semarak.

Gereja Kubah Lutheran kota yang besar pada suatu Minggu, hampir semua dari 70 jemaah ternyata turis dari Belanda.

Biasaanya, maksimal hanya 15 orang Estonia yang datang ke gereja.

Pejabat tinggi gereja, Arho Tuhkru, bilang jika ini bukan masalah baru.

"Orang percaya, tapi mereka tidak mau menjadi anggota Gereja," ujarnya.

"Kami tidak memiliki tradisi seperti itu di mana seluruh keluarga datang ke gereja," ungkap Tuhkru.

Hal itu menjadi tren yang terlihat di setiap tingkatan masyarakat.

Di sekolah-sekolah, agama tidak ditonjolkan sebagai kurikulum pendidikan.

Dalam pelajaran sejarah, anak muda Estonia belajar tentang gelombang invasi yang dipimpin oleh Jerman dan Denmark, yang membawa agama Kristen ke negara itu.

Agama kemudian dilihat sebagai keyakinan para penjajah, yang ditolak oleh mayoritas.

"Saya pikir salah satu alasan utama mengapa kita saat ini dapat berbicara tentang Estonia sebagai masyarakat sekuler adalah karena identitas nasional dan agama tidak tumpang tindih," kata Ringo Ringvee, penasihat di departemen urusan agama Estonia.

Masalah lainnya adalah bahasa. Banyak orang Estonia yang tidak memahami misionaris asing yang datang untuk menyampaikan kotbah kepada mereka.

Selama hampir seluruh masa pemerintahan Soviet, yang berakhir pada 1991, ibadat umum tidak dianjurkan.

Sementara, di negara-negara bekas Soviet lainnya ada kebangkitan langsung agama Kristen pada titik kemerdekaan, di Estonia itu tidak pernah benar-benar terjadi.

Namun, itu tidak berarti orang Estonia sama sekali tidak percaya pada apapun.

Baca juga: 5 Negara Termiskin di Dunia Sepanjang Tahun 2020, Hidup Prihatin dan Kelaparan

Baca juga: 5 Negara Terkecil di Dunia, Luasnya Lebih Sempit dari Batam

Baca juga: 8 Negara Terlilit Utang Besar ke China dan Terancam Bangkrut, Termasuk Indonesia?

Pemuja alam

Sekitar 300 kilometer dari Tallinn, menuju hutan, terdapat sekelompok pecinta alam yang mengarah pada penyembah alam.

"Kami pagan," kata Aigar Piho, ayah dari 8 anak dari desa Rouge di Estonia selatan.

Duduk di atas batang kayu di pembukaan hutan, dia memberitahu, "Tuhan kami ada di alam. Anda harus meluangkan waktu, duduk dan mendengarkan."

Seperti banyak orang Estonia, Aigar bersifat spiritual.

Dia mendefinisikan agamanya sebagai Maausk, yaitu suatu bentuk spiritualitas alam Estonia, di mana pohon dan bumi adalah benda berharga yang memiliki kekuatan.

Aigar mengatakan tempat peribadatannya adalah hutan.

Namun, tidak ada upacara, rutinitas, atau teks keagamaan, yang membuat hal itu sulit disebut sebagai agama yang terorganisir. 

Putrinya, Kotre (22 tahun), menimpali, "Sebagian besar dari kita berkata, ya, kita Mausk, tetapi kita tidak membahas (detail). Kita hanya tahu bahwa itu selaras dengan alam dan jiwa kita sendiri."

Gadis-gadis muda memetik bunga liar dan membuat mahkota, yang menurut kepercayaan kuno, mereka harus meletakkan di bawah bantal mereka pada malam hari.

Tujuannya agar mereka mendapatkan seorang suami.

Tradisi seperti itu tertanam kuat dalam budaya Estonia.

Lebih dari 50 persen orang Estonia mengatakan bahwa mereka percaya pada roh atau kekuatan hidup, betapapun tidak jelasnya itu.

Namun, ada beberapa perselisihan tentang berapa umur tradisi yang mereka anut.

"Tradisi biasanya didasarkan pada cerita rakyat...dikumpulkan dari abad ke-19 dan awal abad ke-20," kata Tonno Jonuks, seorang arkeolog yang mengkhususkan diri pada agama prasejarah di Estonia.

"Itu adalah sesuatu yang mereka percayai dan gunakan. Itu bukan sesuatu dari abad pertengahan atau sebelum Kekristenan," ujar Jonuks.

Berbicara dengan pohon

Aigar mengatakan bahwa kelompoknya, Mausk, mendirikan organisasi berdasarkan apa yang mereka gambarkan sebagai kalender rahasia kuno sejak berabad-abad yang lalu.

Ia mengatakan bahwa organisasi tersebut dibentuk berdasarkan apa yang mereka gambarkan sebagai kalender rahasia kuno sejak berabad-abad yang lalu.

Kalender rahasia kuno disebut Maavalla Koda dan memiliki sekitar 3 atau 4 ratus anggota.

Di antara mereka adalah Andres Heinapuu dan putranya, Ott.

Bagi mereka, spiritualitas bumi tetap sangat pribadi, ini semua tentang bagaimana Anda berhubungan dengan makhluk hidup di sekitar Anda:

"Pohon itu tidak memiliki telinga. Saya memikirkan pertanyaan itu dengan lantang di depan pohon. Dan kemudian saya merasakan entah bagaimana jawabannya terkirim kembali," ungkapnya.

Ott menjelaskan bahwa "pohon adalah subjek, bukan objek".(*)

Artikel ini telah tayang di bangkapos.com dengan judul Inilah Negara 'Paling Tidak Religius' di Dunia, Pagan dan Pemuja Alam Membudaya

Berita lain tentang TRIBUN WIKI

Baca berita terbaru lainnya di Google

Sumber: Bangka Pos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved