Senin, 20 April 2026

BATAM TERKINI

Sat Nusapersada Bangga, Produksi HP 5G Merek Asus dan Xiaomi, Menristek Respons Positif

Direktur Operasi PT Sat Nusapersada, Tbk, Bidin Yusuf menyampaikan, pihaknya sudah memproduksi handphone 5G kepada Menristek Bambang Permadi Soemantri

Editor: Dewi Haryati
ISTIMEWA
Foto Menteri Riset dan Teknologi mengunjungi PT Sat Nusapersada Tbk, Sabtu (3/4/2021) di Batam. Sat Nusapersada Bangga, Produksi HP 5G Merek Asus dan Xiaomi, Menristek Respons Positif 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - PT Sat Nusapersada Tbk sudah memproduksi handphone 5G.

Demikan hal ini diungkapkan oleh Direktur Operasi PT Sat Nusapersada, Tbk, Bidin Yusuf saat Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PH.D mengunjungi PT Sat Nusapersada Tbk.

"Kita sudah memproduksi handphone 5G kok," ujar Bidin, Sabtu (3/4/2021).

Diakuinya Menristek, Prof. Bambang sudah melihat ke lapangan. Adapun handphone 5G adalah untuk Asus dan Xiaomi dan masing-masing memiliki 3 model.

"Pak Menteri tadi tanggapannya sudah positif karena di Sat Nusa sudah siap semua," ujarnya.

Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PH.D dan Bos PT Sat Nusapersada Tbk, Abidin Hasibuan, Sabtu (3/4/2021) di Batam, Kepri
Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Prof. Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PH.D dan Bos PT Sat Nusapersada Tbk, Abidin Hasibuan, Sabtu (3/4/2021) di Batam, Kepri (tribunbatam.id/Roma Uly Sianturi)

Bidin melanjutkan, Menteri meminta seluruh elektronik di TKDN. Untuk menghadapi, merakit dan menciptakan lapangan kerja.

"Pandemi begini susah cari kerja. Tapi mudah-mudahan kita masih tetap buka lapangan kerja baru," tuturnya.

Ia meminta pemerintah untuk menciptakan sebuah regulasi untuk mengikat produk tersebut agar logo kontennya bisa produksi dalam negeri. Salah satunya dengan TKDN.

"Handphone 20 dulu, baru 30. Step by steplah. Banyak yang sudah kami produksi," ujarnya.

Seperti diketahui, Satnusa sebagai perusahaan manufaktur berteknologi tinggi yang telah memproduksi berbagai produk unggulan seperti Smartphone berteknologi 5G, perangkat Smart home dan Internet of things. Berbagai produk tersebut siap untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya pada masa pandemi ini.

Dengan adanya pandemi ini, kebutuhan akan digitalisasi menjadi hal pokok dalam kehidupan masyarakat. Sebagai contoh di dunia pendidikan, pembelajaran memerlukan laptop yang selama ini bergantung pada produksi luar negeri.

Menurut Kemendikbud, masih ada kebutuhan 40.8 persen (21,6 juta) dari seluruh pelajar nasional yang perlu perangkat laptop. Dengan melakukan produksi dalam negeri pemerintah dapat menghemat 30 persen biaya impor dan dapat digunakan untuk mensubsidi sekitar 8,6 juta laptop bagi siswa yang membutuhkan.

Dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, UMKM yang telah mencapai 62 jutaan merupakan elemen penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan baru sekitar 13 persen yang memanfaatkan platform digital.

Founder PT Tata Sarana Makmur Sjamsudin Ali mengatakan saat ini PT TSM telah mampu membuat alat pembayaran digital dengan TKDN lebih dari 40 persen yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku usaha dan UMKM. Dengan memanfaatkan platform digital para UMKM tersebut akan memiliki kesempatan yang sama dengan pelaku usaha lain untuk menjual produknya dan dapat menekan biaya operasinal.

"Kita perlu mempertahankan dan meningkatkan daya saing industri dalam negeri agar memilki daya saing global dengan meningkatkan kompetensi dalam bidang RnD teknologi maju dan investasi human capital," tuturnya.

Lihat Produksi Handphone hingga Singgung Laptop

Sebelumnya diberitakan, Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Prof Bambang Permadi Soemantri Brodjonegoro, PH.D datang ke Batam Kepri.

Salah satu tujuannya yakni mengunjungi PT Sat Nusapersada Tbk, Sabtu (3/4/2021). Menristek ingin melihat kemampuan PT Sat Nusapersada Tbk sebagai salah satu perusahaan manufaktur elektronik di Indonesia dalam membuat berbagai teknologi terkini dalam telekomunikasi.

"Pertama tadi dalam perhatian kami adalah teknologi 5G, pembuatan atau assembly handphone secara lengkap dan juga pengembangan produk seperti baterai maupun produk-produk elektronik lainnya," ujar Bambang seusai meninjau PT Sat Nusa.

Ia melanjutkan kedua, sebagai Menteri Riset dan Teknologi atau Kepala Badan Riset dan inovasi nasional, dalam kunjungan ini pihaknya melihat bagaimana upaya inovasi PT Tata Sarana Makmur (TSM) bisa bersinergi dengan PT Sat Nusapersada Tbk. Khususnya selain terkait handphone dan 5G.

"Kenapa ini penting? Kita tahu Indonesia ini pasarnya besar," katanya.

Menurut Bambang, di tengah situasi pandemi Covid-19, percepatan informasi digital, akan semakin banyak orang yang bergantung pada hubungan telekomunikasi digital dengan peralatan yang memenuhi syarat.

Ia mencontohkan ketika semua orang membutuhkan pendidikan secara online, maka keberadaan alat telekomunikasi menjadi penting.

"Satu hal, handphone saya sudah lihat langsung di PT Sat Nusa Persada, berikutnya yang kita pikirkan adalah laptop. Di Indonesia ini kalau pendidikan online, apabila nantinya masuk sekolah walaupun masih 50 persen maka dibutuhkan laptop agar proses belajar online jauh lebih baik," paparnya.

Ia tak menginginkan, kebutuhan laptop yang besar harus diimpor. Dalam kunjungannya ini, ia melihat PT Sat Nusapersada Tbk sangat mungkin melakukannya 100 persen di dalam negeri dan kemudian PT TSM bisa melakukannya dari sisi design research and development (R&D).

"Dengan adanya laptop di Indonesia dan didesign di Indonesia. Ini akan membuat ketergantungan terhadap impor bisa dikurangi," kata Bambang.

Di era revolusi 4.0, Indonesia harus mengadopsi teknologi 5G. Pihaknya mendorong kegiatan research and development terkait dengan 5G. Dorongan tersebut pertama mengenai penentuan lokal kontain atau Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN)

"Semakin jelas TKDN terutama untuk produk yang dibutuhkan pemerintah maka sangat membantu perusahaan. Salah satunya PT Sat Nusa Persada Tbk yang kemampuannya sudah lengkap dari hulu sampai hilir. Dari awal produk itu terurai sampai jadi, tentunya diserap oleh market Indonesia," katanya.

Kedua, ia menginginkan PT Sat Nusa Persada Tbk sebagai manufaktur pabrik dengan pihak risetnya. Ia mendorong para pelaku riset lokal untuk lebih banyak mengembangkan produk dari awal dengan PT Sat Nusa Persada Tbk. Sehingga produk yang dikembangkan bisa masuk ke line production PT Sat Nusa Persada Tbk.

"Kita ingin tak sepenuhnya bergantung pada produk impor tetapi pada teknologi yang bukan impor. Kalau 5G dipakai secara penuh, Indonesia mempunya peran yang cukup signifikan. Paling tidak untuk pasar Indonesia sendiri," katanya.

Dalam hal ini Bambang berharap apabila TKDN bagus, penguasaan industri komponen bisa bertambah terus. Sehingga orang tak ada masalah lagi jika dibilang TKDN.

Ia menegaskan TKDN itu bersifat penting. Ia tak menginginkan kerahasiaan data, keamanan siber berisiko apabila sepenuhnya bergantung kepada teknologi yang 100 persen dari luar.

"Setelah pulang ke Jakarta nanti kami akan mendorong tim research mulai berfokus kepada pengembangan teknologi 5G," katanya.

Seperti diketahui fokus Kemenristek adalah mendukung pengembangan ekonomi digital khususnya ditengah pandemic covid-19. Dimana pemerintah melakukan percepatan trasnformasi digital sebagai upaya untuk membantu pemulihan ekonomi melalui penerapan teknologi berkesinambungan. 

Dukung Pengembangan Ekonomi Digital

Diberitakan sebelumnya, Kementerian Riset dan Teknologi menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang riset, teknologi, dan pendidikan tinggi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara.

Selain itu, Kemenristek berfungsi melakukan perumusan dan penetapan kebijakan di bidang penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi, serta koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan.

Fokus Kemenristek adalah mendukung pengembangan ekonomi digital khususnya di tengah pandemic covid-19 di mana pemerintah melakukan percepatan trasnformasi digital sebagai upaya untuk membantu pemulihan ekonomi melalui penerapan teknologi berkesinambungan.

Sementara itu masih terasa perlunya dukungan indutri, khususnya industri dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat dalam menjalankan usahanya, pendidikan dan kegiatan sosial lainnya.

Dukungan riset inovasi dan pengembangan sebagai bentuk tindak lanjut untuk menciptakan produk yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat tersebut, diharapkan pada akhirnya menuju kesejahteraan masyarakat Indonesia dan penerapan teknologi 4.0.

Pentingnya Indonesia terlibat dalam pengembangan teknologi terkini menjadi suatu keharusan untuk menjadi bagian dalam mewujudkan ketahanan nasional.

Baca juga: Daftar Harga Mobil Bekas Rp 70 Jutaan, Mulai dari Honda Jazz Hingga Toyota Kijang Innova

RnD menjadi langkah penting dalam rangka membangun industri nasional dalam rangka pemenuhan kebutuhan domestik dan menjaga kedaulatan ekonomi nasional.

Hari ini Menteri Riset dan Teknologi mengunjungi salah satu pelopor industri smartphone 4G di Batam di mana RnD yang sudah dilakukan oleh PT Tata Sarana Mandiri dan produksi dilakukan oleh PT Sat Nusapersada Tbk dengan mengedepankan kandungan lokal yang sudah tersertifikasi TKDN lebih dari 30%.

Produk-produk yang sudah dihasilkan mendukung industri telekomunikasi , keuangan, pendidikan dan digitalisasi UMKM.

Sjamsudin Ali, Founder PT Tata Sarana Makmur mengatakan perlunya mempertahankan dan meningkatkan daya saing industri dalam negeri agar memilki daya saing global dengan meningkatkan kompetensi dalam bidang RnD teknologi maju dan investasi human capital.

Sementara itu, Bidin Yusuf, Direktur Operasi PT Sat Nusapersada, Tbk mengatakan Satnusa sebagai perusahaan manufaktur berteknologi tinggi yang telah memproduksi berbagai produk unggulan.

Seperti Smartphone berteknologi 5G, perangkat Smart home dan Internet of things, siap untuk menjadi basis produksi untuk memproduksi berbagai produk untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya pada masa pandemi ini seperti produk laptop.

Dengan adanya pandemik ini, kebutuhan akan digitalisasi menjadi hal pokok dalam kehidupan masyarakat, sebagai contoh di dunia pendidikan, pembelajaran memerlukan laptop yang selama ini bergantung pada produksi luar negeri.

Menurut Kemendikbud, masih ada kebutuhan 40.8 % (21,6 juta ) dari seluruh pelajar nasional yang perlu perangkat laptop, dengan melakukan produksi dalam negeri pemerintah dapat menghemat 30% biaya import dan dapat digunakan untuk mensubsidi sekitar 8,6 juta laptop bagi siswa yang membutuhkan.

Dalam rangka pemulihan ekonomi nasional, UMKM yang telah mencapai 62 jutaan merupakan elemen penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi tersebut, dan baru sekitar 13% yang memanfaatkan platform digital.

Saat ini PT TSM telah mampu membuat alat pembayaran digital dengan TKDN lebih dari 40% yang dapat dimanfaatkan oleh pelakuk usaha dan UMKM.

Dengan memanfaatkan platform digital para UMKM tersebut akan memiliki kesempatan yang sama dengan pelaku usaha lain untuk menjual produknya dan dapat menekan biaya operasinal. 

(tribunbatam.id /Roma Uly Sianturi/*)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Berita tentang Batam

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved