Breaking News:

TRIBUN PODCAST

Radikalisme Rambah Kalangan Milenial, Apa Kata Aktivis Dakwah di Batam?

Kasus radikalisme saat ini tengah berkembang di tengah masyarakat Indonesia dan mulai merambah kalangan milenial, apa kata aktivis dakwah di Batam?

TRIBUNBATAM
Aktivis dakwah Batam Mohamad Santoso (kanan) saat di Tribun Batam Podcast 

TB: Kalo misalnya pendidikan sudah berbasis kurikulum yang ditentukan dari pusat, nah apakah kita bisa melakukan itu sendiri di Batam?

S: Kita tidak bisa membicarakan hal tersebut dari hilirnya saja tampa berbicara dari hulu juga. Kita harus menyadari dari pemangku kebijakan dan masyarakat maka kita harus mengubah hal tersebut.

Di lokal atau kedaerahan bisa mencantumkan muatan lokal tetapi berapa besar muatan lokal itu.
Karena kaum milenial itu orangbsedang mencari jati diri.

TB: Jadi untuk kaum milenial yang sedang mencari jati diri apakah cepat terpengaruh dengan paham radikal

MS: Oh ya itu sangat cepat, harusnya kita memuhasabah dan mengevaluasi ada apa dengan bangsa ini? Kok mengarah ke kaum milenial dan kenapa kaum milenial bisa mau ikut?

Intinya ujungnya keagamaan itu sendiri, dan keagamaan sendiri karena punya pondasi masing-masing.

TB: Mereka begitu cepatnya, selain mencari apakah punya ketidak puasan terhadap perubahan, seberapa besar sih itu?

S: perubahan itu tidak hanya kepada kebijakan tertentu saja. Bisa juga dari faktor rumah tangga, pertemanan atau kebijakan kepada anak anak muda itu sendiri dan ibu kita harus rubah semuanya.

Ternyata di lingkungan rumah anak dan orang tua sendiri sendiri dan ia hanya dimanjakan oleh materi tetapi tidak diajarkan adap terhadap orang tua.

Saya dulu diajarkan ketika bertemu dengan orang lebih tua harus cium tangan, kalo sekarang cium tangan di jidat.

Makanya pondasi harus dibetulkan, karena mencium tangan Ada unsur keberkahan di situ, nah ini contoh adab-adab kecil dan saat ini hal tersebut mulai luntur. Etika dan ada itu harus ada.

TB: Lalu dari mana kita mulai memperbaiki?

S: Kita mulai dari yang terkecil aja dulu, dari lingkungan rumah tangga. Nah untuk yang lain seperti kurikulum, jam pelajaran keagamaan dan yang lainnya butuh proses, tapi bagaimana kita terapkan dari lingkungan keluarga dan anak tidak bisa di lepaskan begitu saja. Karena orang tua akan dimintai pertanggungjawabannya.

TB: Lalu apa lagi yang kira kira menjadi fokus?

MS: Ya tugas para juru dakwah, saya kira ini bukan hal kecil, karena maju mundurnya bangsa ini tergantung daripada tokoh agama itu sendiri. Pemerintah itu pembentuk karakter infrastruktur, kalangan Agamawan itu membentuk karakter pribadi seseorang atau akhlaknya.ini bukan hal yang mudah, kita harus membuat anak anak gemar ke tempat ibadah.

TB: Dari beberapa diskusi, apa yang menjadi kesulitan para juru dakwah menyasar kalangan milenial?

MS: perkembangan zaman sangat luar biasa, ini menjadi keprihatinan kita semua. Seperti perkembangan media sosial yang pengaruhnya sangat luar biasa, sehingga ini menjadi tanggung jawab kita semua bagaimana ilmu keagamaan bisa mengimbangi perkembangan zaman.

Saya lihat di Batam cukup baik tinggal di dorong oleh kebijakan kebijakan pemerintah itu sendiri. Kita lihat banyak pembinaan terhadap remaja masjid itu harus kita dorong dan itu kita galakkan.

TB: Bagaimana dengan saat ini, Apa kekurangannya?

MS: sekarang saya melihat suport atau political will dari pemerintah, bagaimana lebih mendorong, mengintensifkan, membumikan melalui kebijakan yang dikeluarkan ada sebuah kewajiban.

Seperti disetiap Masjid wajib melakukan pembinaan remaja masjid satu Minggu sekali, itu merupakan kebijakan sehingga benar benar bisa di dorong.

Itu tidak bisa dilepaskan begitu saja, ini tanggung jawab kita semua. Karena suka tidak suka ada kelompok tertentu yang saat ini sedang menyerang kaum milenial

TB: Nah bagaimana ciri anak yang mengikuti kelompok kelompok yang perlu diwaspadai?

MS: sebenarnya ini mudah sekali, kalau misalkan anak anak ikut pengajian hampir 90 persen lebih kelompok kelompok yang terindikasi nyeleneh itu terlalu atau selalu eksklusif, karena di luar golongan mereka dianggap bukan golongannya dan yang paling ekstrim dianggap mereka kafir, kedua mereka akan terlalu mudah mengatakan ini salah, ini kafir ini bi'dah.

TB: Artinya mudah menyalahkan orang berarti dia menganggap kelompoknya paling benar?

MS: kurang lebih seperti itu, yang di luar pemahaman mereka adalah musuh bagi mereka, ini ciri ciri secara umum kelompok kelompok yang beraliran radikalisme.

TB: Apa yang harus dilakukan orangtua?

MS: tradisi Indonesia ini selalu mengajari adab, orang tua harus mengetahui perkembangan anaknya. Apa yang dilakukan dengan siapa dia bergaul. Orang tua harus bisa menjadi teman atau sahabatnya.

TB: Di usia berapa anak anak atau kaum milenial rentan terpapar paham radikalisme?

MS: Kalau di dalam agama sejak baligh, biasanya disaat dia Aqil baligh mereka sangat ingin mengekspresikan, sedang mencari jati diri dan saat seperti ini perlu pendampingan dari orang tua. Karena cara mereka atau kelompok tersebut melakukan rekrutmen terhadap orang orang yang sedang galau.

TB: Dari pendidikan kaum milenial yang direkrut oleh kaum milenial cukup tinggi sehingga seperti daya nalar lebih bagus

MS: Anak muda sangat rentan dengan pemberontakan jati dirinya, itu yang perlu kita sadari.

Misal dia tidak puas dengan kehidupan dirumahnya atau komunikasi dengan kawan kawannya dia berontak, kaum milenial. Intinya rekrutmen ini menyasar anak anak yang sedang dalam fase mengalami kekecewaan.

TB: Artinya perlu penyaluran dari kaum milenial atau deteksi dini terhadap mereka

MS: Sistem pendidikan kita perlu perhatian khusus terutama pendidikan agama maka jam belajarnya itu harus ditambah bila perlu ada jam ekstrakurikuler khusus.

Saya ingin mendorong pembelajaran agama menjadi pembelajaran utama disamping pembelajaran umum, jam pendidikan agama ditambah atau metode pembelajaran keagamaan yang harus diubah.

TB: Radikalisme tidak muncul tiba-tiba dan sudah lama, apakah upaya pemerintah sudah maksimal menanganinya?

MS: Ini bukan hanya upaya Pemerintah, ayah kita semua pemerintah melalui kebijakannya, kita sebagai orang tua melalui pendidikan kita di tengah rumah tangga, kita di lingkungan melalui lingkungan kita tanamkan.

Jadi tidak hanya pemerintah, apakah yang dilakukan pemerintah sudah maksimal kita kembalikan kepada diri kita apakah kita sudah maksimal di tengah lingkungan kita, di tengah rumah tangga kita.

TB: Pernah mendengar adanya buku anak-anak yang mengajarkan paham radikalisme Apakah itu benar adanya?

MS: Saya tidak bisa membenarkan atau menyalahkan itu tetapi di sinilah letak fungsi control kita.

TB: Di media sosial banyak postingan ayat atau kajian keagamaan, bagaimana cara kita memilah hal tersebut.

MS: kita harus bijak dalam menggunakan media sosial itu sendiri. Karena di media sosial tidak ada filter yang bisa menyampaikan bahwa hal itu salah atau benar. Pada intinya kalau mau belajar jangan pada media sosial atau Google tetapi carilah guru dianggap mampu memberikan pengetahuan keagamaan. (TRIBUNBATAM.id/Alamudin)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Penulis: Alamudin Hamapu
Editor: Tri Indaryani
Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved