Breaking News:

WAWANCARA EKSKLUSIF

Vaksinasi Aman Tanpa Kerumunan

Seperti apa strategi pemerintah selanjutnya dalam mencegah dan mengatasi kerumunan di sentra-sentra vaksinasi ini? Simak wawancara eksklusif berikut.

Penulis: Hening Sekar Utami | Editor: Tri Indaryani
ISTIMEWA
Plt Kasie Surveilance dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. M. Solihin. 
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Beberapa waktu terakhir ini, sejak pertengahan tahun 2021, pemerintah giat menyelenggarakan kegiatan vaksinasi bagi warganya.
Setelah memvaksin ribuan tenaga kesehatan, lansia, dan pelayan publik, kini sasaran vaksinasi ditujukan bagi masyarakat umum.
Ada 785.003 orang sasaran vaksinasi di Kota Batam, dan sekitar 158 ribu di Kota Tanjungpinang.
Untuk mengakomodir pelaksanaan vaksinasi bagi masyarakat umum tersebut, pemerintah daerah sudah membuka titik-titik layanan vaksinasi yang dapat diakses warga.
Selain di pusat fasilitas kesehatan, vaksinasi juga diselenggarakan di tempat-tempat lain seperti stadion olahraga, kampus, sekolah, kawasan industri, hingga mal.
Pelaksanaan vaksin secara massal ini tak pelak menimbulkan kerumunan massa.
Warga yang semula skeptis dengan wacana vaksinasi pun sontak antusias dalam memperoleh vaksin.
Ketika progran vaksinasi massal di Stadion Temenggung Abdul Jamal pertama kali dibuka, kunjungan warga ke lokasi sentra vaksinasi itu membludak.
Hal yang sama terjadi di titik vaksinasi lainnya seperti Mega Mall Batam Center, dan Sekolah Yos Sudarso Batam Center.
Seperti apa strategi pemerintah selanjutnya dalam mencegah dan mengatasi kerumunan di sentra-sentra vaksinasi ini? 
Kali ini Tribun Batam berusaha mengorek jawaban dari dua orang narasumber, yakni Plt Kasie Surveilance dan Imunisasi Dinas Kesehatan Kota Batam, dr. M. Solihin, dan juga Plt Kadinkes Kota Tanjungpinang, dr. Nugraheni Purwaningsih.
Penjelasan ke dua narasumber ini dirangkum dari bincang-bincang News Webilog Tribun Batam bertajuk Vaksinasi Aman Tanpa Kerumunan, yang disirakan secara live streaming di Facebook Tribun Batam, Senin (21/6/2021).
Tribun Batam: Selamat sore, bapak dan ibu dokter, apa kabar?
Dr. Solihin: Selamat sore, salam sehat.
Dr. Nugraheni Purwaningsih: Alhamdulillah, kabar baik.
TB: Bisa digambarkan bagaimana saat ini perkembangan kasus Covid-19 di Batam dan Kota Tanjungpinang?
Dr. S: Kasus di Batam memang tergolong meningkat, karena proses testing terus dijalankan oleh Satgas Covid-19 Kota Batam.
Hingga saat ini angka Covid-19 sudah mencapai 11982 dan sedang dirawat yaitu 1309 kasus.
Peningkatan kasus ini tidak lepas akibat menurunnya protokol kesehatan yang diterapkan oleh masyarakat, di samping upaya pemerintah dalam meningkatkan tracing dan testing.
Dr. N: Sama. Di Tanjungpinang mulai bulan Maret 2021 juga sudah terjadi peningkatan. Bahkan kita pernah mencapai puncak di bulan April 2021, yakni dalam sehari bisa di atas 80-100. Per tanggal 21 Juni 2021, kasus aktif positif Covid-19 di Kota Tanjungpinang mencapai 545 orang.
TB: Bagaimana perkembangan dan target vaksinasi saat ini?
Dr. S: Tahun ini memang bisa dikatakan tahunnya vaksinasi ya. Saat ini di Batam, sudah 200 ribu lebih warga yang divaksin, yakni sekitar 29,5 persen dari total sasaran yang berjumlah 785.003 orang. Lalu sesuai arahan Presiden RI, Joko Widodo, Batam diberi target tercapai vaksinasi sebesar 50 persen di akhir Juni, dan 70 persen hingga Agustus 2021 ke depan.
Dr. N: Target di Kota Tanjungpinang juga sama dengan Batam yakni mencapai 50 persen di akhir Juni ini. Total sasaran vaksinasi di Kota Tanjungpinang sebanyak 158 ribu warga, sampai saat ini sudah tercapai 44 persen yang divaksin. Insyaallah dalam beberapa hari ke depan bisa mencapai 50 persen.
TB: Seperti apa mekanisme pemberian vaksin selama ini?
Dr. S: Sebelumnya kami sudah bekerjasama dengan Disnaker Kota Batam agar perusahaan-perusahaan segera mendaftarkan karyawannya untuk divaksin.
Pihak perusahaan menginginkan kegiatan vaksinasi dilakukan di sekitar area kawasan industri, dan memang kemudian kegiatan itu kami fasilitasi.
Selain itu, bagi masyarakat umum, kami sudah menyediakan sentra-sentra vaksinasi tambahan (selain puskesmas) seperti di Stadion Temenggung Abdul Jamal.
Sesuai arahan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, kami juga berkoordinasi dengan pihak kecamatan, kelurahan hingga RT dan RW untuk memobilisasi warganya yang hendak divaksin. Kerjasama antar lintas sektor dan stakeholder sangat dibutuhkan demi kesuksesan kegiatan vaksinasi ini.
Dr. N: Sejak awal kami mengoptimalkan penggunaan fasilitas kesehatan yang ada terlebih dulu, seperti puskesmas, rumah sakit, juga pusat-pusat pelayanan kesehatan dari TNI/Polri.
Pada waktu awal vaksinasi, kondisinya lebih teratur, karena penerima vaksin masih terdiri dari kelompok-kelompok organisasi yang punya manajemen sendiri, seperti organisasi kedinasan, organisasi vertikal, organisasi profesi, TNI/Polri, dan lain sebagainya.
Tetapi untuk masyarakat umum mungkin agak berbeda. Mereka cenderung enggan mendatangi pusat-pusat kesehatan untuk vaksinasi, dan lebih nyaman jika tim vaksinator datang langsung ke lokasi-lokasi kediamannya. Ketika ada pelayanan vaksinasi yang datang ke titik-titik lokasi kediaman, masyarakat antusias sekali.
TB: Baru-baru ini kegiatan di sentra vaksinasi menimbulkan kerumunan, apa strategi pemerintah untuk mengatasi hal itu?
Dr. S: Memang berbeda dengan masa-masa awal vaksinasi, sekarang masyarakat justru sangat antusias untuk memperoleh vaksin.
Maka dari itu, tidak hanya di Puskesmas saja, pemerintah telah menyiapkan beberapa sentra vaksinasi tambahan, seperti misalnya di Stadion Temenggung Abdul Jamal, kawasan industri Batamindo, hingga di kampus dan sekolah-sekolah.
Sekarang kan sudah ada peran serta camat, lurah dan RT atau RW, maka kami mengimbau perangkat-perangkat tersebut membuat penjadwalan untuk memobilisasi warganya.
Kami juga sudah berkoordinasi dengan berbagai sektor untuk mencegah serta mengurai kerumunan di saat vaksinasi.
Dr. N: Kami sudah berkoordinasi juga dengan tiap-tiap titik kegiatan vaksinasi terkait target per harinya.
Untuk mengurai kerumunan, kami merangkul aparatur sipil yang ada di wilayah tersebut, seperti Satpol PP, Bhabinkamtibnas, maupun RT/RW guna mengimbau dan mengawasi protkes selama jalannya vaksinasi.
Supaya tidak banyak berkerumun, kami juga berupaya mempercepat jalannya vaksinasi, seperti yang dulu observasi butuh waktu 30 menit sekarang hanya cukup 15 menit.
TB: Dok, beberapa waktu lalu kan sempat beredar kabar sejumlah besar peserta vaksinasi menderita gejala demam dan muntah usai divaksin, bagaimana penjelasannya?
Dr. S: Kita di Batam memakai dua vaksin, yakni Sinovac dan AstraZeneca. Kalau vaksin AstraZeneca, kami sudah mengobservasi, memang umumnya ada reaksi gejala pasca vaksinasi, seperti meriang, ngilu di bekas suntikan, hingga mual dan muntah.
Sebenarnya ini reaksi normal yang tergolong ke dalam kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Kami sudah memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat terkait kemungkinan munculnya gejala ini, dan bahkan memberikan obat tambahan untuk mengurangi efek samping yang ditimbulkan dari vaksinasi tersebut.
Dr. N: Ya, benar, kalau gejala KIPI itu rata-rata hampir sama, sekitar 90 persen lebih gejala KIPI-nya masih wajar seperti demam dan pegal-pegal. Kalau peserta di Tanjungpinang yang mengalami gejala berat ada satu atau dua orang, tetapi jumlahnya tergolong sangat kecil, dan biasanya langsung diobservasi di rumah sakit.
TB: Adakah imbauan dari dokter untuk masyarakat Batam dan Tanjungpinang agar dapat menjalani vaksinasi secara aman tanpa kerumunan?
Dr. S: Kami mohon kepada masyarakat, jika ingin divaksin di puskesmas, harap menghubungi pihak RT atau RW-nya terlebih dulu untuk dijadwalkan. Tidak perlu khawatir kehabisan, coba saja mendaftar dulu, nanti akan dikoordinasikan oleh RT/RW atau perusahaan tempat bekerja masing-masing, jika tergolong sebagai karyawan.
Dr. N: Kami selalu mengimbau masyarakat agar tidak panik dan terburu-buru dalam menjalani vaksinasi sehingga menyebabkan kerumunan.
Pemerintah sudah menyiapkan beberapa titik lokasi vaksinasi yang dapat diikuti oleh masyarakat.
Selain itu, selalu kami imbau pula, agar peserta vaksinasi selalu mempersiapkan kondisi tubuh yang prima sebelum divaksin, semisal tidur cukup di malam hari, dan menyantap sarapan di pagi hari sebelum divaksin. (TRIBUNBATAM.id/Hening Sekar Utami)
 

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

*Berita lainnya tentang BATAM

 

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved