Selasa, 21 April 2026

Menguak Misteri Sosok Cleopatra, Firaun Wanita Terakhir Mesir Kuno

Firaun Cleopatra dilahirkan sebagai putri Mesir dari seorang ayah berdarah Eropa bernama Ptolemy XII

IST
Foto Ilustrasi Cleopatra 

TRIBUNBATAM.id - Sosok Cleopatra, Firaun wanita terakhir di jaman Mesir Kuno tak pernah berhenti dibahas.

Ratu Cleopatra selalu digambarkan dengan penuh dramatis seolah-olah datang dari dunia lain.

Kecantikan dan kematiannya yang tragis telah diabadikan dalam seni, sastra dan media selama berabad-abad.

Salah satu karya sastra yang mengisahkan Cleopatra adalah karangan Shakespeare yang disajikan dalam drama berjudul, "Antony and Cleopatra."

Secantik apa sebenarnya Cleopatra?

Berdasarkan catatan sejarawan, Cleopatra atau yang sering dtiulis Cleopatra VII lahir pada tahun 69 Sebelum Masehi (SM) dan meninggal pada 12 Agustus pada tahun 30 SM.

Cleopatra dilahirkan sebagai putri Mesir dari seorang ayah berdarah Eropa bernama Ptolemy XII.

Trah Ptolemy telah menjadi penguasa Mesir selama 300 tahun. Dinasti ini berkuasa di Mesir setellah Alexander Agung dari Makedonia menguasai tanah Mesir.

Ptolemy I, buyut ayah Cleopatra adalah seorang jenderal di bawah Alexander Agung. Dia mengambil alih kepemimpinan Mesir ketika Alexander meninggal pada 323 SM.

Dilansir dari Kompas.com, dengan latar belakang kerajaan yang besar dan dihormati, Cleopatra diketahui memiliki pendidikan yang sangat baik dan bahkan menguasai 7 bahasa.

Cleopatra sudah mewarisi takhta sejak berusia 18 tahun. Meski dinikahkan dengan saudara laki-lakinya, Ptolemeus XIII agar bisa memerintah bersama, Cleopatra rupanya enggan berbagi kekuasaan.

Pada titik di mana Ptolemeus XIII menantang Cleopatra, laki-laki itu ditemukan tewas.

Nasib serupa juga terjadi pada waktu lainnya, menimpa saudara laki-laki kandung Cleopatra yang lain.

Oleh sebab itu, Cleopatra diduga menjadi dalang pembunuhan atas 2 dari 5 kematian saudara kandungnya.

Khawatir dituduh melakukan rencana pembunuhan, Cleopatra mulai menarik perhatian kekuatan kekaisaran Romawi.

Menurut literatur, Cleopatra adalah kekasih dari Julius Caesar dan dengannya, dia memiliki seorang putra.

Namun, ketika Caesar dibunuh pada 44 SM, Cleopatra bersekutu dengan Mark Antony yang memerintah Roma dalam kekosongan kekuasaan setelah kematian Caesar.

Cleopatra juga bertentangan dengan ahli hukum waris Caesar, Gaius Julius Caesar Octavianus.

Karena pertentangan inilah, sebuah hipotesis menduga bahwa Cleopatra sebenarnya tidak mati bunuh diri. Melainkan dibunuh oleh seseorang.

Dan, seseorang itu adalah ahli hukum waris Julius Caesar, Octavianus.

Benarkah Dibunuh dengan Racun ular?

Sebuah studi bernama Gedanken atau eksperimen pemikiran untuk menguji masuk akal tidaknya suatu hipotesis, mencoba menganalisis seputar kematian Cleopatra.

Makam Cleopatra diketahui berada di dekat istana tempat tinggal Octavianus di Alexandria, Mesir.

Hipotesis yang mengatakan kematian ratu itu tewas akibat gigitan ular asp, sejenis kobra Mesir, menceritakan bahwa ketika berada di makamnya, Cleopatra menulis catatan bunuh diri yang diberikan kepada seorang penjaga dan dikirim kepada Octavianus.

Segera setelah mengirim surat itu, Cleopatra yang sudah memegang seekor ular membiarkan ular itu menggigit dadanya dan mengeluarkan racun, memasuki aliran darah tubuh Cleopatra dan menewaskan ratu Mesir itu.

Hipotesis itu dianggap tidak masuk akal. Alasannya, racun ular asp baru akan bekerja beberapa jam setelah masuk ke dalam aliran darah.

Lagi pula, rata-rata, hanya 50 persen racun asp yang dapat keluar dalam satu kali gigitan ular, yang mengindikasikan Cleopatra punya peluang besar untuk dapat bertahan hidup dari satu gigitan tersebut.

Sepotong informasi yang cenderung membuat banyak orang percaya bahwa Cleopatra memang melakukan bunuh diri dengan ular adalah penemuan di Kuil File.

Di candi itu terpahat Dewi Alam Mesir Isis dikelilingi ular.

Cleopatra sendiri dianggap sebagai reinkarnasi Isis yang hidup. Pahatan itu menunjukkan takdir Cleopatra terkait dengan ular.

Apakah itu berarti Octavianus benar pembunuh Cleopatra?

Hipotesis lain menggambarkan, karena racun ular yang hanya 50 persen itu tak mungkin langsung menewaskan Cleopatra, maka ratu Mesir itu sebenarnya tewas karena dibunuh.

Plotnya mengatakan, Octavianus yang ingin mengambil alih kekaisaran sengaja membunuh Cleopatra.

Octavianus merasa dirinya bisa menangkap Cleopatra dan bahkan mempermalukan wanita itu, klaim ini adalah klaim yang dikutip dari memoar Octavianus sendiri dan tingkat akurasinya tentu dipertanyakan.

Putra Cleopatra, Caesarion dipandang Octavianus sebagai ancaman bagi Roma. Beberapa hari sebelum Oktavianus tiba di Alexandria, Cleopatra mengirim putranya, Caesarion ke Ethiopia untuk dilindungi. Namun nahas, Caesarion malah mati dibunuh oleh pengawal Octavianus.

Keberadaan tubuh Cleopatra bersama dua pembantunya memang seakan-akan menunjukkan bahwa kematiannya adalah pembunuhan dan bukan bunuh diri.

Namun, studi terbaru menunjukkan bahwa Cleopatra meninggal karena koktail obat dan bukan karena gigitan ular.

Dikutip Ancient Origins, menurut Christoph Schaefer, seorang sejarawan dan profesor Jerman di Universitas Trier, "sebuah papirus kuno menunjukkan bahwa orang Mesir tahu tentang racun, dan satu papirus mengatakan Cleopatra benar-benar mengujinya.”

Schaefer percaya bahwa Cleopatra memilih koktail beracun yang terbuat dari opium, aconitum (wolfsbane) dan hemlock (tumbuhan Eropa yang sangat beracun, famili peterseli dengan batang berbintik ungu dan bunga putih kecil yang baunya tidak sedap).

Meskipun racun seperti itu sangat mungkin diberikan oleh orang lain dan bukan oleh tangannya sendiri.

Pada titik ini, tampaknya kematian Cleopatra tidak dapat ditentukan dengan tepat hanya karena anekdot cerita yang beredar selama ini.

Dengan demikian, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya, kematian Cleopatra mungkin akan terus menjadi pertanyaan sampai akhir dunia. (AMINUDDIN/TRIBUNBATAM)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved