Kamis, 28 Mei 2026

Cadangan Devisa Indonesia 137,1 Miliar Dolar AS, Gubernur BI: Bisa Jaga Nilai Rupiah

Bank Indonesia dalam laporannya mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2021 sebesar 137,1 miliar dollar AS.

Tayang:
kontan.co.id
Cadangan devisa RI naik sebesar 137,1 miliar dollar AS. 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis cadangan devisa yang dimiliki oleh BI saat ini masih bisa menjaga ketahanan nilai tukar rupiah. 

Bank Indonesia dalam laporannya mencatat, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juni 2021 sebesar 137,1 miliar dollar AS.

Jika dibandingkan Mei 2021, angka tersebut meningkat. Dimana posisi pada bulan sebelumnya sebesar 136,4 miliar dollar AS.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Erwin Haryono mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 9,2 bulan impor atau 8,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Baca juga: Kasus Covid-19 Seret Pelemahan Rupiah ke Level Rp 14.485 per Dolar AS

Serta angka tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ucap Erwin dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (7/72021).

Erwin kembali melanjutkan, peningkatan posisi cadangan devisa pada Juni 2021 diantaranya dipengaruhi oleh penerbitan Sukuk Global Pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa.

“Ke depan, BI memandang cadangan devisa tetap memadai dan akan menjadi faktor penting bagi ketahanan eksternal ekonomi nasional,” pungkas Erwin.

Baca juga: UPDATE Harga Emas Antam Rp940 Ribu per Gram pada Rabu (7/7)

Bank Indonesia (BI) optimistis cadangan devisa masih bisa menjaga ketahanan nilai tukar rupiah. 

 “Insya Allah we can manage external stability (kami bisa menjaga stabilitas eksternal) dengan posisi cadangan devisa yang masih relatif besar,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo, Senin (6/7). 

Perry mengatakan, risiko pergerakan nilai tukar rupiah memang datang dari domestik maupun global.

Dari domestik, terkait dengan penambahan kasus harian Covid-19 dan dari luar, adalah isu The Fed bakal tapering off. 

Namun, BI juga masih memiliki berbagai jurus untuk menghalau risiko tersebut.

BI melakukan triple intervention, yaitu intervensi di pasar DNDF, pasar spot, dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder, termasuk koordinasi dengan Menteri Keuangan. 

Perry kemudian menjelaskan, selama semester I-2021, pembelian SBN di pasar sekunder oleh BI tercatat sebesar Rp 8,62 triliun. 

Selain melakukan intervensi, BI juga melakukan stabilisasi kenaikan imbal hasil SBN.

Seperti contohnya, BI berhasil mengendalikan kenaikan yield SBN tenor 10 tahun yang pada waktu itu naik dari 6,16% menjadi 6,7%, dan kini sudah berhasil turun di kisaran 6,34% meski ada kenaikan sedikit lagi. (*)

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved