OLIMPIADE TOKYO 2021
Greysia Polii/Apriyani Rahayu Raih Medali Emas Ganda Putri Kalahkan China di Final
Ganda Putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih medali emas setelah mengalahkan ganda China Chen Qing /Jia Yi Fan di final ganda putri
Penulis: Mairi Nandarson | Editor: Mairi Nandarson
TOKYO, TRIBUNBATAM.id - Ganda Putri Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih medali emas setelah mengalahkan ganda China Chen Qing /Jia Yi Fan di final ganda putri.
Greysia Polii/Apriyani Rahayu menang 21-19 dan 21-15, di partai final yang berlangsung, Senin (2/8/2021).
Emas dari pasangan Greysia Polii/Apriyani Rahayu mempertahankan tradisi emas bulutangkis Indonesia di Olimpiade.
Sebelumnya, prestasi terbaik ganda putri Indonesia di kompetisi multicabang olahraga empat tahunan itu hanya perempat final, yakni pada Olimpiade Rio 2016 (Greysia Polii/Nitya Krishinda).
Baca juga: Transfer AC Milan - Gelandang Incaran AC Milan Josip Ilicic, Nikola Vlasic, Rodriguez, Hakim Ziyech
Baca juga: Berita Juventus - Kaio Jorge Segera Tes Medis, Kulusevski Belajar dari Allegri, Bidik Toni Kroos?
Selain itu, kesuksesan Greysia/Apriyani memastikan Indonesia mendapatkan medali emas pertamanya di Olimpiade Tokyo 2020.
Jalannya Pertandingan
Greysia/Apriyani sempat kehilangan angka pertama.
Namun, mereka berhasil membalikkan keadaan 2-1 usai dua drop shot Greysia jatuh ke bidang permainan lawan.
Selain drop shot, Greysia/Apriyani juga pandai dalam menempatkan bola.
Hal itu ditunjukkan Greysia/Apriyani saat menambah keunggulan menjadi 5-1.
Keunggulan Greysia/Apriyani terus bertambah. Dua bola panjang ganda putri China jauh ke belakang. Mereka pun menjauh 7-3.
Greysia/Apriyani sempat kehilangan beberapa poin dan keunggulan mereka menyempit jadi satu poin saja pada kedudukan 8-7.
Namun, Greysia/Apriyani berhasil mengatasinya dan menutup interval gim pertama dengan keunggulan 11-8.
Selepas jeda, Greysia/Apriyani kehilangan tiga poin akibat kesalahan mereka sendiri. Kedudukan berubah menjadi imbang 11-11, mereka masih unggul.
Namun, Greysia/Apriyani segera merebut dua poin lagi dan keunggulan mereka bertambah menjadi 13-11.
Chen/Jia banyak melakukan kesalahan setelah itu, Greysia/Apriyani pun semakin di atas angin. Mereka unggul empat poin pada kedudukan 16-12.
Keunggulan Greysia/Apriyani bertambah menjadi lima poin saat memasuki poin-poin kritis, yakni pada kedudukan 19-14.
Ganda putri China banyak melakukan kesalahan sendiri, sehingga menguntungkan Greysia/Apriyani.
Namun, setelah itu, Greysia/Apriyani justru banyak kehilangan poin. Mereka tak mampu mengembalikan serangan-serangan Chen/Jia. Kedudukan menjadi 19-18.
Setelah melalui pertarungan sengit, Greysia/Apriyani akhirnya memenangi gim pertama dengan skor 21-19.
Pada awal gim kedua, sempat terjadi reli panjang sebelum diakhiri dengan smes Apriyani Rahayu. Skor 1-0 untuk Greysia/Apriyani.
Kedudukan sempat berubah 1-1, tapi Greysia/Apriyani merebut keunggulan kembali menjadi 3-1 usai netting Chen/Jia menyangkut di net dan smes Apriyani Rahayu melunucur telak ke area lawan.
Greysia/Apriyani menambah keunggulan menjadi 7-2, beberapa kesalahan ganda putri China dan kecerdikan Apriyani dalam menempatka bola, menjadi sumber poin Greysia/Apriyani.
Interval gim kedua akhirnya bisa dimenangi Greysia/Apriyani dengan keunggulan 11-7. Smes tajam Apriyani mengakhiri perlawanan Chen/Jia pada paruh pertama gim kedua.
Selepas jeda, refleks Apriyani Rahayu dalam mengembalikan flick serve Chen/Jia membuat ganda putri Indonesia menambah keunggulan 12-8.
Greysia/Apriyani terus menekan Chen/Jia. Pukulan-pukulan mereka banyak yang tak bisa diantisipasi lawan. Mereka pun menjauh 17-9.
Keunggulan itu terus dijaga oleh Greysia/Apriyani, bahkan bertambah menjadi sembilan poin pada kedudukan 19-10 saat bola kiriman Chen/Jia menyangkut di net.
Greysia/Apriyani sempat kehilangan beberapa poin, tetapi akhirnya bisa memenangi gim kedua dengan skor 21-15.
Tradisi Medali Emas Indonesia di Olimpiade
Sejak resmi menjadi cabang Olimpiade pada 1992, Indonesia hanya sekali pulang tanpa membawa medali yakni pada Olimpiade London 2012.
Capaian terbaik wakil Indonesia di London 2012 diraih Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad yang kalah di perebutan medali perunggu.
Sisanya, selalu ada medali emas yang diraih pemain Indonesia.
Di Barcelona 1992, Susy Susanti dan Alan Budikusuma menyumbang emas lewat nomor tunggal putri dan tunggal putra.
Olimpiade Atlanta 1996, medali emas diraih ganda putra Ricky Subagja/Rexy Mainaky.
Di Olimpiade Sydney, ganda putra kembali meraih emas, kali ini giliran Candra Wijaya/Tony Gunawan.
Di Athena 2004, Taufik Hidayat memperpanjang sejarah emas tersebut.
Markis Kido/Hendra Setiawan selanjutnya sukses meraih emas di Olimpiade Beijing 2008.
Sedangkan di Rio de Janeiro 2016, tradisi emas dipertahankan Owi/Butet, menebus kekalahan di London 2012.
Medali Emas Olimpiade Indonesia Sejak 1992-2021:
Barcelona 1992
Emas: Susy Susanti (Tunggal Putri), Alan Budikusuma (Tunggal Putra)
Perak: Ardy Wiranata (Tunggal Putra), Eddy Hartono/Rudy Gunawan (Ganda Putra)
Perunggu: Hermawan Susanto (Tunggal Putra)
Atlanta 1996
Emas: Ricky Subagja/Rexy Mainaky (Ganda Putra)
Perak: Mia Audina (Tunggal Putri)
Perunggu: Antonius Ariantho/Denny Kantono (Ganda Putra), Susy Susanti (Tunggal Putri)
Sydney 2000
Emas: Candra Wijaya/Tony Gunawan (Ganda Putra)
Perak: Tri Kusharjanto/Minarti Timur (Ganda Campuran), Hendrawan (Tunggal Putra)
Athena 2004
Emas: Taufik Hidayat (Tunggal Putra)
Perunggu: Eng Hian/Flandy Limpele (Ganda Putra), Sony Dwi Kuncoro (Tunggal Putra)
Beijing 2008
Emas: Markis Kido/Hendra Setiawan (Ganda Putra)
Perak: Liliyana Natsir/Nova Widianto (Ganda Campuran)
Perunggu: Maria Kristin Yulianti (Tunggal Putri)
Rio de Janeiro 2016
Emas: Liliyana Natsir/Tontowi Ahmad (Ganda Campuran)
Tokyo 2020
Emas: Breysia Polii/Apriyani Arahayu (Ganda Putri)
( tribunbatam.id/son)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/alexander-nemenov-afpdgfsg.jpg)