Breaking News:

SEJARAH Sungai Carang Tanjungpinang, Dulu Pusat Pemerintahan Negara Besar

Mungkin tak banyak yang tahu jika di masa dulu, kawasan Sungai Carang pernah menjadi pusat pemerintahan negara yang besar.Simak sejarahnya di sini.

Penulis: Endra Kaputra | Editor: Tri Indaryani
TRIBUNBATAM.id/ENDRA KAPUTRA
Mungkin tak banyak yang tahu jika di masa dulu, kawasan Sungai Carang pernah menjadi pusat pemerintahan negara yang besar. 

Lebih kurang seratus tahun berikutnya sejak dibangunkan Sungai Carang sebagai pusat pemerintahan, tepatnya pada 1778, Raja Haji sebagai Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Johor mendirikan kota lagi di Pulau Biram Dewa yang terletak di seberang Sungai Riau.

Kota baru itu dijadikan tempat kedudukan Yang Dipertuan Muda.

Kota yang baru itu dikenal juga dengan nama Kota Baru atau Kota Piring.

Berikut ini penuturan Raja Ali Haji di dalam karyanya Tuhfat al-Nafis tentang peristiwa bersejarah itu.

“Maka Yang Dipertuan Muda pun berbuatlah istana di Pulau Biram Dewa serta dengan kotanya yang indah-indah, yaitu kota batu bertatah dengan pinggan dan piring sangatlah indahnya, dan satu pula balai dengan dindingnya cermin, adalah tiang kaki balai itu bersalut dengan kaki pahar tembaga dan kota itu sebelah atasnya berkisi-kisikan buncung, adapun kota itu apabila kena matahari memancarlah cahayanya.”

“Kemudian diperbuatnya satu istana pula di Sungai Galang Besar sangat juga indah-indah perbuatannya, iaitu istana paduka anakanda Baginda Sultan Mahmud. Dan perhiasan istana Yang Dipertuan Besar dan Yang Dipertuan Muda itu daripada emas dan perak hingga rantai-rantai setelobnya dengan rantai perak jua dan seperti talam dan ceper kebanyakan diperbuat di Negeri Cina dan seperti tepak dan baling air mawar daripada emas dan perak diperbuat di Negeri Benila yang berkarang bertatahkan intan dan yang berserodi. Dan adapun pinggan mangkuk dan cawan kahwa dan cawan kebanyakan diperbuat di Negeri Cina serta tersurat dengan air emas pada pantat cawan itu tersebut) nama Pulau Biram Dewa atau Malim Dewa (Matheson Hooker, 1991:380—388).

Kota yang dibangun oleh Raja Haji Fisabilillah sebagai tempat kedudukan beliau sebagai Yang Dipertuan Muda IV Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang itulah yang dikenal sebagai Kota Piring. Disebut demikian karena pagar tembok istananya terbuat dari pinggan dan piring yang sangat indah. Dalam pada itu, istana Sultan Mahmud Riayat Syah dibangun di Kota Lama. Dengan mencermati perian (deskripsi) Raja Ali Haji tentang betapa megahnya istana-istana yang yang dibangun itu, tahulah pula kita betapa makmurnya Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang kala itu.
Pada 1778 perdagangan di Kerajaan Riau-Johor memang semakin maju pesat.

Dengan sendirinya, rakyat hidup sejahtera dan negara menjadi makmur.

Aktivitas kehidupan beragama Islam berkembang dengan subur.

Rakyat dan pemerintah betul-betul mengejar kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat seperti yang diajarkan oleh syariat Rasulullah SAW.

Keperluan hidup di dunia dipenuhi dan pada saat yang sama bekal untuk kehidupan akhirat terus ditambah dari hari ke hari.

Setahun kemudian, 1779, lahirlah putra Raja Haji yang diberi nama Raja Ahmad ibni Raja Haji.

Putra Yang Dipertuan Muda IV ini nanti memainkan peran yang sangat penting bagi perkembangan tradisi intelektual dan kepengarangan di Kerajaan Riau-Lingga.

Berawal dari beliau, dunia kepengarangan di kawasan ini tumbuh merecup dengan subur dan sangat membanggakan kita hingga hari ini.

Selain Raja Ahmad dan putra-putrinya yang lain, Raja Haji, yang setelah wafat karena perjuangannya yang heroik menentang penjajah mendapat gelar Fisabilillah, memiliki seorang putri yang diberi nama Raja Hamidah.

Perempuan yang bukan perempuan biasa itu kemudian biasa disapa Engku Puteri Raja Hamidah.

Setelah sampai jodohnya, beliau disunting oleh Sultan Mahmud Marhum Besar atau Marhum Mesjid, Yang Dipertuan Besar Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang (1761—1812).

Emas kawinnya tak tanggung-tanggung, sebuah pulau kecil di depan Tanjungpinang, yang kelak menjadi pusat pembinaan dan pengembangan tamadun Melayu, yang seri kegemilangannya memancarkan cahaya sampai jauh, ke sekutah-kutah nusantara.

Itulah keistimewaan Pulau Pengengat Inderasakti, Pulau Emas Kawin, untuk Engku Puteri Raja Hamidah ibni Raja Haji Fisabilillah dari suaminya Sultan Mahmud.

Selain itu, Engku Puteri juga dianugerahi jabatan sebagai pemegang regalia oleh suaminya yang sultan itu.

Regalia adalah seperangkat alat kebesaran Kesultanan Riau-Johor yaitu alat yang menjadi simbol kebesaran adat-istiadat Melayu, termasuk peralatan kebesaran yang menentukan sah-tidaknya penabalan seseorang sultan.

Itulah anugerah sekaligus amanah yang dititipkan oleh suaminya kepada Raja Hamidah, istrinya tercinta.

Dan, beliau dengan anggun lagi setia memegang dan menjalankan amanah itu dengan segenap jiwa-raganya, bagai menatang minyak yang penuh, demi menjunjung marwah bangsanya.

Demikianlah pada 1803 Pulau Penyengat Inderasakti mulai dibuka untuk tempat kediaman Engku Puteri Raja Hamidah.

Dua tahun kemudian, pada 1805, Raja Ja’far ibni Raja Haji Fisabilillah, saudara kandung Raja Hamidah, ditabalkan menjadi Yang Dipertuan Muda VI Kesultanan Riau-Lingga-Johor-Pahang.

Oleh beliau, sejak itu pusat pemerintahan Yang Dipertuan Muda dipindahkan dari Kota Piring, Pulau Biram Dewa, ke Pulau Penyengat Inderasakti.

Di pulau kecil tetapi ternama itulah sampai seterusnya pentadbiran Kesultanan Melayu di bawah kuasa Yang Dipertuan Muda diselenggarakan.

Di pulau itu pula para cendekiawan Kesultanan Riau-Lingga “mendirikan” taman para penulis untuk memelihara warisan yang agung.

Dan, dari pulau itulah sinar gemala mestika alam memancarkan cahayanya ke relung-relung hati yang tidak buta untuk membangunkan dan mengembangkan tamadun Melayu-Islam yang terala (luhur) lagi ranggi.

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Dengan peristiwa Perjanjian London (The Treaty of London atau Traktaat London), 1824, Kerajaan Riau-Lingga-Johor-Pahang dipisahkan menjadi dua bagian oleh kuasa kolonial Belanda dan Inggris.

Kawasan Riau-Lingga (kawasan Indonesia sekarang) berada di bawah pengawasan Belanda, sedangkan Johor, Singapura, Pahang, dan Trengganu (kawasan Malaysia sekarang) berada di bawah penjagaan Inggris.

Sejak itu pula terpisahlah bangsa Melayu yang mulanya berada di bawah satu payung panji Kesultanan Melayu yang besar dan jaya ke dalam dua negara yang berbeda, bahkan tiga negara setelah Singapura memisahkan diri dari Malaysia pada 9 Agustus 1965.

Hari-hari setelah Perjanjian London itu harus dijalani oleh bangsa yang secara genealogis dan sosio-kultural itu sesungguhnya bersaudara dengan sampan sejarah yang berbeda walau taman tempat bercengkeramanya tetaplah sama: Selat Melaka dan Laut Cina Selatan yang melegenda itu.

Tatkala nafsu politik dan ekonomi terus dan terus berupaya untuk memecahkan keutuhan sesama manusia dan kemanusiaannya demi memuliakan dwitunggal sesembahan baru yang bernama “laba-kuasa”, alam jualah—dalam hal ini laut—tak pernah sampai hati memutus tali persaudaraan orang-orang yang bersaudara.

Laksana hamba yang perkasa lagi setia, Selat Melaka dan Laut Cina Selatan dari dahulu sampai sekarang tetap mengokohkan persebatian puak yang bertalian darah yang hidup di sekitarnya.

Kalau berani diakui, kearifan alam justeru jauh lebih memukau, lebih berdelau, daripada kecerdasan manusia, yang bahkan konon mengaku paling beradab sekalipun.

Dan, Sungai Carang telah menunaikan baktinya yang sempurna dalam menjulangkan anak manusia yang sungguh-sungguh berjuang dengan ikhlas demi marwah bangsa. (TRIBUNBATAM.id/Endra Kaputra) 

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved