LIGA INGGRIS
Ralf Rangnick Bisa Jadi Masalah bagi Cristiano Ronaldo di Manchester United
Kehadiran Ralf Rangnick sebagai pelatih baru Manchester United bisa menjadi ancaman bagi Cristiano Ronaldo dan Luke Shaw.
TRIBUNBATAM.id - Kehadiran Ralf Rangnick sebagai pelatih baru Manchester United bisa menjadi ancaman bagi Cristiano Ronaldo dan Luke Shaw.
Manchester United menunjuk Ralf Rangnick sebagai pelatih baru Manchester United hingga akhir musim Liga Inggris 2021.
Ralf Rangnick pernah melontarkan komentar pedas terhadap Cristiano Ronaldo dan Luke Shaw.
Padahal keduanya kini menjadi pemain penting di Manchester United.
Saat masih menjadi pelatih klub Bundesliga, RB Leipzig, Ralf Rangnick menyatakan tidak akan melatih Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.
Menurut juru taktik asal Jerman ini, Ronaldo dan Messi sudah terlalu tua untuk bermain dan terlalu mahal untuk dibeli.
"Akan sangat aneh jika saya bekerja dengan dengan mereka berdua (Ronaldo dan Messi) di RB Leipzig," tutur Rangnick, dikutip BolaSport.com dari Express.
"Mereka berdua terlalu tua dan terlalu mahal," lanjut Rangnick.
Baca juga: Laga Klasik Liga Inggris Chelsea vs Manchester United, Beban di Pundak Michael Carrick
Tak hanya Ronaldo yang bisa jadi akan waswas dengan kehadiran Rangnick.
Luke Shaw pun diyakini akan merasakan hal yang sama terutama karena komentar Rangnick pada September 2020.
Rangick sempat menilai, Shaw bukan sosok bek ideal untuk Manchester United.
"Saya berpikir mereka bisa melakukan perubahan dengan bek kiri," kata Rangnick, dikutip BolaSport.com dari SportBible.
"Saya tahu mereka memiliki Luke Shaw, tetapi saya tidak begitu yakin apakah dia masih berada di level yang sama dengan yang Anda butuhkan untuk klub seperti Manchester United," tuturnya menambahkan.
Rangnick sendiri dikabarkan akan memegang jabatan lain di Man United ketika kontrak selama enam bulannya habis.
Ia akan menjadi konsultan di Manchester United dengan kontrak kerja selama dua tahun.
Sejatinya, bukan yang pertama kali Manchester United mendekati Ralf Rangnick, pada 2019, John Murtough sempat mendekati Rangnick, yang saat itu sedang menjadi direktur teknis RB Leipzig.
Namun, penawaran itu dikabarkan tidak berjalan baik, dengan Rangnick dan Murtough, masing-masin pulang dengan tangan hampa.
Rangnick adalah sosok dengan pemikiran jangka panjang yang jelas dan testruktur.
“Anda harus mulai melatih di kelompok umur yang sangat muda, bahkan bermain dengan kelompok umur 10 tahun, anda harus menjelaskan mengenai organisasi permainan,” ujar Rangnick di Red Bulletin.
Pendekatan yang dilakukan Ralf Rangnick, adalah apa yang disebut sebagai sepak bola modern saat ini, yang diterapkan oleh Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, Hansi Flick hingga Raphael Hasenhuttl.
Rangnick gemar menelurkan banyak pelatih muda, Tuchel, Nagelsmann, Marco Rose, hingga Roger Schmidt adalah segelintir dari banyak sosok.
Lalu bagaimana Manchester United diramu oleh Rangnick?
Betul, Rangnick memang sudah tidak menjadi Manajer,dan lebih sering menjadi direktur teknis atau penasihat klub, tetapui pendekatannya bisa dilihat di lapangan oleh para pelatih dan Manajer yang berada di bawahnya.
Rangnick dikenal dengan pendekatan Uberzeugungstater, yang artinya, bermain dengan filosofi, hanya menggunakan Plan A, tanpa Plan B, sebuah perjudian, namun juga sangat terukur.
Ini yang menarik, Manchester United memang bermain tanpa identitas sejak lama, hal yang menjadi bahan olokan oleh Kevin de Bruyne sebelum United bertemu Manchester City.
Rangnick, juga sangat ingin bermain dengan garis menekan yang tinggi, siapapun yang tidak sesuai daengan cara bermain ini tidak akan mengisi starting eleven.
Ini akan menjadi peluang bagi Jadon Sancho, Mason Greenwood, hingga Marcus Rashford menunjukkan tajinya, dei mana ketiha pemain ini merupakan biang permainan menekan Manchester United.
Selain itu, Rangnick sangat terbiasa memainkan dua gelandang sentral serba bisa, sehingga United akan memainkan satu gelandang bertahan, alih-alih dua seperti era Solskjaer.
Ini akan menjadi peluang untuk menduetkan Donny van de Beek dan Bruno Fernandes, dan mengisi satu slot gelandang bertahan untuk Scott McTominay atau Nemanja Matic.
van de Beek yang kesulitan di era Solskjaer, akan lebih banyak bermain dengan kemampuannya sebagai penghubung antara lini depan dan sektor gelandang.
Bruno Fernandes, dalam hal ini, tentu sangat terbantu dengan adanya van de Beek, mengingat pria asal Portugal ini tidak akan bekerja sendirian untuk menjemput bola.
Namun, permainan menekan ini, juga bisa menjadi beban untuk sejumlah pemain, yang artinya, beberapa pemain Manchester United bisa tersingkir di bangku cadangan.
Dengan pendekatan bermain dengan garis tinggi dan terus menekan, sejumlah nama diperkirakan bisa tersingkir ke bangku cadangan.
Tentu, ini jadi alarm untuk Cristiano Ronaldo, yang sejak awal kedatangannya menjadi masalah ketika United ingin melakukan pressing tinggi.
Peran Ronaldo yang memang enggan melakukan pressing, memang sempat membuat Solskjaer memutar otak dengan memainkan skema 3-4-3 atau 3-5-2, untuk membuat dua fullback, Luke Shaw dan Aaron wan Bissaka, bermain lebih menekan.
Rangnick, juga menginginkan pemain belakang yang bisa membawa bola dan tidak takut untuk bermain dari belakang, maka, Maguire, Lindelof dan Varane harus benar-benar menyesuaikan diri dengan skema ini.
Dan Rangnick bukanlah Manajer yang gemar berdiplomasi, ia akan sangat meminta para pemainnya untuk tampil 100 persen sesuai dengan skemanya, dan tidak segan mencadangkan siapapun yang tidak sesuai dengan gaya bermainnya.
Ini akan menjadi perubahan besar untuk Manchester United, pasca laga melawan Chelsea, meskipun hanya diberikan kontrak 6 bulan saat ini, jangan heran jika nantinya Rangnick bisa menjadi Manajer tetap untuk Manchester United.
(Tribunnews.com/Gigih)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Skema Ralf Rangnick di Manchester United, Potensi van de Beek & Bruno Fernandes, Alarm untuk Ronaldo
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/2611_manchester-united.jpg)