Breaking News:

Benarkah Vaksinasi Covid-19 Beda Merek Tingkatkan Imunitas, Siapa Sudah Coba?

Riset tentang menggunakan vaksin merek berbeda sebagai booster muncul setelah dilakukan uji coba kepada 65 orang yang sebelumnya telah diimunisasi

Mohd RASFAN / AFP
Seorang wanita asli Malaysia dari suku Temuan menerima dosis vaksin virus corona Covid-19 Sinovac di balai desanya di Sungai Buloh pada 28 Juni 2021.(Mohd RASFAN / AFP) 

TRIBUNBATAM.id - Vaksinasi Covid-19 menjadi salah satu cara masyarakat dunia meningkatkan kekebalan sel melawan pandemi yang sampai sekarang belum berakhir.

Di satu sisi, para peneliti masih terus bergelut menemukan obat penangkal Covid-19, yang sejak virus ini terdeteksi akhir tahun 2019 lalu sampai kini belum berhasil ditemukan.

Kabar terbaru menyebutkan, vaksin yang diharapkan bisa melawan Covid-19, bisa meningkatkan imunitas lebih manusia dengan cara menggunakan merek berbeda.

Seperti diketahu, ada banyak jenis vaksin Covid-19 yang sudah tersedia dan berasal dari berbagai negara.

Riset tentang menggunakan vaksin merek berbeda sebagai booster, muncul setelah dilakukan uji coba kepada 65 orang yang sebelumnya telah diimunisasi dengan vaksin Pfizer-BioNTech.

Baca juga: SYARAT Naik Pesawat Periode Desember, Libur Natal dan Tahun Baru 2022, Siapkan Kartu Vaksin

Baca juga: ATURAN Terbaru Bepergian saat Libur Natal dan Tahun Baru 2022, Wajib Sudah Vaksin 2 Kali

Kemudian, para peneliti menggunakan vaksin Johnson & Johnson sebagai vaksin booster bagi orang-orang itu.

Menariknya, hasil dari penelitian yang dilaporkan pada Ahad, 5 Desember lalu ini menunjukkan respons imun yang kuat dan meningkatnya imunitas terhadap keparahan penyakit.

Studi ini pun telah dipublikasikan di jurnal MedRxiv.

Para penulis studi menyebut, vaksin Johnson & Johnson sebagai vaksin booster menghasilkan respons antibodi yang lebih lambat, tetapi lebih berkelanjutan terhadap jenis varian virus asli, varian Delta, dan varian Beta.

"Kedua vaksin meningkatkan titer antibodi dengan sangat baik. Pada minggu keempat, tingkat antibodi penetralisir seimbang," ujar pemimpin studi dari Beth Israel Deaconess Medical Center, Dr. Dan Barouch.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved