Kamis, 23 April 2026

Kupedes BRI Solusi UMKM Azzuri Snack Batam Bertahan di Masa Pandemi

Tak mau kalah dengan kondisi, Mariani pun nekat membuat toko sendiri untuk lebih memudahkannya dalam menjual produk snack oleh-olehnya.

Anne Maria
Mariani pemilik Azzuri Snack Batam menunjukkan produk oleh-oleh kerupuk ikan tenggiri varian non msg, Senin (31/1/2022) 

TRIBUNBATAM.id, BATAM- Pandemi covid-19 yang terjadi secara global, menghantam sejumlah pelaku usaha.

Tak cuma bisnis berskala raksasa, pandemi juga turut dirasakan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Tak sedikit pelaku UMKM yang terpaksa gulung tikar akibat pandemi Covid-19.

Utamanya yang bergerak dalam sektor pariwisata dan pendukungnya.

Hal tersebut lah yang juga nyaris dirasakan oleh UMKM Azzuri Snack di Batam.

UMKM yang bergerak dibidang oleh-oleh makanan ini nyaris terduduk lantaran pandemi Covid-19.

Mariani (42) pemilik UMKM Azzuri Snack pun terpaksa putar otak agar usaha yang dirintisnya sejak tahun 2010 itu tetap bertahan.

Mariani pemilik Azzuri Snack Batam berpose di depan toko miliknya, Senin (3112022)
Mariani pemilik Azzuri Snack Batam berpose di depan toko miliknya, Senin (3112022) (Anne Maria)

Jika biasanya Mariani hanya mengandalkan toko oleh-oleh hingga supermarket untuk meletakkan produk jualannya.

Saat pandemi, Ia terpaksa harus membuat tokonya sendiri.

Berinovasi dalam hal produk hingga melek teknologi dalam memasarkannya.

"Pas di awal-awal Covid itu memang teruk betul, mati suri. Pusat oleh-oleh banyak tutup karena tak ada yang datang ke sini (Batam). Supermarket pun tidak banyak terima produk, karena waktu itu orang cuma banyak beli kebutuhan pangan saja, daripada beli snack. Produk kami pun banyak yang dikembalikan," ujar Mariani.

Tak mau kalah dengan kondisi, Mariani pun nekat membuat toko sendiri untuk lebih memudahkannya dalam menjual produk snack.

Ia kemudian juga mulai menambah jenis makanan yang dijual.

"Saya bilang dalam hati, nggak bisa nih begini terus. Oven ada, karyawan juga mesti kerja. Akhirnya saya bangunlah halaman depan rumah ini sedikit jadi toko. Produk yang saya jual juga akhirnya lebih variasi," ucapnya.

produk kerupuk ikan tenggiri biasa dan non msg dari Azzuri Snack
produk kerupuk ikan tenggiri biasa dan non msg dari Azzuri Snack (Anne Maria)

Jika selama ini Azzuri Snack hanya menjual kerupuk ikan tenggiri dan keripik gonggong, selama pandemi Mariani dan karyawannya pun menjajal makanan lain.

Ia akhirnya membuat aneka cake yang dapat dinikmati saat ulang tahun dan event-event tertentu lainnya.

"Waktu itu akhir tahun 2019 lah, akhirnya saya pinjam dana ke BRI. Cuma saat itu jatah untuk KUR sudah habis, yang ada itu Kupedes. Ya sudahlah namanya butuh, ya saya ambillah. Kami ambil Rp 50 juta saat itu, mulailah saya rombak halaman rumah buat jadi toko, dan mulai jualan kue-kue ulang tahun," tuturnya.

Mariani pun mulai memasarkan produk UMKM nya secara mandiri.

Tak hanya secara offline, namun juga online melalui sejumlah platform media sosial.

"Kue ulang tahunnya nggak mahal-mahal, tetap terjangkau karena situasi saat itu jugakan susah. Ada yang harga Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu saja. Habis itu saya share deh di FJB (Forum Jual Beli) Batam di facebook, terus buat lagi instagram. Tapi memang paling banyak lewat FB itulah, ada cake saya posting, langsung ramai yang beli. Sampai keriting tangan posting tiap hari," tuturnya.

Ia pun bersyukur, berkat pengajuan Kupedes BRI tersebut, usahanya dapat bertahan.

produk kerupuk ikan tenggiri biasa dan non msg serta keripik gonggong dari Azzuri Snack
produk kerupuk ikan tenggiri biasa dan non msg serta keripik gonggong dari Azzuri Snack (Anne Maria)

Bahkan para karyawannya tak sampai dirumahkan.

"Karena beralih ke online, jadi mereka (karyawan) itu sebagian dialihkan menjadi kurir. Jadi tak sampai dirumahkan. Untung saja saya cepat cari ide, dan pengajuan pinjaman BRI saya juga cepat diproses. Kami memang sudah langganan juga untuk ajukan KUR selama ini," katanya.

Mariani pun mengaku akhirnya tak terlalu merasakan dampak pandemi, apalagi sampai harus gulung tikar.

"Pikiran saya saat itu pokoknya bagaimana supaya tetap jalan aja dulu. Karena kalau lihat yang lainkan, banyak yang sampai bangkrut. Apalagi toko oleh-oleh. Bahkan kalau boleh jujur, produk kami saja ada yang tidak dibayarkan oleh toko oleh-oleh yang bangkrut itu," kata Mariani lagi.

Memiliki 5 orang karyawan yang terdiri dari ibu-ibu, Mariani pun kini bisa sedikit bernafas lega.

Hal itu lantaran situasi pandemi yang berangsur normal, sehingga Ia bisa kembali menjual produk UMKM nya di supermarket dan sejumlah bazar offline.

"Kayak Indomaret sekarang sudah terima juga. Kadang juga sudah mulai ada bazar-bazar, walaupun masih dibatasi ya. Infonya ya dari sesama teman UMKM," katanya.

Ke depan, Mariani pun berharap bisa dibantu BRI lagi untuk mendapatkan KUR.

"Kami baru tahu, ternyata kalau sudah ambil Kupedes tidak bisa lagi ke KUR. Saya sih berharap bisa dibantu untuk dapat alokasi dana KUR lagi. Karena namanya usaha rumahan inikan naik turun. Sebab kami ada rencana untuk membangun sedikit lagi halaman rumah itu untuk tempat praktek," ucapnya.

Ya, selain mengembangkan usaha oleh-oleh buatannya, Mariani pun cukup aktif dalam memberikan pelatihan dan pemberdayaan masyarakat.

"Tempat inikan suka dikunjungi, kadang juga saya suka bikin praktek di sini buat ibu-ibu sekitar. Bahkan mereka boleh display produk jualan mereka juga di sini. Jadi kami masih butuh ruanglah. Kebetulan lahan halaman itu yang mau kami bangun supaya bisa lebih leluasa. Kalau yang inikan dapurnya juga sempit," tuturnya.

Selain pemberdayaan kepada ibu-ibu sekitar tokonya, Mariani pun cukup sering mengajar ke masyarakat pulau.

Memiliki omset hingga Rp 50 jutaan per bulan, diakui Mariani sejak pandemi, hasil penjualan kue ulang tahun lebih mendominasi daripada snack oleh-oleh.

"Kalau dulu Rp 50 juta per bulan ada, setelah pandemi turun sedikitlah, karena saya langsung ubah haluan tadi. Cuma memang untuk pasar oleh-oleh belum balik, kalau dulu saya bisa bikin 30 kilogram, sekarang paling 5 kilogram saja," ucapnya.

Ibu tiga anak itupun mengatakan tak menyangka jika produk UMKM miliknya bisa tetap bertahan hingga saat ini.

Padahal sebelumnya Mariani tidak memiliki pendidikan di bidang masak memasak ataupun bisnis.

"Dulu itu cuma hobi aja bikin kue, lalu ikut pelatihan sama dinas kesana kemari. Jadi mindsetnya berkembang. Padahal dulu sekolahnya bukan bidang itu. Tapi paling terasa waktu saya dibawa pameran wisata halal ke Malaysia. Di sana saya lihat kok produk orang bagus-bagus ya, cakep. Pulang dari sana, saya langsung niat ubah packaging dan pengen brand ini dikenal," tuturnya.

Nama Azzuri diambil sebagai brand produknya pun dikatakan Mariani memiliki sejarah tersendiri.

Ia menyebutkan jika keluarganya memang sangat menyukai sepakbola.

"Kami memang suka bola, anak kedua saya namanya Panzzuri. Jadi jaman dulu merintis, dia ini yang paling rajin bantuin saya. Dia ikut jadi kurir, bahkan rekrut teman-temannya mau nggak jadi kurir mama aku. Akhirnya ya saya ambil bagian dari nama dialah. Anak pertama saya juga suka bola, dan sempat ikut PON kemarin," tuturnya.

Saat ini toko Azzuri Snack berlokasi di Bengkong Laut blok D1 nomor 2-3 (dekat jembatan selayang sadai). Buka setiap hari, mulai pukul 08.00 WIB.

"Senin sampai Jumat sampai jam 9 malam, kalau Sabtu cuma sampai jam 5 sore. Sedangkan Minggu sampai jam 12 siang saja," katanya.

(Tribunbatam.id/Anne Maria)

Baca berita terbaru lainnya di Google

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved