Breaking News:

Pariwisata Kepri Aman

Travel Bubble di Kepri, Pengelola Kawasan Wisata Lagoi Promosi ke Singapura

Kadispar Kepri Buralimar sebut, pengelola kawasan wisata Lagoi jemput bola ke Singapura dengan melakukan promosi terkait travel bubble

Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/istimewa
Kepala Dinas Pariwisata Kepri Buralimar 

KEPRI, TRIBUNBATAM.id - Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Buralimar menyampaikan kabar terbaru terkait kelanjutan pelaksanaan skema travel bubble di Kepri.

Ia mengatakan, pengelola kawasan wisata di Lagoi yang jadi contoh pelaksanaan travel bubble di Kepri, akan jemput bola ke Singapura untuk melakukan serangkaian kegiatan promosi. 

Diketahui, travel bubble Batam Bintan Singapura di Kepri mulai dibuka sejak 24 Januari 2022 lalu.

Presiden RI Joko Widodo dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong juga telah melakukan pertemuan di Bintan, pada 25 Januari 2022.  Salah satunya membahas travel bubble.

"Saya dikabari GGM PT BRC Lagoi, Abdul Wahab, bahwa dia langsung melakukan promosi ke Singapura dengan menemui berbagai stake holdernya untuk mengabarkan sekaligus menjamin persiapan kawasan Lagoi melaksanakan skema travel bubble ini,"

"Sementara untuk kawasan Nongsa Sensation, Andy Fang telah menyurati Otoritas Kelautan dan Pelabuhan Singapura," ungkap Buralimar dalam rilis yang diterima Tribunbatam.id, Senin (7/2/2022). 

Buralimar menyebutkan, Abdul Wahab langsung datang ke kawasan FCC (Fitness and Conditioning Centres) Singapura menebar informasi telah dibukanya kawasan wisata Lagoi dalam skema Travel Bubble.

Ia juga menemui pimpinan Singapore Tourism Board (STB), Singapore Cricket Club, yakni klub yang sering menggelar acara sosial dan turnamen, dan seluruh agen perjalanan yang ada di Singapura. 

Baca juga: DPRD Kepri Cek Penerapan Prokes di Pelabuhan BBT Lagoi terkait Travel Bubble

Baca juga: Aturan Travel Bubble Singapura - Batam - Bintan, Kebijakan Imigrasi Buat Wisatawan Senyum

"Saat ini meski jalannya Travel Bubble masih dalam batas regulasi, tetapi saya yakin mereka sudah membuat beberapa rencana perjalanan ke Lagoi, Bintan dan kawasan Nongsa di Batam. Apalagi setelah dua pengelola kawasan yang ditunjuk untuk skema Travel Bubble telah datang langsung ke Singapura melakukan promosi dan informasi yang lengkap atas kesiapan kedua kawasan wisata tersebut," tambah Buralimar.

Menurut Buralimar dibukanya dua pintu masuk untuk kawasan wisata Kepri dalam skema Travel Bubble, sudah merupakan kemajuan yang perlu disyukuri. Mengingat perjuangannya bukan serta merta, namun melalui proses yang panjang dan melelahkan sejak 1,5 tahun lalu. 

Buralimar mengisahkan perjalanan lahirnya skema Travel Bubble tersebut bermula dari diskusi serius dengan Jajaran Deputi I Kemenparekraf,  Nike dan Guntur Sakti (mantan kepala OPD Pemprov Kepri) yang intens mencari solusi untuk menjadikan Kepri, khususnya destinasi wisata Lagoi di Bintan dan Nongsa Sensation di Batam sebagai salah satu pilot proyek travel bubble di Indonesia selain Bali.

Waktu itu lahirlah konsep safe travel coridor 3 B yaitu Batam, Bintan, Bali. 

Saat itu yang menjadi perhatian serius, pertama masalah zonasi dan kedua masalah protkes (protokol kesehatan).

"Jadi skema Travel Bubble untuk Kepri itu kami ikut merumuskannya. Terlibat langsung dari awal menawarkan konsep, visitasi  hingga realisasinya saat ini. Sehingga kami tahu persis, apa yang menjadi alasan utama landasan pemikiran Traver Bubble untuk Kepri ini," ungkap Buralimar. 

Untuk konsep zonasi, Kepri mengusulkan dua lokasi yakni Bintan Lagoi dan Batam Nongsa dengan pertimbangan kedua lokasi itu enclave (tidak menyatu dengan kawasan penduduk).

Lalu positivity rate terkendali, fasilitas kesehatan yang mendukung dan akses lokasinya langsung ke pelabuhan, pengendalian wisman masuk kedalam kedua area bisa lebih terkendali karena satu-satunya menggunakan prototipe blue pass. 

"Makanya untuk skema Travel Bubble ini Kepri istilahnya lebih feasible atau lebih  memungkinkan untuk menjalankan Travel Bubble karena merupakan cross border area (daerah perbatasan) yang market sharenya tidak perlu banyak negara. Cukup satu negara saja, sudah bisa dijalankan," tutup Buralimar. (*/tribunbatam.id)

*Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved