PREDIKSI Puncak Kasus Omicron di Indonesia Terjadi 2 hingga 3 Minggu Mendatang

Puncak kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia diprediksi akan terjadi pada 2-3 minggu ke depan. Kini kasus di luar Jawa-Bali melonjak hingga 23 %.

(KOMPAS.com/Akbar Bhayu Tamtomo)
Puncak kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia diprediksi akan terjadi pada 2-3 minggu ke depan. Kini kasus di luar Jawa-Bali melonjak hingga 23 %. Ilustrasi 

TRIBUNBATAM.id, JAKARTA - Puncak kasus Covid-19 varian Omicron di Indonesia diprediksi akan terjadi pada 2-3 minggu ke depan.

Demikian disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto yang juga Mantan Menteri Perindustrian ini.

Airlangga mengungkap, kasus Omicron sudah mengalami peningkatan dalam beberapa minggu terakhir.

Tercatat, kasus di luar Jawa-Bali melonjak mencapai 23% dari kasus aktif nasional atau sekitar 124.714 dari 536.358 kasus.

"Pemerintah terus memantau dan menyiapkan langkah karena ini puncaknya dalam 2-3 minggu ke depan yang perlu diantisipasi," kata Airlangga dalam konferensi pers perpanjangan PPKM, Senin (21/2/2022).

Kendati demikian, kenaikan kasus ini tidak membuat tingkat keterisian tempat tidur (BOR) rumah sakit membludak.

Hal ini lantaran gejala Omicron lebih ringan dibanding varian Delta.

Tingkat BOR di Sumatera Utara mencapai 31% dengan konversi 19%, di Sulawesi Selatan sebesar 30%  dengan konversi 16%, dan di Kalimantan Timur sebesar 29% dengan konversi 23%.

Baca juga: REKOR! Jumlah Pasien Positif Covid-19 di Batam Tambah 346 Orang, 259 Pasien Bergejala

Baca juga: Covid-19 Kepri Nyaris 1.000 Kasus Aktif, Batam 611 Kasus, Bintan Deteksi 6 Varian Omicron

Padahal tiga wilayah itu terjadi peningkatan Omicron dengan kasus mencapai 10.000 kasus.

"Meski kasus meningkat secara keseluruhan, keterisian RS masih terkendali. Secara nasional (BOR) 38 persen. Namun di luar Jawa Bali kurang dari 30%. BOR di Sumsel, Sulut, Sulteng, Bengkulu, Lampung, Kalsel, dan Sumut antara 35%-31%, yang tinggi di Sulsel 46%," jelas Airlangga.

Adapun BOR di tempat isolasi terpusat hanya 5,89% dari 29.723 tempat tidur. Jumlah tempat tidur pun masih bisa ditingkatkan mencapai jumlah 48.399.

"Dari jumlah isoter yang tersedia, ini jumlahnya bisa ditingkatkan pada saat sekarang tersedia 29.723 tempat tidur, dan ditingkatkan ke 48.399. Dari 29.000 yang tersedia, baru terisi sebesar 5,89%," kata Airlangga. (kontan)

Sumber : Kontan.co.id

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved