Selasa, 2 Juni 2026

TADARUS RAMADAN

Ceramah Ramadan, Puasa Membentuk Pribadi yang Unggul

Menurut Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak.

Tayang:
TRIBUNBATAM
Dr H Muhammad Zaenuddin Ssi MSc 

Puasa dan Pendidikan Karakter

Dr H Muhammad Zaenuddin Ssi MSc
Ketua III MUI Kota Batam/Ketua PW ISNU Kepri/Dosen Politeknik Negeri Batam)

==========================================================================

Pembangunan karakter (character building) saat ini sedang menjadi isu menarik dalam dunia pendidikan.

Dengan redaksi dan terminologi yang berbeda, ada yang menyebutnya dengan istilah soft skill, namun secara substansi memiliki makna dan tujuan yang sama yakni bagaimana menjadikan manusia yang baik dan bermoral.

Menurut Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak.

Dalam konsepsi yang lebih luas, pendidikan karakter tidak hanya sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah.

Namun lebih dari itu, menanamkan kebiasaan (habituation) serta menguatkan pemahaman (kognitif) mana yang baik dan salah, mampu merasakan (afektif), dan biasa melakukannya (psikomotor).

Dengan kata lain, pendidikan karakter yang baik bukan saja dari aspek pengetahuan yang baik (moral knowing), tetapi juga merasakan dengan baik atau loving good (moral feeling) dan perilaku yang baik (moral action).

Membahas tentang tema pendidikan karakter, sangatlah relevan dengan adanya momentum kehadiran Bulan Ramadan yang dikenal juga sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan.

Rangkaian ibadah yang dilakukan selama bulan suci ini, khususnya ibadah puasa tidak hanya berdimensi ritual ibadah, namun juga memiliki aspek sosial yang sangat luas.

Banyak nilai-nilai edukasi yang dapat diambil dan diimplementasikan dari ibadah puasa.

Menurut Taufik (2017, Jurnal el-Ghiroh) dalam artikelnya yang berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan dalam Ibadah Puasa”, terdapat beberapa nilai-nilai positif yang terkandung dalam ibadah puasa, di antaranya mendidik kejujuran, mendidik kerja keras, mendidik untuk disiplin, mengajarkan kesabaran, mengajarkan rasa syukur. Puasa juga mendidik kesetaraan, puasa mendidik manusia agar selalu belajar dan menuntut ilmu, puasa mendidik rasa empati. Ini tentu selaras dengan esensi pendidikan karakter. Setidaknya dalam puasa ada tiga nilai pokok.

Pertama, adanya sikap kritis dan peduli terhadap lingkungan sosial sekitar.

Kedua, adanya pertautan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial (kelompok).

Ketiga, lahirnya jiwa keagamaan yang inovatif, kreatif dan efisien. Ketiga nilai puasa tersebut menjadi pedoman dalam implementasi pendidikan karakter.

Dalam paper lainnya disebutkan bahwa puasa sebagai pendidikan karakter, bisa dilihat juga dari enam pilar pelaksanaannya, yaitu dipercaya, jujur, saling menghormati, peduli sesama, bertanggung jawab, dan kewargaan secara sosial agama.

Nilai-nilai positif di atas tentu sejalan dengan tujuan diwajibkanya ibadah puasa, yakni menciptakan insan yang bertaqwa, sebagaimana firman Allah: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu puasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu, supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa”(QS. Al-Baqarah: 183).

Taqwa dalam pengertian yang umum yakni menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah.

Namun dalam konteks yang lebih luas, Yusuf al-Qaradhawi, menyatakan keharusan adanya kaitan antara amal ritual dan amal sosial dalam beragama.

Pada bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan frekuensi dan kualitas ibadahnya dengan memperbanyak membaca Al Quran, shalat qiyamul lail, dzikir dan berdoa serta ibadah lainnya dalam rangka hablum minallah.

Namun pada saat yang sama, juga dianjurkan untuk memperbanyak shadaqah, membantu fakir miskin serta menyantuni anak yatim sebagai bentuk hablum minannas.

Dengan kata lain, puasa juga memiliki dimensi garis horisontal yang kental dengan nuansa kehidupan sosial seperti berderma, menyantuni orang dhuafa, sabar dalam menerima cobaan.

Karena barometer kebajikan bagi Allah juga bersifat holistik, yang dapat menjiwainya dalam kehidupan sosial.

Melalui ibadah di Bulan Ramadan, pesan dan nilai yang sangat mulia yang tidak hanya terbatas pada pembentukan pribadi-pribadi yang shaleh namun juga membentuk pembangunan karakter (character building) sebuah umat, masyarakat, dan bangsa yang saleh dan kokoh.

Dari uraian di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa ibadah puasa, sebagaimana ibadah yang lainnya, memiliki pesan yang double dimensi yakni tidak hanya memperkuat hubungan vertikal namun juga hubungan horisontal.

Sebagaimana diuraikan di atas, ibadah puasa juga sarat dengan pesan etika kesalehan sosial yang sangat tinggi, seperti pengendalian diri, disiplin, kejujuran, kesabaran, solidaritas dan saling tolong-menolong.

Ini merupakan sebuah potret yang mengarah kepada eratnya keshalihan pribadi dengan keshalihan sosial.

Hal ini adalah sejalan dengan esensi pendidikan karakter yang merangkai berbagai platform, yakni sikap (attitudes), perilaku (behavior), motivasi (motivation) dan keterampilan (skills) yang pada akhirnya bermuara pada pembentukan karakter manusia yang mulia dan bermoral.

Substansi yang sama dengan tujuan ibadah puasa, yakni membentuk pribadi yang bertaqwa. Semoga bermanfaat. (*) 

Sumber: Tribun Batam
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved