BATAM TERKINI
MENGENAL Batik Khas Batam, Kental dengan Pernik Berbau Melayu
Batik ternyata tak hanya ada di Jawa saja. Di Batam, bahkan ada batik khas yang motifnya sangat kental dengan berbagai pernik berbau Melayu.
BATAM, TRIBUNBATAM.id - Batik selama ini cukup identik dengan kain tradisional dengan motif yang lekat dengan budaya Jawa.
Padahal, saat ini, batik tak hanya ada di Jawa saja.
Beberapa daerah lain juga memiliki motif batik khas yang tak kalah cantik dengan batik yang ditawarkan dati Jawa.
Satu di antaranya adalah Batik Batam.
Ya, Kota Batam dengan mayoritas suku Melayu ternyata memiliki motif batik khasnya sendiri.
Motif dan warna batik Batam biasa dihubungkan dengan kebudayaan dan lingkungan di Batam.
Seperti sirih susun, periuk kera, dan kantong semar.
Namun dari sisi Provinsi Kepulauan Riau, memang lebih dikenal dengan motif batik gonggong.
Menapaki belakang Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) terasa aroma lilin (malam) yang dipanaskan biasanya dipakai untuk membatik.
Tepat sebelah kiri menuju Kantin, ada sebuah ruangan dihiasi dengan kain putih polos maupun berwarna-warni dengan berbagai motif.
Terlihat Riza Hartini (39) sedang mencetak lilin (malam) ke sehelai kain putih polos yang sudah digeraikan di sebuah meja besar. Ternyata, ia sedang membatik.
Baca juga: 117 Kambing Qurban Mati di Perjalanan, Pedagang Batam Rugi Ratusan Juta Rupiah
Baca juga: STOK Sapi dan Kambing Terbatas, Banyak Warga Batam Terancam tak Bisa Berkurban
Karya yang pernah dibuat di antaranya, kain pantai motif khas Batam, baju, selendang dan tanjak.
Di ruangannya juga beberapa terpajang batik khas Batam.
Sembari mencetak motif di kain putih, Riza menuturkan teknik batik di Batam, ada 3 jenis.
Yakni batik tulis, batik cap dan batik abstrak. Untuk batik tulis, alatnya menggunakan canting dan membutuhkan waktu pengerjaan sekitar satu minggu.
Awal membuat teknik canting ini, kainnya digambar dan menentukan pola, dicanting kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan.
Sementara untuk batik cap, dirinya menentukan pola di kain, lalu di cap menggunakan tembaga. Batik Cap ini membutuhkan waktu pengerjaan awal hingga akhir sekitar tiga hari.
Ketiga batik abstrak, yakni batik kombinasi antara batik cap dan batik tulis. Proses pengerjaannya bisa memakan waktu selama satu minggu.
"Ketiga-tiganya kita buat di sini," ujar putri kedua dari pasangan Bacthiar Efendi dan Almarhum Mahaya ini, Senin (4/7/2022).
Bahkan wanita berkerudung ini juga pernah harus menyiapkan 120 selendang bermotif Melayu dan 30 kain untuk tanjak dalam kurun waktu seminggu di acara Indonesia Berpantun.
"Jumlahnya lumayan juga. Kainnya harus kami siapkan sehingga bisa dijahit lagi," kata Riza.
Harga batik Batam dijual dengan Rp 120 ribu untuk satu warna. Bahkan ada yang mencapai jutaan apabila memiliki jenis kain yang banyak warna dan jenis batik tulis.
Mengenai omset, Riza mengaku jumlahnya tidak selalu sama.
"Omsetnya gak tentu. Kalau lagi ramai, sekitar Rp 3 jutaan perbulan," katanya.
Bahan-bahan untuk membatik dibeli dari Pekalongan, Jawa. Namun, sementara waktu, bisa beli di bahan-bahannya di Koperasi Dekranasda Kota Batam.
Menariknya lagi, berbagai instansi Pemerintahan di Kota Batam juga pernah memesan seragam batik kepada Riza.
Satu di antaranya, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Batam, Dinas Pendapatan Daerah dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam.
"Kain pantai kita sampai ke Singapura sebelum Covid-19," katanya.
Pantauan Tribunbatam saat itu dirinya tengah membuat bakal kain untuk seragam batik kalangan Paskibra.
"Lagi buat bakal seragam resmi untuk paskibra. Dicelupkan cetakan ini ke dalam lilin, kemudian ditempelkan ke kain putih. Selanjutnya ditunggu beberapa saat sembari menunggu hasil cetakkan kering," ujar Wanita Pemilik Batik Batam Moleqie Berseri ini.
Setiap pagi, Warga Kecamatan Nongsa ini selalu pergi ke Gedung LAM. Tepatnya di Jalan Raja Isa, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.
Jarak dari rumah Riza menuju Gedung LAM sekitar 14 kilometer atau membutuhkan waktu perjalanan selama kurang lebih 20 menit.
Tak menggunakan kendaraan pribadi, Riza masih menggunakan Bus Trans Batam.
Kendati menggunakan transportasi umum, tak menyurutkan semangat Riza dalam membatik.
"Kalau pekerjaan rumah sudah selesai, anak-anak berangkat sekolah yang antar suami sekalian pergi kerja, barulah saya berangkat," tutur ibu 2 anak ini.
Sebagai ibu rumah tangga (IRT) tak sulit baginya membagi waktu antara membatik dengan pekerjaan rumah.
Menurutnya hal tersebut sudah sering dilakukan saat dirinya masih bekerja di perusahaan.
Dirinya mulai terjun di dunia batik pada 2016 silam.
Awalnya, Riza mengikuti pelatihan membatik tingkat Kelurahan, yang mengadakan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Batam.
"Mentornya waktu itu dari Jogja dan dibantu oleh Staf Disperindag. Kita diberikan selembar kain, lalu buat apa yang kita pikirkan saat itu. Jadi lebih ke batik abstrak," tutur wanita kelahiran Sei Jodoh, 21 April 1983 ini.
Selama 6 tahun menggeluti dunia batik, pasti memiliki suka dan duka. Menurut Riza sukanya bisa bertemu dengan pembatik hebat.
Terkadang, waktu dirinya traveling ke suatu wilayah, ia selalu mengutamakan untuk melihat batik-batik diwilayah setempat. Sementara dukanya, sulit membeli barang baku apabila stok di Batam sudah menipis.
"Kadang beda di warna pernah juga. Trus pernah juga sudah dibuat, lalu di cancel, kita disuruh buat ulang lagi," kata Riza sembari melipat kain batik yang akan dipajang.
Sehari-hari Riza lebih sering membatik sendirian.
Sebaliknya, apabila dirinya dibanjiri oleh orderan, ia selalu dibantu oleh sejumlah rekannya.
Kendati sering membatik sendirian, suasana diluar ruangan tersebut diriuhkan dengan sejumlah remaja yang sedang latihan drumband disore hari. Berbagai alunan alat musik membuat Riza tidak merasa kesepian dalam membatik.
Sebelum menggeluti dunia batik, Riza sempat bekerja sebagai Planner disebuah perusahaan asing di Kota Batam. Kemudian dirinya memutuskan untuk keluar dari perusahaan. Saat masih menduduki posisi planner, Riza sudah belajar menggambar, sehingga tak perlu waktu yang lama untuk penyesuaian dalam membatik.
"Ngebatik bakat terpendam kali," ujarnya sembari tertawa.
Anak kedua dari tiga bersaudara ini telah berhasil menjadi pengajar dalam berbagai pelatihan. Sebelum Covid-19 melanda, Riza kerap menerima kunjungan dari kalangan anak sekolah, lantaran di sekolah ada program pengenalan batik. Seperti misalnya SDS Kartini, SDS Basic, dan lainnya.
"Biasanya sekali datang itu 50 orang. Kalau untuk ibu-ibunya, kita pernah mengajar di AU," katanya.
Ia berharap batik Batam bisa eksis di daerah lainnya. Selama ini UMKM Batik hanya bisa di Batam, lantaran kalau dijual ke luar Wilayah Kota Batam dikenakan pajak. Sehingga mereka hanya menjualnya di Batam. (TRIBUNBATAM.id/Roma Uly Sianturi)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/batam/foto/bank/originals/04072022Pemilik-Batik-Batam-Moleqie-Berseri-Batam.jpg)