Breaking News:

BINTAN BANGKIT

Pemkab Bintan Ingatkan Aturan Larangan Potong Hewan Betina Produktif untuk Kurban

Pejabat Otoritas Veteriner di Bintan, Iwan Berri sebut pelarangan pemotongan sapi dan kambing betina produktif merujuk pada UU no.18 tahun 2009

Penulis: Alfandi Simamora | Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/Alfandi Simamora
Pejabat Otoritas Veteriner DKPP Kabupaten Bintan, drh Iwan Berri Prima jelaskan aturan larangan pemotongan hewan betina produktif untuk kurban 

BINTAN, TRIBUNBINTAN.com - Pemerintah Kabupaten Bintan mengingatkan masyarakat untuk tidak memotong hewan kurban sapi dan kambing betina produktif.

Pejabat Otoritas Veteriner, drh Iwan Berri Prima menuturkan, pelarangan pemotongan sapi dan kambing betina produktif ini merujuk Undang-Undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, khususnya pada pasal 18 ayat (2).

Bahwa ternak ruminansia betina produktif dilarang disembelih karena merupakan penghasil ternak yang baik.

"Kecuali untuk keperluan penelitian, pemuliaan atau untuk keperluan pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan," terangnya, baru-baru ini.

Lanjutnya, jika masyarakat ingin berkurban dengan hewan betina, pihaknya tidak melarang.

Asalkan sesuai dengan diagnosa yang dikeluarkan oleh dokter hewan. Nanti dokter hewan dinas akan menerbitkan surat boleh atau tidaknya pemotongan hewan kurban betina.

"Bagi masyarakat yang ingin berkurban sapi dan kambing betina silahkan ajukan permohonannya ke dinas. Nanti dokter hewan dari dinas akan turun memeriksa. Jika hewan itu tidak produktif, maka akan diberikan surat. Sehingga masyarakat berkurban aman, tidak tersandung aturan hukum," jelasnya.

Iwan Berri Prima juga menjelaskan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan untuk melakukan pemotongan hewan kurban betina.

Baca juga: MUSIM Durian di Bintan, Pedagang Bisa Jual 200 Kg Sehari, Cek Daftar Harganya

Baca juga: Cerita Damkar Bintan Ketika Ular Masuk Permukiman Warga, Perlu Latihan Khusus

Pertama yang dipertimbangkan kondisi hewan kurban betina berumur lebih dari 8 (delapan) tahun atau sudah beranak lebih dari 5 (lima) kali.

Berikutnya, tidak produktif dan dinyatakan oleh dokter hewan atau tenaga asisten kontrol teknik reproduksi, mengalami kecelakaan yang berat atau menderita cacat tubuh yang bersifat genetis, yang dapat menurun pada keturunananya, sehingga tidak baik untuk ternak bibit.

Halaman
12
Sumber: Tribun Batam
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved