Breaking News:

DISKOMINFO KEPRI

Inflasi Kepri Juli 2022 Tercatat 4,38 Persen, Jadi yang Terendah se Sumatera

Inflasi Kepri Juli 2022 berdasarkan data BPS termasuk yang terendah se-Sumatera. Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan TPID nyatakan komitmen tekan inflasi

Penulis: Endra Kaputra | Editor: Dewi Haryati
tribunbatam.id/istimewa
Gubernur Kepulauan Riau (Kepri), Ansar Ahmad sebut, terkait posisi inflasi Kepri terendah se-Sumatera, hal ini tak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan TPID Kepri mengendalikan inflasi 

TANJUNGPINANG, TRIBUNBATAM.id - Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kepulauan Riau (Kepri), inflasi Kepri tahun kalender Juli 2022 sebesar 4,38 persen atau terendah se-Sumatera.

Inflasi Kepri dari bulan ke bulan sebesar 0,61 persen Juli 2022, didominasi oleh kelompok harga adminitrasi.

Inflasi Kepri didorong kenaikan tarif angkutan udara, sejalan dengan kenaikan harga aftur, dan kenaikan harga rokok kretek filter.

Sementara itu, inflasi kelompok volatile food relatif mereda.

Didorong oleh deflasi pada minyak goreng dan perlambatan inflasi cabai merah dan bawang merah.

Inflasi kelompok inti utamanya bersumber dari peningkatan upah asisten rumah tangga, harga kopi bubuk dan sabun detergen.

Dari data BPS tersebut, Gubernur Kepri, Ansar Ahmad menegaskan komitmennya bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk terus melanjutkan upaya-upaya menekan inflasi.

Baca juga: Gedung Daerah Kepri Punya Sejarah, Jadi Bangunan Peninggalan Belanda yang Masih Eksis

"Tentunya dalam ranah yang sesuai kewenangan daerah untuk diintervensi. Karena bicara inflasi ada beberapa faktor yang tidak dapat diintervensi oleh daerah. Kita akan kerja maksimal mencari cara dan celah untuk menekan itu," ujar Ansar, Jumat (5/8/2022).

Mengenai posisi Kepri terendah se-Sumatera, Gubernur mengaku, hal tersebut tak terlepas dari upaya-upaya yang dilakukan TPID Kepri mengendalikan inflasi.

"Di antaranya operasi pasar murah oleh TPID Pemprov Kepri untuk komoditas buah, sayur dan sembako serta TPID Kota Batam untuk komoditas aneka cabai dan telur ayam," ujar Ansar.

"Kemudian mendorong kerja sama antar daerah (KAD) dalam menjaga kestabilan stok bahan makanan yang memiliki andil terhadap inflasi yang tinggi, serta meningkatkan kapasitas produksi lokal melalui penguatan kelembagaan nelayan/petani, perluasan dan implementasi teknik budidaya seperti Proliga, urban/integrated/digital farming," sambungnya. (Tribunbatam.id/endrakaputra)

Baca juga Berita Tribun Batam lainnya di Google

Sumber: Tribun Batam
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved