Breaking News:

China Alami Kekeringan Parah Dampak Gelombang Panas Ekstrem, 66 Sungai Kering

Petani di China mengungkap kekeringan akibat gelombang panas ekstrem merupakan yang terparah setelah sebelumnya pernah terjadi pada tahun 196o.

ist
Potret Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China. Dampak gelombang panas ekstrem di China mulai dirasakan petani di sana. Foto ilustrasi. 

CHINA, TRIBUNBATAM.id - Dampak gelombang panas ekstrem mulai terasa bagi petani di China.

Petani yang bermukim di sepanjang lembah Sungai Yangtze China di antaranya.

Gelombang panas ekstrem yang berlangsung lebih dari dua bulan, diakui petani veteran China, Chen Xiaohua berdampak pada kekeringan yang melanda tanamannya lebih dari 60 tahun lalu.

Chen yang telah berumur 68 tahun menyebut, jika kekeringan yang terjadi jauh lebih parah dibanding tahun 1960.

Ia berbicara dari sebidang tanahnya di desa Fuyuan, pinggiran pedesaan Chongqing di barat daya China.

Suhu di sana menurutnya bahkan lebih tinggi.

Sepetak tanah kecil Chen, yang terletak dekat dengan Sungai Yangtze dan anak sungainya, Longxi, biasanya mengandalkan air tawar dari aliran pegunungan.

Baca juga: China Bakal Hadapi Gelombang Panas Ekstrem, Terjadi Hingga 10 Hari

Tetapi hampir tidak mengalir sama sekali dalam beberapa hari terakhir, sehingga membuat tanaman utamanya termasuk ubi jalar kekurangan air.

"Dulu, di waktu ini, Agustus, daun ubi jalar tumbuh sangat lebat. Dari Agustus hingga September, ubi jalar biasanya tumbuh banyak," kata Chen dengan mengenakan topi bertepi lebar untuk melindungi dirinya dari terik matahari, dikutip dari Reuters pada Sabtu (20/8/2022).

Dengan irigasi dari pegunungan yang sekarang mengering, petani Chen mengaku tidak punya pilihan selain membawa ember ke dan dari kolam terdekat setiap pagi untuk mencoba menyelamatkan tanamannya, karena daun-daun dan batang-batangnya terus mati.

"Suhu sangat tinggi setiap hari. Kami harus bekerja di pagi hari. Sore hari kami tinggal di rumah saja. Kami takut keluar," sebutnya.

Sebanyak 66 sungai di 34 kabupaten di Chongqing mengering, kata stasiun tv CCTV pada Jumat (19/8/2022).

Data layanan cuaca menunjukkan sebuah distrik di wilayah itu menjadi yang terpanas di "Negeri Panda", mencapai 45 derajat Celsius suhunya.

Baca juga: BPBD Anambas Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Panas Hingga Air Pasang Ekstrem

Curah hujan di Chongqing tahun ini turun 60 persen dibandingkan rata-rata musiman, dan lahan pertanian di beberapa distrik sangat kekurangan kelembaban, kata CCTV mengutip data pemerintah setempat yang juga mengungkapkan bahwa tanaman di 10 kabupaten sangat kekurangan air.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved