Breaking News:

Rusia Jadikan Laporan Keuangan Rahasia Negara Sejak Menginvasi Ukraina

Wakil Ketua Pertama Bank Sentral, Dmitry Tulin mengungkap kondisi perbankan Rusia sejak negara itu menginvasi Ukraina sejak Februari 2022.

Photo by UKRAINIAN INTERIOR MINISTRY PRESS SERVICES / AFP via Tribunnews
Gambar selebaran yang dirilis di halaman Facebook Kementerian Dalam Negeri Ukraina pada 1 Maret 2022 menunjukkan asap setelah serangan rudal yang menargetkan pusat televisi ibukota Ukraina di Kyiv oleh Rusia. Wakil Ketua Pertama Bank Sentral mengungkap kondisi perbankan Rusia sejak menginvasi Ukraina. 

RUSIA, TRIBUNBATAM.id - Wakil Ketua Pertama Bank Sentral, Dmitry Tulin mengungkap pendapatan sektor perbankan Rusia setelah menginvasi Ukraina.

Rusia diketahui menjadikan laporan keuangan sebagai rahasian Negara yang dijaga ketat sejak negara itu mengivasi Ukraina.

Presiden Rusia, Vladimir Putin mengambil kebijakan itu untuk menghindari pengungkapan dari kerusaka ekonomi yang disebabkan oleh sanksi barat.

Tulin pada Jumat (2/9/2022) waktu setempat mengatakan, bank-bank negara itu telah kehilangan gabungan 1,5 triliun rubel ($24,86 miliar) dalam enam bulan pertama tahun 2022, dengan latar belakang invasi yang sedang berlangsung.

Bank-bank Rusia kehilangan $25 miliar pada paruh pertama tahun ini karena sanksi Ukraina menyebabkan mereka menjadi merah untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.

Baca juga: Jerman Terdampak Kebijakan Rusia Hentikan Pasokan Gas ke Eropa

Dmitry Tulin, Wakil Ketua Pertama Bank Sentral, mengungkapkan angka tersebut pada hari Jumat - pertama kali Rusia melakukannya sejak Februari.

Ini menjadi kerugian pertama yang dialami oleh industri perbankan Rusia sejak tujuh tahun lalu.

Kerugian tersebut dialami akibat sanksi ekonomi negara NATO dan Uni Eropa terhadap perekonomian negara Vladimir Putin tersebut.

Ada kemungkinan lebih dari 50 persen bahwa kerugian untuk tahun ini akan melebihi angka 1,5 triliun rubel dari periode pertama, tambahnya.

Kerugian perbankan terkonsentrasi di antara bank-bank terbesar Rusia.

Lembaga yang merugi mencatat kerugian gabungan 1,9 triliun rubel ($31,60 miliar), dibandingkan dengan pemberi pinjaman yang menguntungkan yang memperoleh gabungan 400 miliar rubel ($6,65 miliar) - digabungkan untuk membuat kerugian bersih 1,5 triliun Rubel.

Baca juga: Sus Rini Baru Minta Foto dengan Raffi Ahmad Setelah Rayyanza Berusia 9 Bulan

Kemudian menguat ke level terkuatnya dalam tujuh tahun di 50,01 per dolar pada bulan Juni.

Sejauh tahun ini, rubel telah menjadi mata uang dengan kinerja terbaik di dunia yang didukung oleh kontrol modal darurat yang diluncurkan oleh bank sentral dalam upaya untuk menghentikan aksi jual massal.

Ini membantu menghindari krisis ekonomi yang telah diprediksi banyak orang.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved