Breaking News:

Viral SPBU Vivo yang Jual Bensinnya Rp 8.900/Liter, Kementerian ESDM Buka Suara

Viral di Media Sosial SPBU Vivo yang menjual BBM nya dengan harga lebih murah dari Pertalite. Kementerian ESDM pun membeberkan alasannya.

Editor: Anne Maria
Tribunnews.com/ Fandi Permana
Situasi di SPBU Vivo yang berlokasi di Jalan Panjang, Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (4/9/2022). Tampak seorang polisi menjaga SPBU untuk mengantisipasi gangguan Kamtibmas. 

TRIBUNBATAM.id- Baru-baru ini viral dalam media sosial SPBU Vivo yang menjual Bahan Bakar Minyak (BBM) lebih murah dari Pertalite.

SPBU Vivo diketahui bukan milik dari Pertamina.

Baik di TikTok atau di media sosial lainnya seperti Instagram dan Facebook, ramai-ramai waganet menyarankan agar beralih untuk mengisi bahan bakar di SPBU Vivo tersebut.

Kementerian ESDM pun memberi penjelasan terkait mengapa SPBU Vivo dapat menjual BBM tersebut lebih murah dari Pertalite.

Padahal Pertalite yang notabene adalah BBM bersubsidi saja dijual dengan harga Rp 10.000/liter.

SPBU Vivo yang viral tersebut menjual BBM jenis termurah dengan harga Rp 8.900/liter atau lebih murah Rp 1.100 dibandingkan Pertalite.

Adapun untuk BBM jenis Revvo 89 dari Vivo, harga sebelumnya adalah Rp9.290 per liter, turun menjadi Rp8.900 per liter.

Baca juga: Tarif Baru Bus Antar Kota Setelah Harga BBM Bersubsidi Naik, Lengkap Rute Pulau Jawa hingga Sumatera

Baca juga: Ketua Komisi ll DPRD Kepri Minta Pemerintah Kepri Anggarkan BLT Subsidi BBM

Kemudian, Revvo 92 yang sebelumnya dijual Rp17.250 per liter menjadi Rp15.400 per liter. Lalu, untuk Revvo 95 menjadi Rp16.100 dari sebelumnya Rp18.250.

Mengetahui hal itu, Kementerian ESDM pun langsung meminta Vivo menaikkan harga bensin dagangannya tersebut.

Dirjen Migas Kementerian ESDM Tutuka Ariadji, menjelaskan, harga BBM Vivo yang turun disebabkan karena Vivo ingin menghabiskan stok BBM jenis Ron-89 mereka, yakni Revvo 89, hingga 2 bulan ke depan.

Dikutip dari Kompas.com, Jaringan SPBU Vivo berada di bawah bendera PT Vivo Energy Indonesia, perusahaan sektor hilir minyak dan gas bumi, yang resmi beroperasi di Indonesia sejak tahun 2017 lalu.

Awalnya perusahaan ini bernama PT Nusantara Energi Plant Indonesia (NEPI), namun kemudian berganti menjadi PT Vivo Energy Indonesia.

Meski namanya hampir serupa dengan merek ponsel asal China, secara kepemilikan, perusahaan penyalur BBM ini sejatinya masih terafiliasi dengan Vitol Group, raksasa minyak yang berbasis di Swiss.

Dikutip dari laman resminya, Vitol Group awalnya didirikan di Rotterdam pada 1966.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved